Halaman

Tampilkan postingan dengan label Lembata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lembata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Februari 2024

Pasar Barter Wulandoni Lembata


Pasar (bahasa Lamaholot: wule(n)) tidak semata diterjemahkan sebagai media sekaligus ruang transaksi ekonomi modern menggunakan uang. Di Lembata, hampir semua pasar tradisional, termasuk di Wulandoni, selatan Lembata, pasar barter telah menjadi sarana strategis pewarisan nilai-nilai kolektif. Pasar barter menjadi media menganyam ikatan persaudaraan yang hari-hari ini seakan telah tergerus oleh hegemoni pasar modern.

Di pasar barter inilah orang berkumpul tidak saja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi konsumtif, melainkan menghadirkan ruang-ruang diskusi dalam kearifan "tutu koda"-"tutu maring" demi lebih dekat memahami identitas dan jati diri kultural.

Dalam kerangka memandang pasar tidak sekadar sebagai transaksi uang inilah, ekonom Paul Samuelson membenarkan bahwa pasar (ekonomi) adalah pertukaran transaksi dengan atau tanpa menggunakan uang. Dengan itu, pasar lebih sebagai perjumpaan manusia kiwan-watan (gunung-pesisir). Tukar-menukar barang dengan barang dalam bahasa Lamaholot disebut duru-op, gelu gore atau gelu-geneka dan dalam bahasa Kedang disebut kelung lodong.

Barter bisa berbentuk barang dengan barang maupun barang dengan jasa. Misalnya, ikan kering satu ekor dapat ditukar dengan jagung 5-10 tongkol atau tuak 1 botol. Tukang batu atau kayu mengerjakan 1 rumah permanen dapat dibayar dengan 2 ekor babi besar, atau 1  batang gading atau bisa juga dengan 5 buah gelang gading. 

Lebih dari itu, barter di Wulandoni mengajarkan praktik filosofis tutur kata, tegur sapa antara sesama elemen sebagai perwujudan toleransi antarsesama. Karena itulah, pasar barter telah msnjadi pusat perjumpaan masyarakat tradisional yang memiliki nilai-nilai filosofis yang tinggi.(*)

Senin, 25 September 2023

Semi Final ETMC 2022: Persebata vs Perserond Rote Ndao


Sore nanti, Minggu, 25 September 2022, publik sepak bola NTT akan menyaksikan laga bergengsi dan emosional dua tim debutan Persebata Lembata dengan Perserond Rote Ndao di lapangan kebanggaan masyarakat Lembata, Gelora 99. Persebata melaju ke babak semi final setelah memulangkan Persami Maumere melalui drama adu pinalti. Perserond Rote Ndao pun demikian. Mereka lolos setelah bermain imbang dengan PSKK dalam waktu normal, sehingga ditentukan melalui tendangan dua belas pas. 

Artinya, bisa saja pertandingan sore nanti berakhir draw dan akhirnya ditentukan melalui adu pinalti di titik putih. Jika demikian, maka penjaga gawang kedua tim akan menjadi ujian ketangkasan untuk menahan atau menepis tendangan para penendang atau eksekutor. Sambil berharap agar ada di antara penendang gagal memasukkan bola, entah itu membentur mistar dan tiang gawang ataupun melenceng jauh.

Kedua tim pernah berhadapan di babak penyisihan dan Persebata menang dengan skor tipis 2-1. Persebata selalu kebobolan terlebih dahulu. Ini berbahaya. Barisan pertahanan yang rapuh membuat tim lawan bebas leluasa menggempur pertahanan. Kerumunan di depan gawang sangat mungkin tercipta peluang bagi lawan untuk menceploskan bola di awal pertandingan. Persebata baru pelan-pelan bangkit, itupun pada masa-masa krusial. Namun, bertanding di depan publik sendiri tentu menjadi modal bagi kemenangan tim ruan rumah.

Perserond Rote Ndao piawai memainkan bahkan menguasai lapangan tengah. Suplai bola selalu memanfaatkan lebar lapangan melalui dua pemain sayap yang sangat lincah dan gesit. Terutama pemain sayap kanan. Jika tidak ingin kecolongan dimenit-menit awal, maka Persebata patut mengawal pemain-pemain kunci tersebut. Umpan terobosan dari sayap lapangan bisa membawa malapetaka. Tak disangkal beberapa pemain kunci Perserond adalah anak-anak Lamaholot yang gaya dan karakter bermain menjanjikan. Dan, mereka pasti termotivasi untuk tampil prima dan sportif.

Laga Emosional

Laga ini adalah laga emosional. Dua tim yang baru pertama kali tembus di babak semi final sepanjang keikutsertaan mereka dalam ajang ETMC. Tim yang memenangkan pertandingan sore ini akan mengantongi satu tiket ke babak final. Kita berharap agar kedua tim menampilkan pertandingan yang menghibur jagat sepak bola di daerah ini. Penonton pun musti tertib menjunjung tinggi sportivitas. Mudah-mudahan penonton tidak tersulut emosi akibat pelanggaran-pelanggaran di dalam lapangan. Itulah pertandingan, kalah dan menang adalah hal yang biasa. Selamat berhari minggu untuk para suporter. (*)

Kamis, 24 Februari 2022

Terima Kasih


(1)

Setiap kita, siapa saja ketika menerima sesuatu dari orang lain, entah kenal maupun tidak pasti kita mengucapkan terima kasih. Sebaliknya, jika kita melakukan atau memberi sesuatu kepada orang lain, kita pun akan mendapat ucapan yang sama, terima kasih. Terima kasih merupakan ungkapan kejujuran dan rasa dari dalam diri yang nilainya paling mahal karena tidak bisa ditakar dengan bentuk lain. 

Kali ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada adik Robyy Watowai. Dia alumni PBSI Uniflor tahun 2015. Setelah lulus, Roby mencari peruntungannya ke propinsi kaya raya Papua. Di sana dia menjalani profesi sebagai wartawan di koran Timika Expres. Selepas itu, dia bekerja di koran Radar Timika (Jawa Pos Grup) di bagian desain grafis (lay out dan ilustrasi). Bekal jurnalistik cuma didapat dibangku kuliah dalam mata kuliah pilihan rumpun jurnalistik, yang waktu itu cuma 1 jam. Berbagai pertimbangan, termasuk umpan balik dari alumni tentang respek bidang ini cukup besar di lapangan, maka mata kuliah-mata kuliah rumpun jurnalistik sekarang sudah menjadi 3 jam.

Sekarang Roby sudah kembali ke Ende, Flores, tanah kelahirannya. Berbekal pengalaman yang diperoleh di bidang media, alumni berdarah Adonara Flores Timur ini mulai menekuni dunia lukis. Dunia ini dipelajari secara otodidak. Kegiatan ini dilakukan mengisi waktu luang usai menjalani tugas di bidang desain grafis sebuah koran online di kota Ende. Di bawah ini salah satu lukisannya.  Terima kasih Roby, alumni sekaligus anak bimbingan tugas akhir yang tak kenal menyerah (*)

(2)

Bertemu lagi dengan Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum di Prodi PBSI Universitas Flores, setelah tahun 2015, Pak Yapi ke Uniflor mengikuti Temu Sastrawan NTT 2. Saat itu PBSI Uniflor menjadi penyelenggaranya. Setelah berdiskusi dengan para dosen, beliau menyempatkan waktunya untuk berbincang dengan para mahasiswa tentang sastra siber. Menurut Yapi, jika dikelola dengan baik media sastra jenis ini dapat memberikan efek positif yang luar biasa, asal mahasiswa sungguh-sungguh mau mengakrabinya dengan baik. 

Pada kesempatan tersebut, Pak Yapi menyerahkan buku "Lembata Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya." Buku yang diluncurkan di Lewoleba Lembata, pada 12 Oktober 2022 bertepatan dengan ulang tahun Kabupaten Lembata ke-23. Terima kasih berlimpah kepada penulis bukuk ini, seorang penulis dan jurnalis senior, Bapak Thomas Ataladjar.

Jumat, 29 Desember 2017

Wajah Indonesiaku: Wajah Kita Semua



Wajah dapat diartikan sebagai roman muka atau muka. Semua orang memiliki wajah dan tentu sangat berharap agar wajah tersebut memancarkan sesuatu yang baik. Diksi wajah ini dipilih untuk melengkapi diksi Indonesia sebagai judul antologi cerpen siswa SMA Flores Lembata. Wajah yang secara khusus menyentuh dan melekat kuat pada kedirian seseorang digunakan dalam konteks ini untuk mengungkap sesuatu yang lebih luas menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya, setidak-tidaknya wajah sebuah Indonesia dapat ditemukan dalam antologi cerpen ini. Pemakaian diksi Indonesia saja dalam konteks ini, telah memunculkan rasa bangga tentang sebuah nama juga tempat yang spesial di hati kita semua anak bangsa. Sebuah nama yang memang secara empiris sangat multikultural, multilingual, dan pluralistis dengan ruang geografis pulau Nusantara, dan lingkungan sosiokultural yang unik dan spesifik. Sangat menakjubkan dunia sejagat.
Wajah Indonesiaku menjadi lengkap apabila dipandang dari dua sisi yang berbeda, sebagaimana eksistensi kehidupan manusia itu sendiri yang dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian. Pilihan Wajah Indonesiaku juga masih dalam semangat yang sama yakni ingin menampilkan sisi lain kehidupan sebuah Indonesia. Sebuah wajah yang dahulunya cantik dan ayu, sekarang tampak bopeng, karut marut, tercabik-cabik, penuh dengan konflik horizontal. Dari pusat sampai ke daerah, bahkan menusuk hingga ke kampung-kampung. Inilah sebuah realitas kekinian yang sedang menimpa wajah Indonesia. Wajah lain yang dimaksudkan tertuang dalam antologi cerpen siswa SMA Flores Lembata. Letupan emosi dan ekspresi penghayatan juga pengalaman kekinian mereka tentang kehidupan sesungguhnya. Bagaimana mereka berusaha menghayati dan mencipta dengan sungguh realitas sekitar. Mereka telah berusaha melihat dengan mata telanjang dan mengangkat sesuatu yang terlewatkan oleh kebanyakan orang. Mereka juga telah memposisikan diri sebagai produsen dalam mengangkat dan menggarap sesuatu tidak pada tempatnya untuk dipasarkan ke tengah masyarakat. Mereka telah menjadi lentera kehidupan yang selalu menyalakan kandil di tengah kegelapan.
Bagi saya letupan perasaan para siswa SMA Flores Lembata yang tertuang dalam karya sastra cerpen ini menjadi semacam renungan profetis. Renungan-renungan ikhlas tentang serangkaian kehidupan coba ditebar ke tengah publik. Tentunya berangkat pada kebeningan nurani dan kejernihan hati yang utuh dan bulat tentang realitas di sekitarnya. Dengan demikian, sastra menjadi media interaksi sosial masyarakat. Menjadi cermin meneropong diri dan kelompok sosial yang lebih besar. Sastra juga menjadi media belajar bersama tentang hidup nan kompleks. Sastra menjadi “bahasa penghubung” tentang kehidupan material dan spiritual, di samping menghidangkan berbagai menu pemupuk dan penggembur kehidupan masyarakat secara universal. Renungan-renungan dimaksud telah menghadirkan sebuah interaksi sosial dan menjadi proses saling memengaruhi di antara dua orang atau lebih dalam bentuk relasi, komunikasi, daan kontak sosial. Karya sastra dapat pula merupakan jalan tengah menuju keseimbangan yang dinamis antara dorongan batin dengan dorongan masyarakat, obsesi dan persuasi.
Namun, karya sastra sebagai teks hanyalah jejak (trace), bekas telapak kaki, di dalamnya pembaca harus menemukan manusianya, demikian ungkap Derrida. Jejak bukanlah makna itu sendiri, jejak hanyalah mediasi antara kehadiran dan ketidakhadiran, antara yang tertinggal dengan yang harus dicari. Pembacalah yang harus mencarinya, bukan penulis. Di sanalah eksistensi pengarang ditemukan sebagai subjek kreator, yakni kesadaran dan ketidaksadaran. Aspek yang tertulis adalah kesadaran, dan aspek yang tidak tertulis adalah ketidaksadaran, ibarat metafora gunung es, yang menjadi aspek yang jauh lebih luas, dalam dan beragam. Dengan kata lain, unsur-unsur di luar bahasalah yang lebih kaya yang dapat dilipatgandakan sehingga menghasilkan sebuah analisis dan pemahaman yang komperhensif jauh melampaui karya yang dihasilkan oleh pengarang. Ini dilandasi oleh pemikiran bahwa sastra bukan merupakan sebuah ilmu pasti yang sekali baca langsung dipahami, namun sastra merupakan karya interpretatif yang menyajikan sekian banyak kemungkinan penyelesaian persoalan dalam kehidupan bermasyarakat. Dan, tuangan karya interpretatif dalam antologi ini merupakan wujud kepedulian para siswa kita yang adalah bagian dari anggota masyarakat terhadap sesama dan menjadi sarana interaksi sastra untuk membangun masyarakat ke arah yang lebih baik.
Kehadiran antologi ini sekaligus disertai dengan sebuah harapan yang sama bahwa akan lahir lagi karya-karya sastra yang lain dari anak-anak bangsa, terutama anak-anak Flores Lembata. Mudah-mudahan antologi ini dapat memberikan sesuatu yang lain dalam kehidupan para pembaca. *
Selamat membaca!







[1] “Wajah Indonesia, Wajah Kita Semua” dalam Antologi Cerpen Siswa SMA Flores Lembata. (Yohanes Sehandi, dkk. Ed). Yogyakarta: Penerbit dan Percetakan Aditya Media Yogyakarta. ISBN: 978-602-7957-41-1
[2] Pengasuh mata kuliah Sosiolinguistik pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Flores

Rabu, 08 November 2017

Lembata (sebuah catatan dan harapan)



Lembata termasuk gugusan Kepulauan Solor, yang terletak di bagian timur Provinsi NTT. Beberapa waktu lampau orang mengenal Lomblen atau Kawela, tetapi sejak kapan nama Lembata dipakai untuk menggantikan Lomblen tidak jelas. Alm. Profesor Goris Keraf, Guru Besar Linguistik menyatakan bahwa nama Lembata itu dicari nama-nama seperti Lambote, Lambaka, Lamlere, dll. Mencari-cari nama Lembata, terdapat sebuah nama yang mirip dengan Lembata, muncullah “Lombatte”, dalam catatan harian penjelajah dunia Laksamana Schouten, mengenai pelayarannya di antara pulau-pulau Lembata, Solor, dan Adonara (Schouten’s Voyage + 1672 Langs Lomblemm/Lombatte). Dr. F.C.Heinen dalam sebuah menuskrip yang diketik berjudul “Het Rijk Van Larantuka Op het Eiland Flores 1876”, menyebut sebuah pulau bernama Lomblen atau Kawela, yang terletak berhadapan dengan Selat Solor (Pater Alex Beding, DIAN, Nomor 42 Edisi, 24–30 Oktober 1999).
Lembata. Kabupaten Lembata, terbentuk seturut UU No. 32/1999 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah.  Disahkan dalam rapat Paripurna DPR di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto Jakarta, Kamis 16 September 1999. Lembata terbentuk sebagai daerah otonom, tanggal 16 September 1999, setelah 45 tahun berjuang, diawali dengan ‘Statement 7 Maret 1954’, di Hadakewa, yang diprakarsai oleh Petrus Gute Betekeneng. Saat ini jumlah penduduk sekitar 123.141 jiwa, dengan laki-laki sebanyak 57.909 jiwa, dan 65.232 jiwa. Dalam peta, Pulau Lembata terletak antara 8 – 8 ---30” LS dan 123 – 15’ ----124” BT dengan luas wilayah 1.266.48 km2, yakni luas daratan 1.266.390 km2 (27.41%), dan luas lautan 3.353.895 km2 (72.59%) dengan garis pantai 492.80 km2 (BPS Lembata, 2009). Ini artinya, laut Lembata memiliki pesona dashyat untuk dieksplorasi, tidak 1000 patung di bawah laut juga lapangan bola kaki di kawah gunung berapi Ile Ape (FP, 10/1/2015).  Kecenderungan pada laut ini sangat masuk akal karena Lembata adalah kabupaten yang berada di antara laut: timur dengan Selat Alor, barat dengan Selat Boleng dan Lamakera, utara dengan Laut Flores, dan selatan dengan Laut Sawu. Boleh jadi, strategi yang dikemas adalah menjadikan keunikan perairan Lamalera dengan ritus penangkapan ikan Paus nan tradisional itu sebagai pilot project pariwisata air (laut), di samping beberapa pesona laut yang menakjubkan, misalnya wisata di Pantai Bean, air terjun Lodowawo di Atawuwur, pantai pasir putih di Mingar, dan kekhasan lain di laut yang menjanjikan.

Lembata: sebuah Harapan
Apakah Lembata (Kawela) sudah ambruk? Seorang teman setelah mengikuti berita dan perkembangan di Lembata melalui media massa mengirimkan pesan singkat begini. “Teman, masa ko Lembata yang kecil ana itu urus berkelai terus. Kalo demikian, kapan bangunnya”? Sebagai teman, pesan ini merupakan sebuah gurauan. Ada nada tanya. Juga menandai sebuah kekecewaan, keprihatinan, kegalauan. Yang pasti, ada simpati. Lebur dalam nuansa empati atas kondisi (kisruh?) di Lembata. Menyimak pemberitaan dan informasi hari-hari ini, pertanyaan di atas sangat relevan untuk menguji segenap pemangku kepentingan di kabupaten kepulauan ini. Secara terang dan kasat mata, kita akan menjumpai terjadinya kekisruhan-kekisruhan tersebut. Sebut saja: kisruh antara Bupati dengan DPRD; Kisruh bupati dengan pedagang Pasar Pada; ketidakharmonisan relasi antara Bupati dengan Wabupnya; kisruh antara pedagang Pasar Pada dengan Satpol PP; kisruh antara pedagang Pasar Pada dengan Pasar TPI, dan berbagai macam hal lainnya. Secara jujur kisruh-kisruh di atas tentu sangat mengganggu. Sebuah tanya yang relevan untuk diungkapkan di sini. Dan, tesis dasar catatan ini adalah Lembata yang kecil itu harus diurus dengan baik dan telaten, tanpa baku hantam, seturut pesan moral Statement 7 Maret 1954 di Hadakewa Lembata. Hemat saya, keprihatinan  di atas, juga dirasakan semua orang Lembata yang berada di luar kabupaten pulau ini.
Pertama, sudah 16 tahun (1999-2015) Lembata menjadi daerah otonom, namun begitu banyak kantor/instansi pemerintah daerah yang masih mengontrak rumah penduduk. Bayangkan saja, sudah tiga periode kepemimpinan, ternyata belum menampakkan geliat dan niat baik untuk membangun Lewotana Lembata. Belum lagi, keluhan masyarakat tentang jalan-jalan kota Lewoleba yang masih belepotan dan berkubang di saat musim hujan. Kota Lewoleba Ibukota Lembata, pintu depan kabupaten ini seakan berubah menjadi ‘penjual debu’ di musim kemarau. Penerangan penduduk yang (akankah senantiasa?) menggunakan lampu pelita. Sekian PLTD yang mati suri. Menyala semalam, padam seminggu. Sungguh merisaukan warga masyarakat. Padahal hemat saya masyarakat akan merasa bahagia dan sejahtera apabila tiga kebutuhan dasar standard terpenuhi, yakni jalan, listrik, dan air minum. Atas masalah ini pertanyaannya adalah sampai kapan kantor-kantor itu dibangun, jalan-jalan diperbaiki, dan jaringan-jaringan listrik diperluas untuk memudahkan aktivitas dan membuka akses pembangunan agar Lembata yang kecil ana ini dapat menikmati hasil-hasil pembangunan secara lebih baik? Belum lagi, kasus-kasus manipulasi, makan uang (korupsi) begitu permisif di seputaran Lembata. Praktik ini semakin subur dengan berbagai cara dan rekayasa. Yang satu menyeret yang lain. Semuanya terlibat, tercebur dalam kolam hitam merugikan orang lain.
Kedua, pulau ini akhirnya menampakkan wajah lain menjadi pulau sirkus merebaknya berbagai macam kekerasan, kemaksiatan. Beberapa tragedi pembunuhan sadis dengan cara kekerasan di Lembata menunjukkan bahwa kita sedang beranjak menuju pada pilihan ini. Parahnya lagi, kasus-kasus itu ditengarai melibatkan elite politik di lembata. Di lain pihak, kasus-kasus kemaksiatan, kos-kosan sudah berubah fungsi menjadi tempat-tempat mesum. Parahnya, korbannya adalah anak-anak sekolah di kota Lewoleba. Aksi maksiat ini dipicu oleh menjamurnya tempat hiburan malam, pergaulan bebas, sehingga mempengaruhi meningkatnya kasus HIV/Aids dari 130 kasus di tahun 2013 menjadi 172 kasus di tahun 2014, (PK, 24/2/2015). 
Peristiwa pengepungan rumah jabatan (Rujab) bupati Lembata oleh para pedagang Pasar Pada pada Selasa, 21 April 2015 menunjukkan “keambrukan” sekaligus kejatuhan pemimpin di Lembata. Bupati Yance Sunur yang adalah simbol negara dilecehkan oleh rakyat yang memilih dia. “Bupati Lembata itu plin-plan. Apakah kami bukan masyarakatnya, sehingga dia tidak mau bertemu dan memperhatikan kami? Kau jadi bupati itu karena kami rakyat kecil ini” (FP, 21 April 2015). Itulah puncak kekesalan, kekecewaan rakyat menyaksikan pemimpinnya yang jauh dari rakyatnya. Pemimpin yang pilih-pilih kasih, lebih pro dengan pedagang di TPI (FP, 21 April 2015). Ulah lain, peristiwa penyiraman air ikan kepada Satpol PP Lembata oleh pedagang di Pasar Kota menambah runyam daftar ketidakmampuan alat dan abdi negara dalam menjalankan tugasnya. Genaplah kalau ibu-ibu mengeluh tentang Satpol PP yang tidak memiliki nurani. Bahkan, hanya demi kewibawaan mereka, ikan jualan yang sudah dibeli pembeli pun dikembalikan. Terlebih, umpatan, makian, cacian, teriakan adalah klimaks ketidakpercayaan rakyat atas sebuah kepemimpinan. Begitu permisif kita menyaksikan sebuah “keruntuhan kewibawaan” seorang bupati dan aparatusnya di depan rakyatnya sendiri. Wallah ma! Memprihatinkan.  Benarlah kata anggota DPRD bahwa Lembata sekarang tidak memiliki Bupati.
Ketiga, berbagai kisah getir keprihatinan, kekecewaan, sebagai orang berbudaya kita berharap agar kisruh Bupati dan para anggota DPRD di Lewotana mudah-mudahan segera berakhir agar rencana-rencana kecil maupun rencana-rencana besar untuk pembangunan di Lembata dapat terwujud dengan baik. Ada kebijaksanaan: narak–grian fekim (sayang badan) dari penutur Lamaholot Imulolong boleh jadi menjadi nasihat bagi dua lembagai elite politik di Lembata ini. Artinya, rakyat dan segala persoalan, serta kebutuhan hidupnya sangat ditentukan oleh lembaga-lembaga ini. Lalu, kalau keduanya hanya sibuk mengurus diri dan baku hantam, baku lapor terus-terusan, kapan waktunya berpikir dan bertindak untuk kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat Lembata?  Yang paling aktual di hari-hari ini adalah terkatung-katungnya pembahasan APBD tahun 2016, tegal Bupati tetap pada sikap untuk tidak mau menandatangani kebijakan umum (KU) dan prioritas plafon anggaran sementara (PPAS) tahun 2016 bersama pimpinan DPRD Lembata dalam Sidang Paripurna yang sudah dijadwalkan berulangkali oleh Badan Musyawarah (Banmus) DPRD (FP, 9/9/2015). Lalu, siapakah yang sedang berseteru dengan Bupati? Rakyat Lembata yang telah mendudukkan dia di kursi nomor satu Kabupaten Lembata? Ataukah, rakyat Lembata yang direpresentasi oleh satu saja kumpulan rakyat yang mendiami gedung DPRD Lembata. Secara teoretis, betul bahwa DPRD adalah representasi rakyat, namun dalam begitu banyak hal ternyata menampakkan bahwa DPRD tidak mencerminkan diri sebagai representasi rakyatnya. Sehingga, masih ada begitu banyak rakyat Lembata yang hidup susah di kampung-kampung yang butuh kesejahteraan. Dan, APBD adalah salah satu jalan menuju kesejahteraan itu. Sangat tidak beralasan ketika Bupati memilih sikap untuk tidak menandatangani KU dan PPAS. Untuk rakyat yang telah memilih, Bapak Bupati mesti legowo, datang bertemu dengan DPRD demi kumpulan masyarakat Lembata yang lebih banyak.
Hemat saya, sederhana saja. Ruang komunikasi perlu dibangun secara lebih intensif dan serius untuk hal-hal yang lebih bermartabat. Bukan saling lapor-melapor. Dengan demikian, masing-masing pihak perlu menyingkirkan keegoan pribadi, kesenangan semata dalam memuaskan napsu serakah instan dan pragmatis. Masyarakat Lembata sangat butuh keseriusan pemimpin yang tidak gemar bermimpi, melainkan pemimpin yang sehari-hari bersama rakyat: menangkap kerinduan-kerindua rakyat, merumusakan dengan cermat masalah itu, dan mencari jalan keluarnya. Bukan terus menumpuk masalah di atas bahu-bahu rakyat yang kian susah. Mari berkaca pada kethulusan para fundator 7 Maret 1954. Mereka adalah pejuang-pejuang ikhlas tanpa celah yang bersedia mengorbankan tenaga, waktu, biaya, dan pikirannya untuk sebuah Lembata kecil. Mungkinkah para pemimpin dan pemangku kepentingan di Lembata sekarang bisa sedikit saja berjuang agar Lembata yang diidam-idamkan oleh para pendahulu itu bisa terwujud?  Minimal keluar dari keresahan-keresahan yang terus melilit kehidupan rakyat.
Akhirnya, Lembata melejit dan terkenal secara luas karena di sana ada wisata bahari tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional. Persepsi kebanyakan orang tentang Lembata dikarenakan wisata bahari ini. Namun, ternyata juga keramahan, kesantunan masyarakatnya melalui kekhasan-kekhasan dan sejumlah keanekaan budaya yang mengagumkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi orang luar untuk menuju ke Lembata. Atau, kita sudah lupakan? (*)




Opini ini dimuat di HU Flores Pos, 21 September 2015