Halaman

Tampilkan postingan dengan label warisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label warisan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Maret 2023

Menulis Budaya dan Bahasa Warisan Masa Lampau

 


Pemerolehan bahasa secara universal, sebagaimana juga terjadi pada berbagai bahasa di dunia, sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor budaya. Segala ciptaan pengetahuan seseorang dapat juga dimiliki oleh orang lain dan dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya. Pergeseran dan pemertahanan bahasa adalah dua gejala kebahasaan yang saling terkait. Kedua gejala kebahasaan ini juga tidak bisa terlepas dari gejala persaingan bahasa. Bahasa dikatakan mengalami pergeseran ketika masyarakat mulai meninggalkan bahasa tradisionalnya (bahasa daerah atau bahasa ibu). Akibat lanjut dari pergeseran bahasa adalah terpinggirkannya suatau bahasa dan termuliakannya bahasa yang lain. 

Apabila bahasa yang terpinggirakan itu benar-benar ditinggalkan para penuturnya, bahasa itu dianggap bahasa yang terancam punah. Pemertahanan bahasa perlu dilakukan agar bahasa daerah yang terancam punah tersebut hidup dan dituturkan kembali oleh masyarakat pemakainya. Bahasa sangat erat hubungannya dengan komunikasi. Masyarakat Indonesia yang pada umumnya adalah masyarakat pemakai dua bahasa (bahasa ibu (daerah) dan bahasa indonesia), mempunyai kemungkinan besar dapat menciptakan konflik kebahasaan.

Setiap insan tentunya memiliki budaya yang merupakan warisan leluhur yang selalu melekat dan  tetap dijaga hingga saat ini. Budaya mengajarkan  kita untuk patuh dan taat  dapat dijadikan sebagai pola hidup pada tradisi yang telah diwariskan. Budaya yang telah diwariskan akan bertumbuh, dan berkembang  dalam jiwa dan sanubari setiap insan di bumi pertiwi ini.  Selain itu,  dapat memberikan energi untuk menanamkan nilai dan etos kerja sebagai pilihan perdana dan keutamaan dalam konsep hidup.

Kelayakan hidup sebagai manusia demi nilai, dan demi harga diri sebagai manusia, patut ditulis kembali dengan berbasiskan data warisan masa lalu yang tersimpan dalam kemasan bahasa-bahasa lokal. Ini tugas kita semua, tanpa kecuali. Hidup yang sedang kita jalani ini sesungguhnya sesuatu yang nyata, sarat makna, dan nilai. Jadi, khazanah budaya, nilai, dan falsafah kita sekaligus yang menjadi idiologi etnik dan komunitas patut digali dan ditulis kembali dengan bahasa (lokal) baru, dan ditanamkan kembali pula kepada kaum muda melalui berbagai bentuk pengajaran, kendati transformasi sosial budaya telah menawarkan wujud kerja yang sudah berubah. 

Mahasiswa sebagai intelektual muda wajib memiliki, memahami, dan menguasai,  pengetahuan tentang budayanya. Itu bukan berarti kita abai untuk menguasai pengetahuan orang lain atau dunia luar. Namun, kita perlu memiliki basis juga landasan tentang identitas kita secara lebih utuh. Jika demikian, maka masing-masing berusaha untuk merawat    tradisi budayanya, termasuk bahasa daerahnya dengan baik agar tidak tergerus oleh arus perkembangan zaman dan teknologi yang kian pesat.

Budaya dan ekologi atau lingkungan merupakan satu kesatuan ekosisitem yang tidak dapat dipisahkan karena bertautan dengan prinsip-prinsip relasi pada jenjang yang lebih tinggi dan lebih luhur lagi. Menjaga dan merawat keharmonisan hidup dengan Tuhan Allah yang kita sembah, sesama manusia, dengan lingkungan alam tempat kita berpijak, serta  berdamai dengan alam  adalah guru natural, bahkan juga dengan segala sesuatu yang tidak kasat indera, adalah keniscayaan yang paling dalam. Banyak prinsip kehidupan yang terkandung dalam budaya dan dalam kemasan bahasa-bahasa lokal yang perlu digali dan dikaji. Sebab, bahasa daerah telah mengajarkan banyak hal, antara lain tentang moral, etika, logika, kesetiakawanan, solidaritas, yang musti dijaga dan diwariskan terus-menerus keppeada generasi yang akan dating. (*)

Kamis, 24 Februari 2022

Bahasa-bahasa Lokal: Warisan Nilai dan Strategi Pelestariannya


    Kamis, 10 Desember 2020, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Flores, Ende menyelenggarakan Webinar Nasional bertema "Bahasa-bahasa Lokal: Warisan Nilai dan Strategi Pelestariannya". Tema ini aktual dan selalu relevan dalam setiap perbincangan, jika kita hendak menelisik keberadaan kita sebagai individu dan anggota komunitas atau masyarakat. 

    Jika kita semua lebih sedikit tenang dan sabar merunut dan merenungi perjalanan peradaban kita, maka kita sepakat bahwa "bahasa-bahasa lokal" merupakan bagian sejarah intelektual, bahkan telah menjadi artefak dari pikiran manusia. Hanya manusialah yang mampu menciptakan artefak untuk ditinggalkan kepada generasi muda melalui khazanah budaya, bahasa, dan sastra. Dengan demikian, artefak tidak sekadar benda, melainkan hasil pikiran manusia.

Sebagai masyarakat yang multietnik sekaligus multilingual, kita diharapkan untuk menggembur dan menyuburkan kembali eksistensi bahasa-bahasa lokal yang menjadi identitas kultural. Sebab, di dalamnya mengandung kekayaan nilai dan fungsi-fungsi simbolik yang menjadi modal sosial masyarakat penuturnya. Dengan begitu, kita dan generasi masa depan tetap kokoh, serta tidak akan mengalami ketercerabutan akar lokal yang berdampak pada kegoyahan jati diri di tngkat lokal maupun nasional. Alasan historis dan kultural tersebutlah menjadi daya dorong dan rasionalisasi, mengapa panitya memilih "Bahasa-bahasa Lokal" sebagai tema Webinar Nasional. 

Saat kegiatan, para peserta Webinar Nasional berterima kasih karena bisa bertemu dan berdiskusi dengan para expert dalam bidang budaya, bahasa, dan sastra. Antara lain, (1) Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum., dari Undana Kupang, (2) Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum., (3) Prof. Dr. Aron Meko Mbete daru Universitas Warmadewa Bali, (4) Dr. Simon Sira Padji , M.A., dari Universitas Flores, (5) Stefen Danerek, P.Hd, peneliti dari Lund University Swedia, (6) Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A., dan (7) Dr. Willem Burung, seorang peneliti bahasa-bahasa Trans-New Guinea di Papua.

Terima kasih untuk semua peserta Webinar yang telah mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Program Studi PBSI Universitas Flores tetap punya komitmen untuk melestarikan budaya, bahasa, dan sastra lokal seirama dengan visi Uniflor menjadi Mediator Budaya. (*)