Secuil catatan ini dibuat sebagai apresiasi Pelaksanaan
Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB)
Universitas Flores 2026 di
tengah situasi cemas lepas gempa
Flores
mengguncang Nusa Flores, dan ketika
gempa susulan pun masih terus terjadi. Untukmu
semua bapak,
mama, para orang tua, dan sahabat
kenalan, kaum kerabat yang jiwanya masih terguncang akibat gempa, kami ucapkan terima kasih atas dukungan
dan kepercayaan kepada lembaga kami. Dalam kondisi in optima forma, kita berusaha bangkit. Doa terus kita bersama daraskan kepada Tuhan Du’a Ngga’e agar bencana ini cepat
berlalu, sehingga
kita pulih kembali menata hidup dengan leluasa.
Hari itu,
Sabtu mendebarkan, 15 Agustus 2026. Masih pagi sekali. Sebagian
awan stratus di langit kota Ende masih
bergelantung persis pada dua
lereng Gunung Meja dan Gunung Wongge yang memagari kota sejarah itu. Para penghuni kota
yang pernah menjadi kota pembuangan Bung Karno sedang meniti pagi dan menjaga
kebugaran tubuh di jalan-jalan kota. Anak sekolah dasar hingga sekolah
menengah atas dan
perguruan tinggi sedang
menyiapkan diri, berdandan, dan bergegas menuju Stadion Marilonga Ende untuk melaksanakan
lomba defile menyongsong ulang
tahun negara Republik Indonesia ke-81.
Sekonyong suasana lengang berubah. Gempa
bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores. Jalanan menjadi ramai, tumpah ruah untuk
menyelamatakan diri. Penghuni kota dan pelosok desa di Flores dipenuhi
kepanikan dan kecemasan. Teriakan
histeris dalam
bahasa Ende kami latu (kami ada)
terdengar di mana-mana. Bahkan spontanitas memukul
benda-benda di sekitar sekadar
memberi tanda bahwa di sini masih ada kami,
masih ada orang.
Masih ada
kehidupan. Sontak, lorong-lorong
dan jalanan menjadi penuh. Warga berbondong mencari tempat aman. Apalagi setelah guncangan
gempa utama pada Pukul 05.58 Wita yang menurut catatan observatorium berlangsung dengan
durasi berkisar 51
hingga 75 detik. Kepanikan kian membuncah saat diikuti dengan peringatan
tsunami dari
Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Buyar. Semua agenda pemerintahan dibatalkan untuk penyelamatan dan penanganan korban gempa. Dan, sejak itulah memasuki rumah apalagi aktivitas di dapur untuk keperluan perut pun harus dengan kewaspadaan. Dalam catatan BMKG, hingga hari ini telah terjadi 13.156 kali gempa susulan setelah gempa utama tanggal 15 Agustus 2026 dengan magnitude terbesar adalah 6,2 dan terkecil adalah 0,9 (Kompas.com, 7 September 2026). Dari polanya, Gempa Flores mulai mengalami peluruhan. Mudah-mudahan.
Pendidikan Jalan Merajut Kembali Asa
Pendidikan
secara
universal selalu
memiliki dimensi metafisik. Ia
terlihat sebagai sebuah
perjalanan panjang. Pasti
melelahkan, selain
membutuhkan waktu yang lama, tetapi memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pendidikan
juga sebagai
pintu yang mampu menyingkap masa depan
dengan terang. Sebagai
matahari dan investasi masa depan.
Para orang tua pun mampu banting tulang di antara puing-puing reruntuhan untuk
membiayai anak. Menyekolahkan sebuah
angkatan kepemimpinan masa depan.
Setelah
rumah-rumah hancur luluh lantah. Korban nyawa dan korban material berjatuhan.
Manusia Flores seakan jatuh
ke titik zero, titik paling nadir dalam siklus kehidupan
yang tak pernah luput pula dari arung cobaan yang silih berganti. Namun, satu hal
yang tidak perlu buat kita jatuh, yakni semangat untuk bangun kembali setelah jatuh. Hari ini kita
menanam harapan, esok lusa kita
menuai mimpi yang telah menjadi kenyataan. Itulah mengapa setelah nyawa dan material
remuk redam, orang tua kita, orang tua Flores tidak patah arang merajut asa, terus menanam obsesi, dan
harapan pada diri anak-anak untuk terus menggapai harapan dalam ranah pendidikan.
Dalam
perspektif pendidikan, keberadaan putra-putri Flores melanjutkan pendidikan adalah sebuah pernyataan
bahwa manusia memiliki daya untuk bangkit dari keadaan yang paling mengguncang
sekalipun. Kampus Universitas Flores tidak meminta kalian melupakan
apa yang telah terjadi. Biarlah
pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk keteguhan, empati,
dan kedewasaan sebagai insan akademik. Gempa bumi pernah mengguncang kenyamanan, namun
darinya kita belajar bahwa segala sesuatu yang
kuat dan kokoh sekalipun
dapat berubah seketika. Oleh
karena itu, bangkitlah dan berdiri tegap menatap masa depan.(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar