Halaman

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan nilai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan nilai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 November 2017

Pendidikan Nilai Menjadi Prioritas Pembangunan


Pasti kita sudah gerah. Berbagai kisah getir kekerasan yang terkuak secara masif akhir-akhir ini telah turut menggetarkan nadi setiap kita sebagai sebuah bangsa. Kita pun telah kenyang dengan asupan dan makanan berita buruk yang terus-menerus kita santap dan merecoki semangat dan gairah hidup. Nurani kemanusiaan kita pun terus bersarang rasa duka nestapa. Film-film tentang bencana, juga skenario-skenario mimpi buruk yang diluncurkan oleh para pemikir prestisius dengan jelas mengabsahkan bahwa masyarakat sekarang ini tidak dapat diarahkan ke suatu masa depan karena memang tidak ada masa depan. Bagi mereka bumi sedang berlarian dan tinggal beberapa menit lagi kita diarak menuju sebuah kengerian akan perubahan besar yang paling akhir.
Beragam nada kesal juga amarah meluap-luap masyarakat saat  menyaksikan kisah-kisah kebrutalan yang tiada henti mendera bangsa ini. Seakan tidak mampu berbuat apa-apa. Seperti berada pada satu titik nadir: aforisme bangsa ini gemah santun, namun penghuninya pars pro toto banal dan kanibal. Kalau kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat ini memandu hidup kita, mengapa justru sekarang merajalela masalah kritis, genting, dan sangat membahayakan kehidupan berbangsa? Berbagai pertanyaan pun mengusik tajam. Mengapa kehidupan kita terus dipenuhi fundamentalisme, radikalisme, terorisme, sadisme, kekerasan, ketimpangan kemakmuran, dan berbagai bentuk penindasan yang tampak menafikan peran ilmu pengetahuan dan teknologi? Mengapa paranormal, peramal, ahli nujum, penghipnotis, dukun, “dunia lelembut”, iming-iming sulapan, dan sejenisnya makin hari justru makin marak, naik daun, popular menguasai hidup sekalian kita, sampai-sampai mengalahkan agamawan juga ilmuwan? Mengapa kehidupan kita makin saling curiga, saling membenci,  saling berpandangan negatif, saling tidak memercayai, saling tuduh, saling menohok kawan seiring yang adalah mencerminkan hati dan jiwa kita?
Mengapa egosentrisme, egoisme, narsisme, hedonisme, premanisme, erotisme, tipu-muslihat, amoralitas kian hari kian mengendalikan hidup kita dan membuat kita pusing? Mengapa stress, stroke, disorientasi, kehampaan hidup makin meroket, sehingga makin laris pula para ahli terapi jiwa atau pemandu rohani, bahkan penyembuh badan menawarkan jasa dan budi baik untuk mengatasinya? Mengapa gosip, rumor, kasak-kusuk, omong kosong dan berita burung semakin naik daun mewarnai hidup kita, di samping tayangan infotainment alias gosip gombal dan kabar angin selalu menempati rating tertinggi media massa elektronik yang semuanya menggambarkan tidak berfungsinya hati nurani atau jiwa kita?
Pendek kata, mengapa hal-hal yang disebutkan di atas semakin meroyak kehidupan kita? Jangan-jangan akal pikiran kita telah tersesat atau menyimpang dari jalan sebenarnya: bukannya mendukung, melainkan malah menelikung kebebasan dan kelangsungan hidup rekan dan hidup manusia? Jangan-jangan akal pikiran, pengetahuan, dan hati nurani kita sudah “mati suri” sehingga dikuasai dan dikendalikan oleh hasrat, nafsu, dan mimpi-mimpi semata?
Inikah sebuah peradaban baru yang senantiasa memberi manusia gaya-gaya baru, cara-cara baru untuk bekerja, mencintai, dan hidup makin berubah, sebuah ekonomi baru, konflik-konflik politik baru, dan yang terpenting sebuah kesadaran yang juga berubah. Tanpa disadari kita sedang terikat dalam suatu rekayasa, sebuah peradaban baru yang luarbiasa, melompat dari dasar ke atas yang oleh Alvin Tofler dalam Future Shock (1970) disebut lompatan kuantum ke depan.
Menurut mereka umat manusia (kita) tengah menghadapi sebuah lompatan kuantum ke depan dalam tiga gelombang besar. Gelombang Pertama disebutnya sebagai gelombang perubahan, secara khusus bangkitnya revolusi pertanian. Sebagian besar manusia hidup dan membentuk diri dalam kelompok-kelompok kecil, berpindah-pindah, dan mencari makanan dengan cara berburu, mengembara, meramu, memancing. Revolusi ini mengandaikan bahwa semua orang tanpa membedakan asal, bahasa, agama, suku bangsa, mesti menancapkan akarnya di bumi. Bahkan, hingga kini tidak sedikit orang pun mati dalam perjuangan keras di atas tanah, namun tidak menghasilkan apa-apa. Itulah kehidupan nenek moyang kita dahulu. Hingga paling terakhir pun, pejuang-pejuang kemanusiaan di bidang pertanian rela meregang nyawa demi membela kebenaran dan keadilan. Revolusi pertanian ini mulai bergerak kendati lambat ke seluruh penjuru planet dan merambah masuk ke desa-desa, pemukiman-pemukiman, areal cocok tanam, dan menjadi sebuah pandangan hidup baru.
Belum selesai pergerakan revolusi Gelombang Pertama, kira-kira akhir abad ke-17 pecah revolusi industri di Eropa, ketika banyak negara yang masih mencari format dan model pertanian yang baku pertanian, bahkan banyak pula yang hingga kini masih berbasis pertanian. Proses baru ini dimulai dan sekaligus dinilai bergerak lebih cepat ke semua penjuru bangsa dan benua. Dua revolusi tengah menggulung bumi, walaupun dengan kecepatan yang berbeda. Petanda bangkitnya peradaban industri di mana terjadilah pembangunan pabrik-pabrik baja, berdirinya perusahan-perusahan otomobil, pabrik-pabrik tekstil dan makanan, rel kereta api, yang begitu terasa di belahan dunia, terutama Eropa dan Amerika Utara merespons kehadiran Gelombang Kedua ini.
Kehidupan fundamental manusia dan bangsa mulai berubah seiring munculnya berbagai penemuan ilmu pengetahuan di Eropa. Kaum Nwetonian muncul dengan pemanfaatan mesin uap di bidang ekonomi dan pabrik-pabrik. Gagasan-gagasan baru mulai dimunculkan: tentang kemajuan, hak-hak individu, pemimpin hendaknya dipilih atas kehendak rakyat, bukan hak ilahiah. Pokoknya, perubahan yang sangat cepat sedang terjadi dalam setiap dimensi kehidupan masyarakat. Dimulailah pengenalan komputer, perjalanan jet komersial, pil KB, inovasi-inovasi yang berdampak besar.
Gelombang Ketiga, muncul dengan ledakan yang eksplosif. Lahir berbagai pandangan hidup baru yang asli berdasarkan sumber-sumber energi yang beragam yang pengaplikasiannya menyandarkan diri pada metode dan pendekatan-pendekatan mutakhir berbasis ilmu pengetahuan canggih melalui penguatan berbagai lembaga formal. Kepesatan informasi dengan berbagai rekayasa teknologi yang masif inilah melahirkan apa yang disebut “persinggahan elektronik” (electronic cottage).  Jagat ini lebur dalam dunia tanpa sekat, hasil kemajuan teknologi ke dalam sebuah kampung besar yang oleh Mcluhan disebut “kampung global”  (Muslich, 2009: 11). Arena besar, lapang tempat semua orang dari berbagai kampung (dunia) saling berinteraksi, bersosialisasi, berasosiasi, bertransaksi, berdialog, dan lain sebagainya. Kita pun diajak untuk lebur dalam arena lapang itu asal tetap teguh pada prinsip dan ajaran “kampung asal”, yakni ajaran-ajaran adiluhung dari budaya lokal yang dipandang penting untuk menjaga dan mengatur perilaku, tindak tanduk selama berada di dalam kampung besar tersebut.
Sekali lagi kita perlu mewaspadai ‘gelombang depan’ (wavefront) sebagai tindak antisipatif berbagai inovasi dan terobosan-terobosan pesat yang semakin menggeliat. Teknologi informasi intensif yang sedang tumbuh begitu cepat sekarang ini dengan konsentrasi pada teknologi tinggi (high-tect). Sangat terang benderang kita saksikan fakta ini. Belum cukup waktu untuk proses internalisasi sejumlah nilai pengetahuan yang akarnya dari nilai-nilai budaya lokal, kita malah diterpa berbagai kemajuan teknologi pada saat yang bersamaan. Daya tahan diri diuji oleh kepesatan media. Jadilah kita bangsa konsumtif. Bangsa yang menjadi tempat tumpah ruahnya berbagai produk legal maupun ilegal. Bangsa yang menjadi tempat eksperimen berbagai tindak teror. Bangsa tempat eksploitasi sumber daya (alam dan manusia). Bangsa yang saban hari menjadi eksperimen berbagai hasil teknologi.
Jika demikian, maka langkah efektif yang segera dilakukan adalah merevitalisasi berbagai ajaran, prinsip hidup berlandaskan ketahanan budaya melalui berbagai lembaga, seperti lembaga keluarga, lembaga formal, institusi pemerintah, kelompok-kelompok sosial kemasyarakatan, lembaga spiritual, paguyuban, dan lembaga-lembaga yang peduli akan perkembangan generasi bangsa ini. Semuanya bahu-membahu memerangi berbagai bentuk kekerasan ini. Dan, satu hal ini juga menjadi perhatian bersama.
Pancasila
                Gagasan cemerlang Ir. Soekarno dalam Pancasila sebagai dasar negara adalah hasil yang digali dari bumi dan kebudayaan suku-suku bangsa sendiri harus dilakukan secara terus-menerus dan dengan sungguh-sungguh. Secara aksiologis, jika tidak, seluruh nilai dan penjiwaannya akan luntur dan kita pun akan kehilangan jati diri, kehilangan kemandirian sehingga mudah diombang-ambingkan oleh paradigma asing yang kini mendasari tata kehidupan global (Djawanai, 2014: 258 –261).
Jajak Pendapat “Kompas” (30/5), menegaskan sangat terang bahwa Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah bersifat final (95,8%). Masyarakat Indonesia mendambakan “penularan” kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai Pancasila perlu diajarkan kembali di sekolah-sekolah (99,2%). Artinya, Pancasila telah menjadi “obat penawar” atas berbagai persoalan bangsa. Pendidikan Pancasila di semua jenjang formal disimplifikasi menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan membawa konsekuensi makin ditinggalkannya pemahaman normatif tentang Pancasila. Selain itu, nilai-nilai Pancasila seperti saling menghormati, musyawarah, gotong royong, solidaritas, kerukunan dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari semakin dipinggirkan. Jadi, Pancasila dan seluruh nilainya dapat dikembalikan dan menjadi dasar pembenihan, penanaman, dan pengembangan berbagai nilai pembelajaran formal untuk kehidupan masa depan para peserta didik di kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, adalah suatu komitmen bersama untuk menjadikan bangsa ini bebas dari segala kekerasan. Tentunya, generasi muda menjadi prioritas. Sebab mereka adalah pemegang estafet masa depan bangsa. Kalau pendidikan nilai dan proses internalisasi tidak mendapat skala prioritas dalam pembangunan ke depan, maka bukan tidak mungkin kita akan menghadapi badai beruntun yang tanpa disadari akan menggoyahkan bangsa ini. (*)




[1] Artikel ini dimuat dalam HU Flores Pos, 14 Juni 2016

Senin, 06 November 2017

Pendidikan Nilai untuk Generasi Muda




Menyimak beberapa kasus belakangan seperti yang diberitakan lewat berbagai surat khabar antara lain, pemerkosaan anak di bawah umur, perkelahian antargeng, tawuran antarpelajar, pembunuhan secara sadis orang yang tak bersalah, dan sebagainya, menggugat nurani kita untuk bertanya: di manakah nilai seorang manusia itu? Sambil terhadap kenyataan dalam nuansa demikian, siapakah yang patut bertanggungjawab? Orang tua, guru atau lingkungan (masyarakat)?
Pertanyaan di atas sebetulnya merupakan aphoria klasik yang didengungkan dari zaman ke zaman. Namun, mengapa tak pernah hilang terbawa angin zaman adalah tantangan berat buat komponen-komponen terkait untuk menjawabnya. Kalau ditilik secara cermat, memang terdapat celah dalam lmgkaran tersebut yang memungkinkan untuk saling tarik-menarik dan melempar kesalahan antarkomponen pendidikan. Tentunya argumen yang dikedepankan tidak terlepas dari tempat terjadinya suatu peristiwa. Dalam arti, apakah kejadian itu berlangsung di keluarga, sekolah atau masyarakat.
Tulisan sederhana ini lebih menukik pada bagaimana sebuah pendidikan nilai, yakni sesuatu yang diyakini, dipegang sebagai sesuatu yang berharga untuk acuan hidup itu dikemas dan dipaketkan kepada kaum muda. Tentu saja harus dilakukan oleh institusi-institusi di atas.
Terdapat asumsi yang keliru yang berkembang di kalangan masyarakat bahwa tugas mendidik sepenuhnya adalah tanggung jawab guru. Tugas itu selesai ketika mereka (orang tua) telah menghantar putra-putri mereka masuk ke lembaga pendidikan formal. Gejala ini termanifestasi lewat berbagai tindak kejahatan yang disinyalir dilakukan oleh generasi muda. Terhadap klaim-klaim yang disinyalir tersebut, bukan berarti keluarga dituduh sebagai biang kehancuran, tetapi hendaknya menjadi feed back yang tepat untuk melihat keberhasilan pendidikan nilai yang ditanam dalam keluarga. Sejauh mana pendidikan nilai itu telah memberikan sesuatu bagi kehidupan dan perkembangan kaum muda. Keluarga merupakan basis pendidikan nilai bagi generasi muda, sehingga keluarga sedapatnya memberikan nilai-nilai atau ajaran yang dapat dianut dan diteladani oleh anak-anak. Keluarga harus mampu memberikan rasa aman dan bahagia kepada anak. Berlaku yang demokratis sangat diharapkan agar dapat menciptakan suasana yang akrab dan menyejukkan.
Sebaliknya, anak (generasi muda) akan merasa tertekan kalau mereka dipaksakan menelan terlalu banyak ajaran atau nilai yang baik. Permasalahannya bahwa, ketika mereka belum punya waktu mengunyah ajaran sebelumnya, sudah diberikan hal yang baru, sehingga generasi itu merasa jengkel dan acuh tak acuh. Akibatnya, nilai dan ajaran yang ditelan tak satupun yang dicerna dan dilaksanakan. Tanpa pemberian waktu dan ruang yang cukup untuk meresapi nilai dan ajaran kepada anak akan berdampak pada hal-hal yang tidak baik. Akan terjadi kepura-puraan, apatis dan sering memprotes. Dengan demikian, tanpa disadari bahwa keluarga cenderung menghargai “hasil” dari pada sebuah “proses”. Mungkin tokoh cerita Sysiphus dalam The Myth Of Sysiphus karya Albert Camus, dapat menjadi landasan untuk memberikan penghargaan kepada dua kondisi di atas.
Bagaimana seorang, Sysiphus dihukum oleh para dewa untuk menggulingkan batu karang besar ke atas puncak bukit. Akhirnya, Sysiphus sendiri sadar bahwa pekerjaan yang sedang dilakonnya adalah sia-sia, tetapi ada satu hal bahwa kesetiaannya akan pekerjaan tersebut menunjukkan ia menghargai proses bukan hasil.
Dunia pendidikan juga tampak sebagai sebuah benang kusut yang sangat mempengaruhi orang muda. Kurikulum yang bersifat sentralistik, tidak mempertimbangkan kondisi sosiokultural suatu wilayah merupakan kendala yang perlu mendapat perhatian secara serius. Fenomena yang menganggap pendidikan adalah sebuah proses transfer pengetahuan, merupakan bentuk pemahaman yang keliru. Akibatnya, anak hanya dijejali dengan aspek-aspek kognitif semata. Tujuannya, agar anak dapat mengetahui sebanyak-banyaknya ilmu atau pengetahuan, tanpa memperhitungkan nilai-nilai kehidupan. Demikianlah, tanpa disadari bahwa lembaga pendidikan sedang mencetak generasi muda yang kaya ilmu tetapi buta hati. Menghasilkan generasi yang gagap menghadapi realitas. Akan cenderung brutal terhadap sesuatu karena mudah terpengaruh tanpa pertimbangan yang matang.
Meletakkan pendidikan nilai pada aspek kognitif  yang berujung pada momen pemberian angka dalam rapor siswa. Pendidikan nilai hanya diukur dengan angka, sehingga siswa sekedar berusaha untuk memenuhi atau mengejar target naik kelas dan tidak boleh mendapat angka merah. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa pendidikan nilai telah hilang arah dari sasaran, karena cenderung kepada angka-angka matematis, ketimbang waktu dan ruang yang cukup untuk membathinkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran sebagai motivasi hidup.
Belum cukup di sana lingkungan yang kurang bersahabat turut memperparah pengendapan nilai yang sedang dikunyah generasi muda. Menjamurnya tempat-tempat hiburan, penayangan berbagai adegan kejam lagi panas lewat televisi dan laser disc, merupakan contoh kasus yang tak pelak lagi di dengar.
Terhadap realitas yang kian mengkhawatirkan generasi muda ini tentunya langkah-langkah bijak perlu ditempuh untuk meminimalisir segala kerusuhan dan tindak kejahatan yang diduga telah tumpulnya pendikan nilai bagi generasi tersebut.
Beberapa hal sebagai pembinaan ini, antara lain: pertama, perlu melakukan otokritik akan kekurangan-kekurangan yang ada dalam lembaga-lembaga di atas dan berusaha menjalin mitra dalam menentukan suatu model pendidikan nilai yang lebih baik dan relevan dengan perkembangan yang akan datang. Kedua, memberikan waktu dan ruang yang cukup bagi generasi muda untuk membathinkan nilai-nilai dan ajaran yang telah diberikan. Tanpa harus memaksa untuk lebih cepat mengaktualisasikan nilai dan ajaran tersebut karena hal ini butuh suatu proses yang panjang. Ketiga, membiarkan generasi muda untuk belajar sendiri nilai-nilai sambil membimbing agar generasi ini tidak berlaku pura-pura dalam bertindak. Keempat, mengaktifkan kembali tradisi lisan kita, yaitu “mendongeng”. Khususnya kepada anak usia sekolah, karena kita tahu bahwa kesusastraan lisan atau suci-rohaniah ini dapat menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti untuk dapat membedakan yang baik dari yang jahat.
Dengan demikian, adalah suatu komitmen bersama untuk menjadikan bangsa ini bebas dari segala kerusuhan dan kekecauan. Tentunya, generasi muda menjadi prioritas. Sebab mereka adalah pemegang estafet masa depan bangsa. Kalau pendidikan nilai tidak mendapat skala pnoritas dalam pendidikan ke depan, maka bukan tidak mungkin cita-cita di atas tetap menjadi sebuah utopia belaka.*




[1] Artikel ini pernah dimuat pada HU Flores Pos, 14 Desember 2000