Halaman

Kamis, 24 September 2026

Merajut Asa Dari Puing-Puing Reruntuhan

 


Secuil catatan ini dibuat sebagai apresiasi Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Flores 2026 di tengah situasi cemas lepas gempa Flores mengguncang Nusa Flores, dan ketika gempa susulan pun masih terus terjadi. Untukmu semua bapak, mama, para orang tua, dan sahabat kenalan, kaum kerabat yang jiwanya masih terguncang akibat gempa, kami ucapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan kepada lembaga kami. Dalam kondisi in optima forma, kita berusaha bangkit. Doa terus kita bersama daraskan kepada Tuhan Du’a Ngga’e agar bencana ini cepat berlalu, sehingga kita pulih kembali menata hidup dengan leluasa.

Hari itu, Sabtu mendebarkan, 15 Agustus 2026. Masih pagi sekali. Sebagian awan stratus di langit kota Ende masih bergelantung persis pada dua lereng Gunung Meja dan Gunung Wongge yang memagari kota sejarah itu. Para penghuni kota yang pernah menjadi kota pembuangan Bung Karno sedang meniti pagi dan menjaga kebugaran tubuh di jalan-jalan kota. Anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan perguruan tinggi sedang menyiapkan diri, berdandan, dan bergegas menuju Stadion Marilonga Ende untuk melaksanakan lomba defile menyongsong ulang tahun negara Republik Indonesia ke-81.

Sekonyong suasana lengang berubah. Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores. Jalanan menjadi ramai, tumpah ruah untuk menyelamatakan diri. Penghuni kota dan pelosok desa di Flores dipenuhi kepanikan dan kecemasan. Teriakan histeris dalam bahasa Ende kami latu (kami ada) terdengar di mana-mana. Bahkan spontanitas memukul benda-benda di sekitar sekadar memberi tanda bahwa di sini masih ada kami, masih ada orang. Masih ada kehidupan. Sontak, lorong-lorong dan jalanan menjadi penuh. Warga berbondong mencari tempat aman. Apalagi setelah guncangan gempa utama pada Pukul 05.58 Wita yang menurut catatan observatorium berlangsung dengan durasi berkisar 51 hingga 75 detik. Kepanikan kian membuncah saat diikuti dengan peringatan tsunami dari Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Buyar. Semua agenda pemerintahan dibatalkan untuk penyelamatan dan penanganan korban gempa. Dan, sejak itulah memasuki rumah apalagi aktivitas di dapur untuk keperluan perut pun harus dengan kewaspadaan. Dalam catatan BMKG, hingga hari ini telah terjadi 13.156 kali gempa susulan setelah gempa utama tanggal 15 Agustus 2026 dengan magnitude terbesar adalah 6,2 dan terkecil adalah 0,9 (Kompas.com, 7 September 2026). Dari polanya, Gempa Flores mulai mengalami peluruhan. Mudah-mudahan.

Pendidikan Jalan Merajut Kembali Asa

Pendidikan secara universal selalu memiliki dimensi metafisik. Ia terlihat sebagai sebuah perjalanan panjang. Pasti melelahkan, selain membutuhkan waktu yang lama, tetapi memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pendidikan juga sebagai pintu yang mampu menyingkap masa depan dengan terang. Sebagai matahari dan investasi masa depan. Para orang tua pun mampu banting tulang di antara puing-puing reruntuhan untuk membiayai anak. Menyekolahkan sebuah angkatan kepemimpinan masa depan.

Setelah rumah-rumah hancur luluh lantah. Korban nyawa dan korban material berjatuhan. Manusia Flores seakan jatuh ke titik zero, titik paling nadir dalam siklus kehidupan yang tak pernah luput pula dari arung cobaan yang silih berganti. Namun, satu hal yang tidak perlu buat kita jatuh, yakni semangat untuk bangun kembali setelah jatuh. Hari ini kita menanam harapan, esok lusa kita menuai mimpi yang telah menjadi kenyataan. Itulah mengapa setelah nyawa dan material remuk redam, orang tua kita, orang tua Flores tidak patah arang merajut asa, terus menanam obsesi, dan harapan pada diri anak-anak untuk terus menggapai harapan dalam ranah pendidikan.

Dalam perspektif pendidikan, keberadaan putra-putri Flores melanjutkan pendidikan adalah sebuah pernyataan bahwa manusia memiliki daya untuk bangkit dari keadaan yang paling mengguncang sekalipun. Kampus Universitas Flores tidak meminta kalian melupakan apa yang telah terjadi. Biarlah pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk keteguhan, empati, dan kedewasaan sebagai insan akademik. Gempa bumi pernah mengguncang kenyamanan, namun darinya kita belajar bahwa segala sesuatu yang kuat dan kokoh sekalipun dapat berubah seketika. Oleh karena itu, bangkitlah dan berdiri tegap menatap masa depan.(*)

Senin, 17 Februari 2025

Rondy Weya Mahasiswa Asal Papua di Uniflor


Rondi, lengkapnya Rondi Weya, mahasiswa dari Propinsi Papua Pegunungan yang sedang melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores Ende. Dari pegunungan menempuh perjalanan jauh untuk tiba di Ende. Rondi tidak patah arang. Sudah dua semester dia jalani perkuliahan, dan dia menemukan kenyamanan untuk berada di kampus ini. Dia berjanji untuk menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.

"Saat liburan seperti ini saya dan teman-teman tidak pulang, kami di sini saja, hingga kuliah tuntas pada empat tahun yang akan datang", tutur Rondi saat ngobrol di depan gedung Prodi Pbsi Uniflor. Rondi dan beberapa temannya dari Papua melanjutkan kuliah di Universitas Flores Ende melalui jalur beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik). Selain Papua, jenis beasiswa ini diperuntukkan juga untuk mahasiswa dari daerah khusus 3T, dan anak-anak tenaga kerja Indonesia. Termasuk anak-anak difabel.

Adik-adik yang akan menyelesaikan SMA/SMK/MAN atau sederajat, silakan terus mengecek informasi pendaftaran beasiswa. Jika Anda termasuk kategori penerima beasiswa ADik, silakan mendaftarkan diri, dan Universitas Flores adalah salah satu universitas pilihan. (*)

Minggu, 16 Februari 2025

Kotbah Bahagia dari Bukit


Catatan hari Minggu, 16 Februari 2025. Kalender Liturgis Katolik, hari ini adalah hari Minggu Biasa yang ke-6. Selamat merayakan hari Minggu Biasa ke-6. Sambil menikmati Firman Tuhan tentang Sabda Bahagia dari Bukit. Sabda tentang Sukacita dan Belaskasihan. Sabda atau Kotbah Agung tentang ajakan menjadi manusia bahagia.

Dalam Kotbah Yesus tersebut, teringat akan sebuah novel yang ditulis sastrawan Indonesia Kuntowijaya [1943-2005] berjudul Khotbah Di Atas Bukit [1976]. Novel ini melukiskan kehidupan manusia modern yang serba materialistis dan pragmatis. Sebuah kritik dan awasan sastrawan kepada manusia agar terus berupaya untuk mengalahkan kecenderungan akan hal-hal demikian.

Dan, karya sastra menjadi salah satu jalan mengajak kita untuk mengalami hakikat hidup, kebahagiaan, dan misteri Tuhan atas kehidupan itu sendiri.

Menularnya sikap hedonis, pragmatis, materialistis merupakan sikap intant berlebihan atas harta kekayaan duniawi atau kekayaan matarialistis. Sikap ini, boleh saja sebab menjadi jalan, upaya dan bukti kerja keras manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup. Kebahagiaan duniawi sebagaimana  yang diidamkan oleh semua orang. Namun, jika sikap ini berlebihan, maka manusia yang satu merasa "lebih" dari manusia yang lain. Mengabaikan kehadiran sesama orang yang lain dalam komunitas bermasyarakat. Oleh karena itu, diperlukan sikap saling bersukacita bersama melalui kasih persaudaraan. Membagi kasih setia di antara sesama agar semua berbahagia dan bersukacita. (*)

Selasa, 10 Desember 2024

Drama Teka Iku


Sabtu, 09 Januari 2021 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Flores menyelenggarakan pentas drama cerita rakyat dari Kabupaten Sikka yang berjudul Teka Iku. Drama yang dipentaskan oleh
mahasiswa semester V bertempat di Anjungan PBSI Uniflor.

 “Saya memberi apresisasi yang setinggi- tingginya kepada mahasiswa semester V untuk perjuangan sampai pementasan. Banyak kendala dari proses latihan sampai pementasan, namun kuasa Tuhan dan leluhur acara ini berlangsung luar biasa. Beberapa hal positif yang diungkapkan oleh Kaprodi PBSI Dr. Drs. Yosef Demon Bataona, M.Hum., Pertama,  background yang sederhana namun akting dari masing-masing pemeran sangat luar biasa menjadikan panggunannyahidup, kedua, masing-masing pemeran menjiwai perannya, ketiga, busana daerah yang natural, keempat, tata musik dan lampusangat bagus, namun sedikit redup, yang membuat suasana sedikit gelap dengan latar kain hitam, tetapi semangat benar-benar luar biasa, dan kelima, peran sutradara sangat luar biasa dalam memadu berbagai karakter pemain menjadi utuh.

Teka Iku

Drama Teka Iku mengisahkan tentang rakyat kecil yang dijajah, diperas, dipaksa, dan diwajibkan membayar pajak kelapa tiap pohon empat buah tiap tiga bulan. Selama satu tahun 16 buah dan harus dihantar ke pesisir untuk ditanam, dirawat, demi kepentingan Ratu Negeri Belanda dan para raja/ratu tawa tana. Teka Iku muak atas perbuatan dan tingkah laku penjajah yang dijuluki Ata Bura Pikut Saan bersama para penjilat yang juga dikatakan anjing belang penjilat (ahu kela lea tai).

Pementasan drama yang dilakukan sangat bagus. Selama kurang lebih 2 bulan berlatih, mahasiswa mampu menampilkan pementasan yang meriah seperti ini. Apresiasi dari bapak/ ibu dosen pun luar biasa. Saya dapat melihat dan merasakannya ketika mereka sedang berlatih, kerja sama dan rasa kekeluargaan yang sangat erat itu terbangun, dari sutradara dan tim pemain atau pemeran. Pementasan drama dapat memberikan kontribusi nilai hidup terhadap mahasiswa dalam kehidupannya sehari- hari. Dalam ranah pembelajaran drama dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan kepandaian, misalnya dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, kesusastraan, bersifat permainan, memberikan pengertian baru, berlatih gerak, menyanyi, menyesuaikan kata dengan pikiran, rasa, kemauan dan mengajarkan adat sopan santun, demikan Ibu Encys, pengampu dan pendamping drama Teka Iku.  “Semoga kegiatan ini bisa dikemas lebih menarik untuk menjadi nilai jual prodi ke depan”, harap Eta Larasati, dosen PBSI Ende