Halaman

Tampilkan postingan dengan label Taufik Ismail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taufik Ismail. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2022

Membaca Tanda-Tanda karya Taufik Ismail

 


Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas

dari tangan

dan meluncur lewat sela-sela jari kita

 Ada sesuatu yang mulanya

tak begitu jelas

tapi kini kita mulai merasakannya

 Kita saksikan udara

abu-abu warnanya

Kita saksikan air danau

yang semakin surut jadinya

Burung-burung kecil

tak lagi berkicau pagi hari

 

Hutan                         kehilangan ranting

Ranting           kehilangan daun

Daun               kehilangan dahan

Dahan                         kehilangan hutan

 

Kita saksikan zat asam

didesak asam arang

dan karbon dioksid itu

menggilas paru-paru

 Kita saksikan

Gunung          membawa abu

Abu                 membawa batu

Batu                membawa lindu

Lindu              membawa longsor

Longsor           membawa air

Air                   membawa banjir

Banjir

air

mata

 Kita telah saksikan seribu tanda-tanda

Bisakah kita membaca tanda-tanda?

 

Allah

Kami telah membaca gempa

Kami telah disapu banjir

Kami telah dihalau api dan hama

Kami telah dihujani abu dan batu

 

Allah

Ampuni dosa-dosa kami

 

Beri kami kearifan membaca tanda-tanda

 Karena ada sesuatu yang rasanya

mulai lepas dari tangan

akan meluncur lewat sela-sela jari


Karena ada sesuatu yang mulanya

tak begitu jelas

tapi kini kami

mulai

merindukannya

 

 Beberapa catatan apresiasi:

Ø  Puisi ini sebetulnya menggambarkan sebuah keprihatinan alam dan para pelakunya. Dengan demikian, ada kobaran harapan, kecintaan, serta upaya untuk melestarikan alam yang adalah sumber segala hidup di bumi dan dunia.

Ø  Kita bisa begitu gampang menyaksikan polusi dan sampah berserakan di mana-mana. Inilah keserakahan manusia terhadap alam.

Ø  Mungkinkah masih tumbuh sikap dan perilaku untuk memelihara alam yang indah, agar tetap awet dan lestari.

Ø  Puisi  ini juga menggambarkan adanya perubahan pola perilaku, pikiran, dan sikap terhadap alam. Perubahan-perubahan dimaksud memprlihatkan kerusakan alam di mana-mana.  Aktivitas pertambangan, penebangan, anomali cuaca, adalah contoh nyata betapa kita mulai resah dengan perubahan pola perilaku dan gaya hidup modern.

Ø  Puisi ini juga menggambarkan latar belakang kehidupan seorang Taufik Ismail yang adalah seorang sarjan kehewanan, namun memiliki keberpihakan yang amat sangat tinggi, dalam, dan sempurna akan proses pelestarian hutan.

   Tugas:

Carilah informasi latar belakang kehidupan Taufik Ismail sehingga dia menciptakan puisi ini. Bandingkan dengan puisi ”Kupu-kupu Dalam Buku”, karya Taufik Ismail.

Kamis, 24 Februari 2022

Dengan Puisi Aku (Nora Nua Go)

Saya mendapat kesempatan menerjemahkan puisi "Dengan Puisi, Aku", karya Taufik Ismail ke dalam bahasa Lamaholot (2015). Dengan penguasaan bahasa pertama saya bahasa Lamaholot, judul puisi tersebut saya terjemahkan menjadi "Nora Nua, Go". Penerjemahan puisi Taufik Ismail ini dalam rangka merayakan usianya yang ke-80. Hasil terjemahannya dibukukan dalam buku "Dengan Puisi, Aku 1 Puisi, 80 Bahasa, 80 Tahun". 

80 bahasa dimaksud terdiri atas 58 bahasa dunia dan 22 bahasa daerah. Bahasa Tamil, Yunani, Ibrani, Esparanto, Persia, Katalan, Jepang, Serbia, Burma, dan Filipino adalah beberapa bahasa di antara 58 bahasa dunia. Selain bahasa Jawa, Minangkabau, Toraja yang tersebar di Indonesia, terdapat 6 bahasa di Flores dalam buku tersebut,  antara lain, bahasa Manggarai, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka, dan Lamaholot.

Buku yang diterbitkan oleh Majalah Sastra HORISON, dengan prakata oleh Prof. Victor A. Pogadaev dari FBL, University Malaya. Dalam prakata berjudul "Taufik Ismail: Penyambung Lidah Orang Miskin dan Tertindas", Prof. Victor menyebut Taufik Ismail sebagai penyair tersohor Indonesia. Seluruh bakat, upaya, dan dayanya diserahkan untuk melawan totalitarisme. Taufik Ismail sebagai penyambung lidah orang miskin dan tertindas, pembela kebebasan individu dan kebebasan kreatif. Setiap kekuasaan adalah kekerasan. Olehnya, kewajiban seorang penyair sebagai warga negara adalah membuat kekuasaan itu lebih berperi-kemanusiaan dan memaksanya meringankan penderitaan rakyat. 

Taufik Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di daerah Pekalongan Jawa. Dia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Kecenderungan membaca tersebut diwariskan dalam puisinya "Kupu-kupu di dalam Buku". 

Taufik Ismail juga disebut Prof. Victor sebagai maitre, pemimpin Angkatan 66 yang diakui, yang patut diteladani oleh semua sastrawan generasi muda.

Selamat ulang tahun sastrawan Indonesia Taufik Ismail, sastrawan yang pernah menulis puisi tentang keindahan padang safana Sumba dengan judul Beri Daku Sumba (2014).

Bagi adik-adik tamatan SMA/SMK/MAN di wilayah Flobamora atau wilayah Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah, Ayo..., bergabung dengan kami di Universitas Flores  Ende. 

Secara khusus, bagi adik-adik yang ingin mengasah daya imajinasi dalam bidang sastra, kami menantimu dengan senang hati di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. (*)

Senin, 06 November 2017

Membaca Tanda-Tanda





Sekilas Fakta
Hati siapa yang tidak akan gundah gulana dan insan mana yang tak akan banjir air mata, ketika mendengar, menyaksikan kisah tragis dari negeri seberang tentang bencana dahsyat yang menerpa sesama kaum kerabat kita. Bukit Wasior dengan panorama hijau mengundang decak kagum dan tatapan terkesima setiap manusia yang berkunjung ke sana, sekejap mata dihempas banjir bandang dan terbelah, menganga menjadi kali besar mengalirnya kayu, batu, dan rumah-rumah penduduk, bahkan sampai tubuh manusia sekalipun bergelimpangan bercampur baur dengan kebringasan banjir bandang tersebut. Lain lagi di Wasior, lain cerita di negeri Sumatera. Guncangan gempa bumi memporakporandakan Mentawai, lagi-lagi merenggut korban manusia, selain korban material lain.  Seakan belum “puas” bencana alam melanda negeri ini. Kini muntahan abu panas dan larva dingin dari perut gunung Merapi menelan korban jiwa. Tak luput “Mba Marijan”, Sang penjaga gunung teraktif di dunia itu pun “pergi” bersama wedhus gembel (awan panas) pada hari pertama muncratan gunung antara Jawa Tengah dan Yogyakarta tersebut. Akibat aktivitas Merapi yang tidak tentu dan terus mencekam ini, mengakibatkan 146.440 orang di 64 Desa dari tiga kabupaten (Klaten, Boyolali, dan Sleman), menjadi desa mati karena harus mengungsi, 121 korban tewas, 172 korban hilang (Jawa Pos, 7 November 2010).

Negeri Terus Menangis

Negeri ini terus menangis. Kabung nasional pun diserukan ke seluruh pojok negeri untuk berbelasungkawa, mendoakan sembari memberi dari kekurangan kita untuk membantu sesama korban bencana. Kisah duka, rentetan peristiwa pilu betul-betul sudah, bahkan tengah “mengancam” kita penghuni rahim negeri ini. Pertanyaannya, mengapa bencana: banjir bandang, gempa bumi, gunung meletus,  di negeri mahaluas ini tak pernah “pergi”, bahkan tobat setelah sekian banyak nyawa tak terhitung lagi direnggut dan melayang - pergi begitu saja, ketika orang lain masih membutuhkan mereka? Tak tentu jawabannya. Banyak orang mungkin lebih berkompeten melukiskan muasal peristiwa-peristiwa di atas. Namun, tulisan sederhana ini lebih kurang merupakan sebuah introspeksi juga refleksi dari persepektif  relasi alam tempat kita berpijak dan membumi dengan sastra tempat orang mencipta, berkarya tentang segala sesuatu, termasuk tentang alam, yang kita pijaki.

Membaca Tanda-Tanda

Judul tulisan di atas merupakan judul puisi yang ditulis Taufik Ismail. Puisi-puisi Taufik Ismail pada umumnya memiliki kekuatan pada aspek afinitas, yakni aspek yang memiliki pertalian bathin yang kental dan kuat lantaran ada pengalaman yang sama yang bersumber pada sikap religiositas. Beliau juga agak prosaik–naratif dengan memanfaatkan bahasa diskursif yang indah dan memikat. Terlepas dari itu, Taufik Ismail juga menunjukkan kepekaannya yang tak terbialng besar pada tapakan dan perjalanan panjang sejarah sebagai bukti perjalanan manusia menggapai sesuatu yang baik, dan lingkungan sosial yang ditopang oleh ketangkasan dan kemahirannya dalam berpuisi. Disinilah Taufik Ismail menyatakan empatinya dengan sesama dalam kiat tunggal: menghargai dan berbuat baik terhadap Tuhan, sesama, dan alam ciptaan Tuhan.
Taufik Ismail merupakan seorang sastrawan yang berjuang dengan puisi-puisi imajis. Pengalaman kepenulisannya sangat didorong dan digerakkan oleh: (a) kepeduliannya pada bangsanya melalui gerakan kemahasiswaan; dan (b) keprihatinannya ketika melihat kepincangan-kepincangan sosial diawal persalinan Orde Baru yang bermuara pada politik kesenian Manikebu.
Jika ditelusuri hingga tahun 2000-an, maka konsep perubahan kepenulisannya bergerak dan berepisentrum pada: (1) kisaran imaji konseptual atas kepedihan realitas bangsa yang mengerikan; (b) keprihatinannya terhadap realitas baca tulis yang naïf di dunia pendidikan (Bdk; puisi “Kupu-kupu di Dalam Buku); dan (3) giat-gerak dalam berbagai kegiatan produktif  melalui gerakan baca dan cipta sastra, baik di kalangan guru, siswa, mahasiswa, maupun kalangan masyarakat umum. Pola-pola pelatihan yang dilakukannya mengingatkan pentingnya pelatihan kepenulisan di satu sisi dan penggalakan, penggalangan sampai pembudayaan tradisi baca di sisi yang lain. Lebih jauh dari itu, Taufik berkiblat pada bagaimana pentingnya menumbuhkembangkan kesadaran generasi, etos kerja, dan pentingnya empati kemanusiaan. Semua itu membingkai dalam gerak dan motivasi pendampingan kepenulisan yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan yang melibatkan para sastrawan, dan kalangan umum yang mempunyai kertarikan dengan masalah sastra dalam relasinya dengan persoalan-persoalan sosial.
Maestro sastra dan penulis puisi ini memunculkan sebuah pertanyaan introspektif-reflektif pada pertengahan puisinya, “kita telah saksikan seribu tanda-tanda/bisakah kita membaca tanda-tanda? Pertanyaan ini tak lepas dari fenomena kehidupan manusia universal akhir-akhir ini. Kita telah menyaksikan berbagai tanda-tanda. Kita bahkan mampu membaca tanda-tanda itu. Tanda yang berupa sesuatu yang kita percayai, kita hormati, kita genggami telah berubah menjadi sesuatu yang lumrah, biasa, sepele, bahkan  tak dipercayai, tak dihormati, tak digenggami. Sesuatu itu mulai lepas, hilang, terbang begitu saja demi kepentingan sesaat, demi memenuhi kebutuhan sesaat, bahkan demi kepentingan orang-orang dan kelompok-kelompok tertentu. Taufik memulainya, /Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan/dan meluncur lewat sela-sela jari kita/Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas/tapi kini kita mulai merasakannya/. Setidak-tidaknya penulis hendak mengingatkan kita bahwa sesuatu yang ”dulu” menjadi kebanggaan dan harapan kita, sekarang menjadi ancaman dan bencana bagi kita sendiri. Sesuatu yang mulai ”lepas”secara perlahan-lahan dari genggaman dan pelukan tanpa kita sadari, dan sesuatu yang mulai lepas tersebut sekarang mendatangkan malapetaka besar bagi kita.
Alam yang indah, hijau, dengan serba aneka satwa di dalamnya kini sulit untuk ditemukan lagi. Di mana semua itu? Kita telah dan tengah merasakan kehilangan sesuatu. /Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari/ Hutan kehilangan ranting/Ranting kehilangan daun/Daun kehilangan dahan/Dahan kehilangan hutan/. Gambaran keprihatinan seorang Taufik tentang alam dan kita sebagai pelakunya. Keprihatinan yang tak pernah selesai menyaksikan, bahkan membaca tanda-tanda alam yang kian parah dan mencemaskan. Kita bisa begitu gampang menyaksikan polusi dan sampah berserakan di mana-mana. Aktivitas pertambangan, penebangan, anomali cuaca, dan banjir bandang adalah contoh nyata betapa kita mulai resah dengan perubahan pola perilaku dan gaya hidup modern. Itulah deretan kehilangan yang mulai lepas dari genggaman kita, dan meluncur pelan meninggalkan kita.
Ada pergeseran juga perubahan pola perilaku, pikiran, dan sikap kita terhadap alam. Perubahan-perubahan dimaksud memprlihatkan kerusakan alam di mana-mana.  Mungkinkah masih tumbuh sikap dan perilaku untuk memelihara alam yang indah, agar tetap awet dan lestari. Alam yang menjadi tempat pijak dan wadah penafkahan kita justru diabaikan, ditinggalkan, dan dibiarkan lewat jamahan-jamahan tangan nakal kita yang tidak bertanggungjawab. Inilah bentuk keserakahan manusia terhadap alam. Oleh sebab itu, kita menanamkan sikap menjaga dan melestarikan hutan. Masihkah kita mendengar nyanyian burung di pagi hari? Taufik justru menyangsikannya dengan menulis ”Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari”.
Taufik Ismail yang adalah seorang sarjana kehewanan, namun memiliki keberpihakan yang amat sangat tinggi dan sempurna terhadap alam dan lingkungan sekitar. Bahkan, bencana yang terjadi sekarang ini telah mampu dinubuatkan oleh Taufik. Dalam konstelasi sastrawi, sastrawan, termasuk Taufik merupakan kelompok peramal, kaum futuris, kendati dengan menggunakan pisau bedah sastra. Taufik telah mengajak kita untuk berpikir dan bertindak baik terhadap alam dan segenap isi di dalamnya. Dia memperingatkan itu, dan sekarang peringatan tersebut menjadi nyata. Kita hanya bisa nestapa, mungkin sebentar saja dan sesudah itu menjadi biasa. Kita saksikan/Gunung membawa abu/Abu membawa batu/Batu membawa lindu/Lindu membawa longsor/Longsor membawa air/Air membawa banjir/Banjir air mata/.
Taufik yang adalah bagian dari negeri ini sekali lagi mendaras doa, mendulang harapan kepada Tuhan yang kita sembah. Kita pun demikian. Jalan satu-satunya menuju pertobatan. Bahwa hidup bukan sampai pada generasi kita ini saja, melainkan masih diteruskan untuk generasi berikutnya. Sedapatnya kita memberikan investasi secukupnya bagi mereka yang akan melanjutkan roda kehidupan ini. Generasai berikut, anak cucu kita. Allah Kami telah membaca gempa/Kami telah disapu banjir/ Kami telah dihalau api dan hama/ Kami telah dihujani abu dan batu/ Allah Ampuni dosa-dosa kami/. Ada kobaran harapan, semangat, kecintaan, serta upaya untuk melestarikan alam yang adalah sumber segala hidup di bumi dan dunia. Alam yang telah memberi kita minum, makan, dan aktivitas lain perlu dijaga, dilestarikan untuk kemaslahatan hidup kita bersama. Sekali lagi bersama Taufik kita percaya agar kita dimampukan oleh Tuhan untuk membaca tanda-tanda. Kita memiliki kearifan dan keberpihakan untuk alam yang kita huni. Beri kami kearifan membaca tanda-tanda/karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan/akan meluncur lewat sela-sela jari/karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas/tapi kini kami/mulai/merindukannya/. Dengan demikian, sastra merupakan solusi sosial, kontrol terhadap pemerinta. Sastra juga menjadi alternatif pembangunan. Karena sastra merupakan tiruan kehidupan, peneladanan antara kehidupan dan realitas alam nyata. (*)

Berpihak Kepada Rakyat

Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
tidak tugu atau tempat main bola
            Air mancur warna-warni
            Bertahun-tahun kita merdeka, bapa
            Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
            Kabulkanlah kiranya
(Taufik Ismail)

Penggalan puisi di atas dikutip dari antologi puisi Benteng di bawah judul Yang Kami Minta Hanyalah. Gemuruh demo pelajar dan mahasiswa setelah Gestapu ketika itu menginspirasi lahirnya karya ini. Puisi ini disampaikan para demonstran sebagai akumulasi kekecewaan terhadap janji-janji dan salah urus yang mengakibatkan rakyat sangat menderita. Hal-hal yang penting diabaikan, hal-hal yang tak penting didahulukan.
Puisi merupakan wadah penyair untuk menyuarakan pergulatan hidup atas berbagai pengalaman hidupnya dengan dunia sekitar, termasuk kebebasan menggunakan bahasa sebagai media komunikasi informatif. Sastra, dalam hal ini puisi senantiasa menyampaikan asa masa depan, Harapan sastrawan itu juga merupakan suara masa depan sehingga seorang sastrawan dapat diklasifikasikan sebagai kaum futuris. Kaum yang punya kontribusi dalam menyuarakan pambaruan pembangunan. Walaupun itu cuma suara verbalistik lewat pemadatan kata-kata tak bernyawa. Tetapi patutlah diakui bahwa cipta sastra, barangkali lebih tranaparan mengungkap realitas sosial kemasyarakatan yang tengah terjadi, juga situasi kondisi bangsa yang akan datang.
Sastra sebagai karya universal interpretatif tumbuh dan hidup berbarengan dengan peradaban manusia. Oleh karena itu, eksistensi sastra bersifat dinamis yang sesungguhnya adalah kristalisasi dari pengalaman hidup manusia. Pengalaman tentang alam, tentang ketidakadilan, penderitaan, serta model-model kehidupan sebagai hasil permenungan konkret pengarang atas kehidupan universal manusia itu sendiri. Ini artinya, sastra memiliki hubungan kedekatan dengan manusia yang secara fungsional disebut sebagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan sesama di lingkungannya. Permenungan imajiner tersebut kemudian dibingkai dalam bahasa yang menawan dan sarat dengan makna kehidupan. Yang Kami Minta Hayalah, menjadi simbol verbalis kaum papa dan suara sesama Yang tak bersuara (the voice of voiceless).
BeIakangan ini, berita tentang rawan pangan begitu ramai kita amati, baik melalui media cetak maupun elektronik. Sebut saja, Warga Asesa Ngada makan biji mangga (Flores Pos, 29/11/2006), akibat persediaan pangan makin terbatas. Dari Lembata diberitakan runtuhnya gudang jagung "Kedang".
Hampir setiap daerah di Flores-Lembata tengah mengalami kondisi ini. Flores-Lembata sedang diterpa badai akut tahunan, ibarat telah menjadi langganan tetap Nusa Bunga Ikan Paus ini. Realitas demikian, ketika diamati sesungguhnya yang kita dapati sebuah tikungan yang paradoksal dengan perilaku para elite politik kita. Masih dari Lernbata. Pada kondisi yang bersamaan, justru penghuni gedung dewan Peten Ina yang representatif rakyat Lembata berdiri pada tikungan itu. Fenomena malas dan menuntut lebih banyak merupakan fakta empiris yang tak dapat dibantah. Representan yang sesungguhnya menjadi figur contoh dan teladan ternyata sebuah label dan sebutan yang rasanya tak relevan lagi. Ketika 37 desa mengalami kekurangan pangan di Lembata, wakil rakyat tega melakukan studi banding, sebuah pengingkaran akan realitas masyarakat yang pada umumnya petani itu.
Pada tataran nasional, ternyata fenomena ini tertular secara sistematis dan terstruktur. Anggota DPR kita, cuma ngantuk dan selalu terlambat datang, tidak memenuhi kuorum dan terkadang cenderung membela kepentingan pribadi (Metro TV Bedah Editorial, 29/8/2006).
Ada sekian persoalan rakyat yang seharusnya diidentifikasi untuk mendapat prioritas pelayanan justru tidak terakomodir secara baik, saat para wakil rakyat kita, cuma bisa melempar pernyataan tanpa menyodor solusi juga alternatif-alternatif pemecahan, lalu apakah rakyat harus mendatangi  mereka untuk mangadu. Di mana peran dan fungsi mereka? Apakah mata dan hati mereka tertutup untuk menyimak realitas masyarakat kita yang kurang sana, kurang sini, dan memberikan ruang bathin mereka untuk merespon dan memaknai berbagai masalah tersebut?
Dari Ende, kota sejarah lahirnya Pancasila-destinasi pembuangan Presiden Ir Soekarno, kita mendapatkan kabar yang paradoksal tersebut. Setelah menolak lalu membangun deal dengan pihak lain untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sinyalemen tentang usulan pembelian tanah dan Hotel Wisata oleh eksekutif Ende ditengarai diperjuangkan oleh oknum anggota dewan tertentu agar meloloskan usulan tersebut di gedung rakyat dengan fee 5-10-%. Bahwa kolusi, korupsi dan nepotisme itu tidak hilang kalau praktik laknat ini masih menjadi incaran mereka-mereka yang kita anggap pilihan dari orang-orang kebanyakan. Apakah ini sebuah pembenaran akan klaim masyarakat bahwa sesungguhnya praktik KKN ini datangnya dari "rumah rakyat?"
Taufik Ismail, Yang nota bene seorang sastrawan mengungkapkan jeritan rakyat lalu membahasakan cukup sederhana, santun dan bermartabat. Yang Kami Minta Hanyalah merupakan representasi kekecewaan atas sekian banyak masalah yang dihadapi rakyat.
Mengapa harus membeli tanah dan Hotel Wisata, kalau bangkai KM Nusa Damai yang.tenggelam di kolam labuh lpi Ende tidak dapat dievakuasi. Ini tentu butuh pertimbangan yang populis untuk tidak membuat masyarakat resah. Katakan, dana sekian miliar tersebut dialokasikan untuk penyediaan tempat-tempat (lopo) belajar di desa-desa atau maksimaliasi berbagai sarana dan fasilitas belajar yang cukup dalam menunjang program "jam wajar" (jam wajib belajar), yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Ende. Program ini akan sangat bermanfaat untuk bisa meminimalisir kecemasan masyarakat banyak akan rendahnya mutu pendidikan kita.
Rakyat tidak minta sesuatu yang eksklusif melainkan pemenuhan kebutuhan yang berpautan langsung. Dalam aspek penegakan hukum, rakyat minta kesetaraan, keadilan. Tentunya harapan ini tidak menjadi sesuatu yang luar biasa, ketika lembaga-lembaga penegak hukum kita, menjalankannya secara baik dan bermartabat.
Dalam tataran kebangsaan, pohon bangsa ini tengah goyah diterpa badai. Kian rapuh, tegal semakin menipisnya rasa kebangsaan, rasa solidaritas, rasa memiliki satu Nusa dan satu Bangsa. Konflik di mana-mana yang tidak pernah berakhir merupakan bukti bagi anak negeri ini akan memuncaknya egoisme kepentingan di belakang kerusuhan-kerusuhan yang terjadi.
Rakyat hanya minta stabilisasi keamanan untuk menjamin rasa aman dan damai. Rakyat hanya minta hentikan teror dan konflik agar kembali menjalin tali kasih persaudaraan sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan bermartabat. Problem-problem kebangsaan ini lahir, ketika ziarah bangsa ini menanjak ke usia kemerdekaannya yang ke-61. Tetapi sebagi bagian bangsa ini, masih banyak sesama, saudara kita di sebagian daerah dan Republik ini belum merasakan arti kemerdekaan itu.
$ekali lagi, Taufik Ismail, atas nama rakyat menyerukan perhatian pemimpin dan wakil rakyat kita untuk mendengar dan mengabulkan keluhan rakyatnya, sehingga apa yang diminta itulah yang diberikan bukan sebaliknya. "Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja, tidak tugu atau tempat main bola juga air mancur warna-warni"
Hemat penulis, suara Taufik Ismail di atas juga merupakan sebuah model introspeksi masyarakat petani-peladang untuk kembali membangun sistem perladangan secara integral dan terpadu, yang secara empiris telah teruji keandalannya bertahun-tahun. Dengan demikian, kita misalnya, berani untuk menolak kebijakan panga:n nasional yang secara tidak sadar telah menghancurkan tradisi makan dan makanan lokal kita.
Kondisi demikian akan melahirkan generasi pengidap penyakit kemanjaan nasi, generasi raskin (beras untuk orang miskin) yang tengah bermasalah itu, Yang secara nyata telah memanjakan generasi kita dan merusak ketahanan pangan lokal itu. Pada alur berpikir ini, generasi yang akan datang bukan tidak mungkin menjadi generasi yang kemanjaan berusaha, mental instan, suka PNS, cari gampang, sementara sumber daya lahan kita memungkinkan untuk mengembangkan tanaman tahunan sebagai komoditas baru dan alternatif, seperti cengkeh, vanili, cokelat, kopi, dan lain-lain (Mbete, 2006).  Semuanya ini akan membuat kita untuk tidak menjadikan penyakit tahunan tersebut sebagai nrimo (nasib), tetapi secara perlahan kita, coba  untuk maju menantang alam Flores-Lembata, menjamahnya, kendatipun kita berpijak di atas rahim bumi yang rata-rata adalah lahan kering. (*)


[1] Artikel ini pernah dimuat pada HU Flores Pos, 18 Januari 2007