Halaman

Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2024

Selat Gonsalu Larantuka

Gerson Poyk, sastrawan nasional dan perintis sastra NTT menulis sebuah ulasan sastra dengan judul "Dari Mata Turun ke Hati." Ulasan tersebut dimuat dalam Antologi Cerpen Cerita dari Selat Gonsalu", yang diterbitkan oleh Kantor Bahasa NTT tahun 2015. Antologi Cerpen ini memublikasikan 57 judul cerpen dari 27 penulis. Selain menulis ulasan antologi ini, Gerson Poyk juga salah satu yang menulis cerpen untuk antologi dimaksud. Kata Pengantar ditulis oleh Yohanes Sehandi pengamat sastra NTT dari Univeritas Flores Ende.

Gerson Poyk

Di akhir ulasannya yang ringkas dan padat, Gerson Poyk menyodorkan sebuah pesan penting untuk muda-mudi NTT. Begini pesannya:

"Untuk muda-mudi NTT, menulislah terus, syukur kalau menghasilkan karya berbobot. Kalaupun hasilnya karya pop, yang penting ada untaian kata dan kalimat yang merusak khayalan pop dengan seni filsafat bercinta, yaitu mengandung respek, tanggung jawab, dan saling mengerti kekurangan dan kelebihan masing-masing." 

Jadi, menulislah terus, sebagaimana inspirasi dari sastrawan Gerson Poyk. (*)

Senin, 26 Juni 2023

Membaca untuk Membangun Pohon Ilmu Pengetahuan


 

Membaca (buku) juga hendak menandaskan tentang eksistensi kita sebagai makhluk yang terus mencari. Makhluk yang tidak pernah selesai. Makhluk yang memiliki hasrat dan rasa penasaran untuk terus ingin tahu tentang sesuatu. Rene Descartes–melalui cogito ergo zum ingin menggugah rasa penasaran manusia itu untuk mencari dan terus mencari. Karena hanya itulah manusia akan mengalami kepuasan dan kebanggaan rohaniah untuk terus eksis dalam kehidupan sosialnya. Bahkan, dalam literasi sastra, berdasarkan hasil Kongres Bahasa Indonesia XI 2018 di Jakarta merekomendasikan  bahwa siswa SD dalam setahun bisa membaca 10 judul karya sastra, SMP 15 judul, dan siswa SMA/ SMKmembaca 2 judul, ungkap Ketua Tim Perumus KBI XI Prof. Dr. Djoko Saryono, Guru Besar Universitas Negeri Malang. (Kompas, 1 November 2018).

Pohon Ilmu Pengetahuan

Fakta tersebut menggambarkan tentang pentingnya kemampuan literasi dasar baca-tulis di kalangan siswa. Kegiatan membaca dan menulis di sekolah diharapkan berevolusi dari waktu ke waktu, terutama melalui pembiasaan kondisi pembelajaran yang terus-menerus melibatkan semua perangkat pendidikan di sekolah. Agar seluruh perangkat pendidikan sekolah juga masyarakat di sekitar mampu menciptakan suatu ekosistem belajar yang kondusif.

Siswa tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi ditindaklanjuti secara intensif melalui pendampingan menulis topik-topik keseharian di sekitar lingkungan hidup para siswa, terutama tentang kegiatan-kegiatan siswa atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Targetnya, misalnya tersedianya wadah “pohon ilmu pengetahuan” sebagai media memupuk literasi baca dan tulis. Pohon ilmu pengetahuan ini, secara teratur akan ditempel atau digantung tulisan-tulisan siswa agar dapat dibaca oleh semua warga sekolah. Aktivitas ini akan dilaksanakan seminggu sekali. Tulisan yang telah dibaca, dikumpulkan secara rapi untuk dijilid dan disimpan di perpustakaan sekolah.

Antoro (2019), mengemukakan tiga tujuan pembelajaran menulis di sekolah, yakni pertama, sebagai sarana bagi siswa untuk memahami teks atau konsep keilmuan tertentu. Artinya, tema-tema kegiatan menulis harus selalu terkait dengan bidang keilmuan atau mata pelajaran yang sedang dipelajari siswa. Kedua, untuk mengkritisi informasi atau konsep tertentu yang sedang dipelajari siswa. Tujuan menulis diarahkan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis siswa, berorientasi pada memecahkan masalah, dan meningkatkan kreativitas siswa. Ketiga, menghasilkan berbagai jenis tulisan yang sesuai dengan konteks keilmuan atau mata pelajaran yang sedang dipelajari.

Untuk mencapai harapan agar siswa memiliki keterampilan yang mumpuni dalam membaca, maka terdapat tiga faktor pendukung yang diperhatikan, yakni ketersediaan bahan bacaan, ketersediaan alokasi waktu, dan ketersediaan sarana penunjang.

Tugas kita, orang tua, sekolah dan masyarakat adalah mengupayakan keseimbangan ketiga faktor tersebut. Ketersediaan bahan bacaan berkenaan dengan bahan-bahan bacaan yang sesuai dengan tingkat umur dan tingkat kemampuan siswa. Ruang perpustakan atau taman-taman bacaan perlu diisi atau dilengkapi dengan aneka bahan bacaan. Semakin variatifnya bahan bacaan, tentu semakin menambah minat dan gairah untuk menimba sesuatu di dalamnya. Alokasi waktu dimaksudkan tersedianya alokasi waktu khusus bagi para siswa untuk membaca dan menulis. Sedapatnya, alokasi waktu terakomodir dalam rencana pembelajaran guru. Hal ini untuk mengingatkan guru agar tidak lupa memberikan waktu membaca dalam upaya membangun sikap dan perilaku membaca pada diri siswa.

Sarana Perpustakaan

Sarana yang dimaksudkan menyasar pada kelayakan dan ketersediaan tempat baca yang baik. Perpustakaan sekolah akan ditata apik, menyenangkan demi merangsang minat baca siswa. Juga akan ditempel gambar-gambar tokoh-tokoh hebat sebagai motivasi belajar pada dinding ruang kelas dan perpustakaan untuk menambah rasa ingin tahu siswa untuk membaca guna menemukan ilmu pengetahuan dalam buku. Di samping itu, akan ditulis kalimat-kalimat ajakan ataupun nasihat bijak tentang pentingnya membaca dan menulis dalam bahasa daerah setempat maupun dalam bahasa Indonesia, dan digantung pada tempat-tempat strategis di lingkungan sekolah untuk “mengingatkan” para siswa tentang pentingnya membaca dan menulis. Gambar para tokoh hebat dan kalimat-kalimat atau nasihat bijak berpetuah dimaksud berfungsi untuk menggerakkan hati para siswa untuk setia membaca setiap hari. Tampaknya agak idealis, namun untuk berhasil sesorang perlu belajar dari orang-orang besar, orang-orang hebat (imitatio).

Selain tiga faktor tersebut, hal lain yang dapat diupayakan adalah membangun kerja sama dengan perangkat desa untuk menciptakan rasa aman bagi belajar para siswa dalam lingkungan desa. Orang tua murid untuk ikut memberikan kontribusi nyata seperti, menyediakan bahan bacaan yang sesuai, mengatur waktu belajar di rumah, serta memberikan waktu atau mengijinkan anak untuk mengikuti secara baik pelaksanaan program literasi di sekolah. Kantor desa tidak saja menjadi pusat administrasi pemerintahan desa, namun “disulap” menjadi pusat informasi berbagai ilmu pengetahuan. Semua warga masyarakat akan dengan mudah mencari dan mendapatkan berbagai informasi tersebut melalui aktivitas membaca di kantor desa. Artinya, untuk keberhasilan gerakan literasi, semua unsur harus terlibat.(*)

Senin, 29 Mei 2023

Menulis Itu Seperti Menenun Sarung

Menulis identik dengan tenun kata. Me(tenun) kata. Menenun sarung proses kerjanya sama persis dengan menenun kata atau menulis. Dua-duanya butuh ketelitian, kejelimetan untuk menserasikan aneka warna benang dalam satu paduan corak atau motif yang enak dipandang mata. Menulis dimulai dengan memilih kata. Menenun diawali dengan memilih benang. Aneka warna benang disiapkan. Kejelimetan mengurai dan memadukan warna agar membentuk model atau motif tertentu adalah "senyawa" dalam tarikan napas yang sama. Satu aliran darah dengan degupan jantung yang terus memompa semangat mencipta sang penenun. lahirlah motif dan aneka motif berpadu padan dalam satu mahakarya hasil budaya anak bangsa.


Menulis Itu Seperti Menenun Sarung

Proses menenun sarung tersebut sama dengan proses menulis. Beralur dalam satu aliran dan tarikan napas yang sama. Dimulai dengan menentukan tema atau topik tulisan. Memilih kata atau diksi untuk mewakili pesan yang ingin ditulis. Agar pembaca paham dan mengerti tentang apa yang ditulis. Maksud tersebut dielaborasi dalam kalimat-kalimat yang membentuk suatu alinea atau paragraf yang utuh dan maksimal. Pesan-pesan yang dimaksudkan penulis dirangkai terus-menerus dalam paragraf-paragraf lain dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan keutuhan relasi antara paragraf dimaksud. Apa yang dimaknai sebagai kohesivitas paragraf, sambil keeratan maksud kalimat dirangkai secara koherensif. Jadilah suatu ide atau gagasan tertuang utuh dalam wacana. 



Demikianlah hubungan antara menenun sarung dan menulis kata hingga merangkai paragraf. Sederhana. Prosesnya sama. Menulis pun membutuhkan ketelitian dan kejelimetan memilih kata dan memadunya dalam kalimat dan paragraf. (*)



Rabu, 15 Maret 2023

Menulis Budaya dan Bahasa Warisan Masa Lampau

 


Pemerolehan bahasa secara universal, sebagaimana juga terjadi pada berbagai bahasa di dunia, sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor budaya. Segala ciptaan pengetahuan seseorang dapat juga dimiliki oleh orang lain dan dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya. Pergeseran dan pemertahanan bahasa adalah dua gejala kebahasaan yang saling terkait. Kedua gejala kebahasaan ini juga tidak bisa terlepas dari gejala persaingan bahasa. Bahasa dikatakan mengalami pergeseran ketika masyarakat mulai meninggalkan bahasa tradisionalnya (bahasa daerah atau bahasa ibu). Akibat lanjut dari pergeseran bahasa adalah terpinggirkannya suatau bahasa dan termuliakannya bahasa yang lain. 

Apabila bahasa yang terpinggirakan itu benar-benar ditinggalkan para penuturnya, bahasa itu dianggap bahasa yang terancam punah. Pemertahanan bahasa perlu dilakukan agar bahasa daerah yang terancam punah tersebut hidup dan dituturkan kembali oleh masyarakat pemakainya. Bahasa sangat erat hubungannya dengan komunikasi. Masyarakat Indonesia yang pada umumnya adalah masyarakat pemakai dua bahasa (bahasa ibu (daerah) dan bahasa indonesia), mempunyai kemungkinan besar dapat menciptakan konflik kebahasaan.

Setiap insan tentunya memiliki budaya yang merupakan warisan leluhur yang selalu melekat dan  tetap dijaga hingga saat ini. Budaya mengajarkan  kita untuk patuh dan taat  dapat dijadikan sebagai pola hidup pada tradisi yang telah diwariskan. Budaya yang telah diwariskan akan bertumbuh, dan berkembang  dalam jiwa dan sanubari setiap insan di bumi pertiwi ini.  Selain itu,  dapat memberikan energi untuk menanamkan nilai dan etos kerja sebagai pilihan perdana dan keutamaan dalam konsep hidup.

Kelayakan hidup sebagai manusia demi nilai, dan demi harga diri sebagai manusia, patut ditulis kembali dengan berbasiskan data warisan masa lalu yang tersimpan dalam kemasan bahasa-bahasa lokal. Ini tugas kita semua, tanpa kecuali. Hidup yang sedang kita jalani ini sesungguhnya sesuatu yang nyata, sarat makna, dan nilai. Jadi, khazanah budaya, nilai, dan falsafah kita sekaligus yang menjadi idiologi etnik dan komunitas patut digali dan ditulis kembali dengan bahasa (lokal) baru, dan ditanamkan kembali pula kepada kaum muda melalui berbagai bentuk pengajaran, kendati transformasi sosial budaya telah menawarkan wujud kerja yang sudah berubah. 

Mahasiswa sebagai intelektual muda wajib memiliki, memahami, dan menguasai,  pengetahuan tentang budayanya. Itu bukan berarti kita abai untuk menguasai pengetahuan orang lain atau dunia luar. Namun, kita perlu memiliki basis juga landasan tentang identitas kita secara lebih utuh. Jika demikian, maka masing-masing berusaha untuk merawat    tradisi budayanya, termasuk bahasa daerahnya dengan baik agar tidak tergerus oleh arus perkembangan zaman dan teknologi yang kian pesat.

Budaya dan ekologi atau lingkungan merupakan satu kesatuan ekosisitem yang tidak dapat dipisahkan karena bertautan dengan prinsip-prinsip relasi pada jenjang yang lebih tinggi dan lebih luhur lagi. Menjaga dan merawat keharmonisan hidup dengan Tuhan Allah yang kita sembah, sesama manusia, dengan lingkungan alam tempat kita berpijak, serta  berdamai dengan alam  adalah guru natural, bahkan juga dengan segala sesuatu yang tidak kasat indera, adalah keniscayaan yang paling dalam. Banyak prinsip kehidupan yang terkandung dalam budaya dan dalam kemasan bahasa-bahasa lokal yang perlu digali dan dikaji. Sebab, bahasa daerah telah mengajarkan banyak hal, antara lain tentang moral, etika, logika, kesetiakawanan, solidaritas, yang musti dijaga dan diwariskan terus-menerus keppeada generasi yang akan dating. (*)

Kamis, 24 Februari 2022

Menulis dengan Makna dan Rasa

Kita semua, siapa saja patut  membiasakan diri menulis secara benar. Sekecil apapun kesalahan yang ditulis tentu menimbulkan salah tafsir dari pembaca. 

Fenomena ini terus kita jumpai dalam beranda media sosial, misalnya facebook, maupun media-media publikasi online. Kehadiran media-media online, bak cendawan di musim hujan, selaras dengan pertumbuhan dan kemajuan perangkat tekonologi komunikasi dan informasi. Kita mendukung dan memberi apresiasi atas kehadiran media-media tersebut untuk membantu mempercepat terpenuhinya akses informasi bagi masyarakat pembaca. Namun, kita pun berharap agar ikhtiar penyebarluasan informasi publik tersebut hendaknya ditulis dan dipublikasikan secara benar agar dapat sampai dan dipahami oleh pembaca, terlebih tidak menimbulkan salah tafsir di tengah pembaca. 

Manajemen media-media online (pars pro toto) acapkali abai terhadap kaidah dan tata tulis bahasa Indonesia. Asal tulis, tanpa memperhatikan tata ejaan pula. Belum lagi soal struktur dan gramatikanya. Padahal, kata orang bijak menulis sesuatu secara benar itu menggambarkan derajat keterpelajaran kita sebagai penutur bahasa.

Gerakan literasi yang belakangan ini gencar disosialisasikan juga memberikan efek positif, bahkan menjadi pelecut semangat berliterasi pada semua lapisan sosial masyarakat.

Penulis itu pujangga atau penyaji rangkaian kata dan kalimat bernas dengan keindahan makna dan rasa, selain sajian kebenaran dan kebijaksanaan. Penulis itu komposer, penata ide dengan mengusung misi kemanusiaan dan aksiologis. Penulis itu juga penemu gagasan atau ide, atau peramu resep dan peracik menu konseptual melalui rangkaian kalimat koherensif dan kohesif untuk membedakannya dengan orang lain. Dan, kita semua telah menjadi penulis: penata kata, peramu gagasan, dan peracik resep.

Saya tidak membatasi keluwesan dan keleluasaan setiap kita untuk menuliskan sesuatu. Akan tetapi, pemahaman kita sebagai penutur terhadap tata bahasa Indonesia diharapkan dapat memperkaya dan meningkatkan kualitas kemahiran berbahasa kita. 

Mari kita gunakan bahasa Indonesia secara benar, tanda kesetiaan kita sebagai penutur yang bermartabat. Bahasa Indonesia bahasa kita. (*)

Senin, 01 Februari 2021

Membaca untuk Menulis

 


Tuntutan keterampilan membaca pada abad 21 berkitar pada memiliki keterampilan membaca untuk memahami informasi secara analitis, kritis, dan refektif. Tuntutan ini dapat dicapai hanya melalui kecakapan dan kemampuan membaca yang baik secara integral dalam kecakapan berliterasi. Dengan alasan itulah literasi telah menjadi gerakan nasional. Intensitas kemampuan membaca secara baik dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kemampuan menalar peserta didik Indonesia masih sangat rendah. Hal ini diketahui dari studi terkini tahun 2016 oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang melaksanakan penilaian tiga tahunan atas budaya literasi di 72 negara melalui Program For International Students Assesment—melansir indeks budaya literasi siswa antarbangsa. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya lima persen peserta didik Indonesia yang mampu memecahkan persoalan yang membutuhkan pemikiran, sedangkan sisanya 95 persen hanya sampai pada level menengah, yaitu memecahkan persoalan yang bersifat hafalan (Kompas, 29 April 2017). Tulisan ini menukik pada hal-hal praktis, sekadar mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk turut serta menyukseskan kemampuan dan kecakapan membaca dan menulis.

Membaca (buku) juga hendak menandaskan tentang eksistensi kita sebagai makhluk yang terus mencari. Makhluk yang tidak pernah selesai. Makhluk yang memiliki hasrat dan rasa penasaran untuk terus ingin tahu tentang sesuatu. Rene Descartes–melalui cogito ergo zum ingin menggugah rasa penasaran manusia itu untuk mencari dan terus mencari. Karena hanya itulah manusia akan mengalami kepuasan dan kebanggaan rohaniah untuk terus eksis dalam kehidupan sosialnya. Bahkan, dalam literasi sastra, berdasarkan hasil Kongres Bahasa Indonesia XI 2018 di Jakarta merekomendasikan  bahwa siswa SD dalam setahun bisa membaca 10 judul karya sastra, SMP 15 judul, dan siswa SMA/ SMKmembaca 2 judul, ungkap Ketua Tim Perumus KBI XI Prof. Dr. Djoko Saryono, Guru Besar Universitas Negeri Malang. (Kompas, 1 November 2018).

Fakta tersebut menggambarkan tentang pentingnya kemampuan literasi dasar baca-tulis di kalangan siswa. Kegiatan membaca dan menulis di sekolah diharapkan berevolusi dari waktu ke waktu, terutama melalui pembiasaan kondisi pembelajaran yang terus-menerus melibatkan semua perangkat pendidikan di sekolah. Agar seluruh perangkat pendidikan sekolah juga masyarakat di sekitar mampu menciptakan suatu ekosistem belajar yang kondusif.

Siswa tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi ditindaklanjuti secara intensif melalui pendampingan menulis topik-topik keseharian di sekitar lingkungan hidup para siswa, terutama tentang kegiatan-kegiatan siswa atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Targetnya, misalnya tersedianya wadah “pohon ilmu pengetahuan” sebagai media memupuk literasi baca dan tulis. Pohon ilmu pengetahuan ini, secara teratur akan ditempel atau digantung tulisan-tulisan siswa agar dapat dibaca oleh semua warga sekolah. Aktivitas ini akan dilaksanakan seminggu sekali. Tulisan yang telah dibaca, dikumpulkan secara rapi untuk dijilid dan disimpan di perpustakaan sekolah.

Antoro (2019), mengemukakan tiga tujuan pembelajaran menulis di sekolah, yakni pertama, sebagai sarana bagi siswa untuk memahami teks atau konsep keilmuan tertentu. Artinya, tema-tema kegiatan menulis harus selalu terkait dengan bidang keilmuan atau mata pelajaran yang sedang dipelajari siswa. Kedua, untuk mengkritisi informasi atau konsep tertentu yang sedang dipelajari siswa. Tujuan menulis diarahkan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis siswa, berorientasi pada memecahkan masalah, dan meningkatkan kreativitas siswa. Ketiga, menghasilkan berbagai jenis tulisan yang sesuai dengan konteks keilmuan atau mata pelajaran yang sedang dipelajari.

Untuk mencapai harapan agar siswa memiliki keterampilan yang mumpuni dalam membaca, maka terdapat tiga faktor pendukung yang diperhatikan, yakni ketersediaan bahan bacaan, ketersediaan alokasi waktu, dan ketersediaan sarana penunjang.

Tugas kita, orang tua, sekolah dan masyarakat adalah mengupayakan keseimbangan ketiga faktor tersebut. Ketersediaan bahan bacaan berkenaan dengan bahan-bahan bacaan yang sesuai dengan tingkat umur dan tingkat kemampuan siswa. Ruang perpustakan atau taman-taman bacaan perlu diisi atau dilengkapi dengan aneka bahan bacaan. Semakin variatifnya bahan bacaan, tentu semakin menambah minat dan gairah untuk menimba sesuatu di dalamnya. Alokasi waktu dimaksudkan tersedianya alokasi waktu khusus bagi para siswa untuk membaca dan menulis. Sedapatnya, alokasi waktu terakomodir dalam rencana pembelajaran guru. Hal ini untuk mengingatkan guru agar tidak lupa memberikan waktu membaca dalam upaya membangun sikap dan perilaku membaca pada diri siswa.

Sarana yang dimaksudkan menyasar pada kelayakan dan ketersediaan tempat baca yang baik. Perpustakaan sekolah akan ditata apik, menyenangkan demi merangsang minat baca siswa. Juga akan ditempel gambar-gambar tokoh-tokoh hebat sebagai motivasi belajar pada dinding ruang kelas dan perpustakaan untuk menambah rasa ingin tahu siswa untuk membaca guna menemukan ilmu pengetahuan dalam buku. Di samping itu, akan ditulis kalimat-kalimat ajakan ataupun nasihat bijak tentang pentingnya membaca dan menulis dalam bahasa daerah setempat maupun dalam bahasa Indonesia, dan digantung pada tempat-tempat strategis di lingkungan sekolah untuk “mengingatkan” para siswa tentang pentingnya membaca dan menulis. Gambar para tokoh hebat dan kalimat-kalimat atau nasihat bijak berpetuah dimaksud berfungsi untuk menggerakkan hati para siswa untuk setia membaca setiap hari. Tampaknya agak idealis, namun untuk berhasil sesorang perlu belajar dari orang-orang besar, orang-orang hebat (imitatio).

Selain tiga faktor tersebut, hal lain yang dapat diupayakan adalah membangun kerja sama dengan perangkat desa untuk menciptakan rasa aman bagi belajar para siswa dalam lingkungan desa. Orang tua murid untuk ikut memberikan kontribusi nyata seperti, menyediakan bahan bacaan yang sesuai, mengatur waktu belajar di rumah, serta memberikan waktu atau mengijinkan anak untuk mengikuti secara baik pelaksanaan program literasi di sekolah. Kantor desa tidak saja menjadi pusat administrasi pemerintahan desa, namun “disulap” menjadi pusat informasi berbagai ilmu pengetahuan. Semua warga masyarakat akan dengan mudah mencari dan mendapatkan berbagai informasi tersebut melalui aktivitas membaca di kantor desa. Artinya, untuk keberhasilan gerakan literasi, semua unsur harus terlibat.(*)

Sabtu, 23 Januari 2021

Sastra Memperhalus Budi dan Nalar Anak



Pesatnya arus kehidupan yang kian kompetitif membuat kehidupan manusia sejagat semakin maju, bahkan juga saling berkompetisi merespon kemajuan dunia tersebut. Fenomena ini nyata, ketika perubahan-perubahan kehidupan yang hadir sebagai bukti perkembangan dan kemajuan zaman dimaksud menyata dalam realitas keseharian kita. Misalnya, dengan kemajuan alat-alat transportasi semakin memudahkan mobilisasi manusia dari satu tempat ke tempat yang lain. Akselerasi arus informasi yang semakin memadai, menjadikan dunia ini semakin kecil, sempit dan mudah dijangkaui. Kejadian yang terjadi di belahan dunia manapun dapat kita amati, bahkan kita saksikan secara langsung (live) pada belahan dunia yang lain. Inilah bukti bahwa manusia selalu berusaha mencari dan menemukan jalan keluar permasalahan dalam kehidupannya, sekaligus memberikan warna atau batas tertentu sebagai penanda-penanda khas setiap pergantian dan perubahan zaman.

Terlepas dari perspektif positip atas kemajuan yang telah dicapai manusia, kemajuan-kemajuan yang disebutkan di atas mendatangkan mala petaka baru, apabila diteropong dari perspektif negatif. Beberapa kasus yang belakangan ini ramai diberitakan lewat berbagai media massa cetak, maupun elektronik, antara lain, pemerkosaan anak di bawah umur, perkelahian antargeng, perang tanding antardesa, tawuran antarpelajar, pembunuhan secara sadis orang yang tak bersalah, dan sebagainya, menggugat nurani kita untuk bertanya: di manakah nilai seorang manusia itu?

Namun, yang pasti bahwa  perilaku-perilaku negatif yang timbul demikian semakin “menantang” peran kita (orang tua, sekolah, dan masyarakat) untuk merapatkan barisan demi memberikan peran dan tanggung jawab secara lebih terarah dan berkesinambungan. Belum cukup di sana lingkungan yang kurang bersahabat turut memperparah pengendapan nilai yang sedang dikunyah generasi muda. Menjamurnya tempat-tempat hiburan, penayangan berbagai adegan kejam lagi panas lewat televisi dan laser disc, merupakan contoh kasus yang tak pelak lagi didengar. Terhadap realitas yang kian mengkhawatirkan generasi muda ini tentunya langkah-langkah bijak perlu ditempuh untuk meminimalisir segala kerusuhan dan tindak kejahatan yang diduga telah turut memberikan kontribusi negatif, bahkan menurunkan degradasi moral anak bangsa.

Terdapat asumsi yang keliru yang berkembang di kalangan masyarakat bahwa tugas mendidik sepenuhnya adalah tanggung jawab guru. Tugas itu selesai ketika orang tua telah menghantar putra-putri mereka masuk ke lembaga pendidikan formal. Gejala ini termanifestasi lewat berbagai tindak kejahatan yang disinyalir dilakukan oleh generasi muda. Terhadap klaim-klaim yang disinyalir tersebut, bukan berarti keluarga dituduh sebagai biang kehancuran, tetapi hendaknya menjadi feed back yang tepat untuk melihat keberhasilan pendidikan nilai yang ditanam dalam keluarga. Sejauh mana pendidikan nilai itu telah memberikan sesuatu bagi kehidupan dan perkembangan kaum muda. Keluarga merupakan basis pendidikan nilai bagi generasi muda, sehingga keluarga sedapatnya memberikan nilai-nilai atau ajaran yang dapat dianut dan diteladani oleh anak-anak. Keluarga harus mampu memberikan rasa aman dan bahagia kepada anak. Berlaku yang demokratis sangat diharapkan agar dapat menciptakan suasana yang akrab dan menyejukkan.

Sastra Bermula dari Kehidupan Anak

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan di sekolah dapatlah dikatakan bahwa sastra sampai pada saat ini masih berada pada posisi yang belum banyak peminat karya sastra. Pertama, karena banyak masyarakat kita (Indonesia) tidak suka dengan sastra. Entah itu, membaca maupun menulis sastra. Kedua, pembelajaran sastra formal di sekolah pun masih belum diajarkan secara baik dan menyeluruh. Baik, maksudnya banyak guru sastra yang memang bukan guru sastra. Kalau pun mereka adalah guru sastra, minat dan perhatiannya terhadap sastra belum memadai. Menyeluruh yang dimaksudkan di sini adalah kompetensi-kompetensi pembelajaran sastra masih tumpang tindih dengan bahasa, karena sastra masih menjadi bagian dari bahasa. Kondisi pembelajaran sastra yang disebutkan di atas terjadi pada semua genre atau jenis sastra, baik puisi, prosa, maupun drama.

Keterampilan membaca sastra perlu dikembangkan di sekolah melalui kegiatan membaca sastra. Keterampilan membaca sastra yang dimaksudkan adalah keterampilan membaca sastra anak. Keterampilan membaca sastra anak ini penting karena akan sangat bermanfaat bagi siswa untuk memahami berbagai wacana sastra yang ditemukan. Wacana-wacana sastra sangat bervariasi, dan pada umumnya sering ditemukan dalam pembelajaran materi-materi sastra di sekolah.

Sastra menjadi sangat penting untuk perkembangan anak karena disebabkan oleh dua hal (Kurniawan, 2009: 2–3), yakni (1) kecintaan anak terhadap karya sastra dapat meningkatkan hobby dan kesukaan anak pada membaca, yang akhirnya dapat meningkatkan kebiasaan membaca anak. Kebiasaan membaca ini merupakan kunci untuk menguasai ilmu pengetahuan apapun; dan (2) dari pembacaan karya sastra yang intens, maka karya sastra bisa meningkatkan aspek kecerdasan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak, karena dalam karya sastra ada kehidupan yang menawarkan nilai-nilai moral yang baik untuk perkembangan pikiran dan perasaan anak.

Sastra  anak tidak harus berkisah tentang anak, tentang dunia anak, maupun tentang berbagai peristiwa yang melibatkan anak. Sastra anak dapat berkisah tentang apa saja menyangkut kehidupan, baik kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, maupun kehidupan makhluk dari dunia lain (Nurgiyantoro, 2002: 8). Oleh karena itu, sastra anak bisa dalam bentuk lisan dan tulis. Lisan adalah karya sastra yang diceritakan dan diwariskan secara turun-temurun secara lisan. Misalnya, cerita rakyat (folklore, nyanyian rakyat, permainan rakyat, dan lain-lain, yang tersebar di hampir setiap etnik yang ada di Indonesia. Sastra tulis, misalnya puisi, prosa, dan drama. Wacana sastra yang dimaksudkan dalam penlitian ini adalah wacana sastra tulis puisi. Dengan demikian, dalam tulisan ini peneliti menggunakan istilah wacana sastra, namun yang dimaksudkan adalah puisi.

 

Daftar Pustaka

Kurniawan,Heru. 2009. Sastra Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Nurgiyantoro. 2002. Sastra Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada Universiti Press.

 

 

 

Jumat, 09 Oktober 2020

Jalan Panjang Peradaban Menulis

 

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata,

suatu cara untuk menyapa—

suatu cara un

tuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana.

Cara itulah yang bermacam-macam

dan disanalah harga kreativitas ditimbang-timbang”.

[Seno Gumira Ajidarma,

dalam Bambang Trim. Literasi Menulis, April 2019]

           

 

Jika merunut jalan panjang peradaban ini, kita boleh berkata bahwa menulis menjadi sebuah karya puncak peradaban. Banyak kalangan memandang menulis sebagai komunikasi tulis telah membawa manusia memasuki peradaban baru, yaitu peradaban keberaksaraan, sehingga kegiatan menulis pada umumnya dipandang positif. Dalam peradaban keberaksaraan itulah menulis berbagai ihwal ilmu pengetahuan, misalnya ihwal kebudayaan, kebahasaan, pertanian, arsitektur, kesehatan, ekonomi, pendidikan, hukum, dan pengembangan diri sudah tentu memberi manfaat positif bagi kemajuan masyarakat.

Dalam sudut pandang itulah, civitas academica Universitas Flores mempertegas dirinya dengan ikhtiar untuk terus berkarya tulis di tengah membanjirnya kehadiran perguruan tinggi dewasa ini. Di antaranya adalah menaut gagasan dengan masyarakat melalui menulis pemikiran dengan hati dan budi untuk sebuah etos, di samping aspek logos, dan phatos yang menjadi basis kehidupan akademik. Mengulang kembali gagasan Almahrum Prof. Stephanus Djawanai, M.A., bahwa kehadiran dan keberlanjutan Universitas Flores sebagai organisasi pembelajaran menekankan pada dua ekologi, yakni ekologi manah dan ekologi sosial.

Tesis “menjadi magnet di Indonesia Timur” dengan visi “menjadi mediator budaya” di tengah keragaman terus digelorakan sekaligus menjadi gerakan bersama, melalui aktivitas publikasi pemikiran secara luas. Tidak kalah penting adalah secara internal menciptakan lingkungan belajar dan suasana akademik warga kampus sebagai pembaca dan penulis. Oleh karena itu, menulis karya ilmiah, termasuk karya ilmiah populer di media massa merupakan sebentuk ejawantah pengabdian yang harus menjadi bagian dari komitmen civitas academica Universitas Flores dalam mengembangkan keilmuan di bidangnya masing-masing. Mutu atau kualitas tetap menjadi “acuan” dalam memberikan kontribusi akademik bagi pembangunan daerah dan bangsa ini ke depan. Meminjam kata-kata Antonio Gramsci bahwa kita, kaum intelektual mesti membangun blok solidaritas sebagai intelektual organik, yang turun dari “singgasana menara gading” dan bergabung dengan masyarakat untuk menjalankan tugas profetisnya sekaligus untuk membangkitkan kesadaran masyarakat yang dimanipulasi kekuatan hegemonik dengan memberi pendidikan–pendidikan kultural dan politik dalam bahasa keseharian.

Buku Antologi Opini Suara Uniflor yang sedang Anda baca ini merupakan praksis solidaritas profetis yang oleh para penulis tidak saja sedang membahasakan atau mengkomunikasikan realitas apa adanya, melainkan sedang mengkonstruksi realitas dan gagasan melalui sudut pandang keilmuan yang berbeda. Pada titik inilah ide dan gagasan tidak datang dengan sendirinya, namun dibangun melalui kerumitan-kerumitan berpikir yang diolah dalam pikiran dan dituangkan secara teratur dalam menulis. Hadirnya buku ini memberikan warna sendiri, bermakna sekaligus menambah bobot keilmuan bagi civitas academica Universitas Flores yang sedang merayakan Dies Natalis ke-39 tahun.

Akhirnya, kami menyampaikan terima kasih berlimpah kepada Dr. Laurentius D. Gadi Djou, M.Si, Akt (Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif), dan Dr. Simon Sira Padji, M.A. (Rektor Universitas Flores) yang telah berkenan memberi sambutan. Terima kasih juga kami sampaikan kepada para penulis, yang di tengah tumpukan kesibukan dan kerumitan kerja, masih meluangkan waktu untuk menulis pendapat yang terangkum dalam Buku Antologi Opini Suara Uniflor ini.

Ende, Akhir Juni 2019

Editor



[1] Ditulis bersama Marianus Ola Kenoba, sebagai Editor dalam Kata Pengantar Antologi Opini Suara Uniflor 2016 – 2018, diterbitkan atas kerja sama Universitas Flores dengan Penerbit Ombak Yogyakarta, 2018.

Menulis Perjumpaan, Mengawetkan Kehidupan



 

Ketika beradu: tuntaslah tulisan di tanganku,

lalu kubaca pelan dan pasti: kau hadir bagai

matahari kehidupan

dalam renung tulisan

(Karena kehidupan, aku berpuisi

dari kehidupan aku menulis.

Maukah kamu menyatu menemani?)

[Mudji Sutrisno, Getar-Getar Peradaban, Penerbit Kanisius Yogyakarta, 1994: 8]

 

 Sepanjang Detak Waktu (SDW) adalah rentetan kisah estetis penulis dari waktu ke waktu. Sepanjang waktu 2006–2017, kisah dan catatan tentang sebuah perjalanan pelayanan “kehidupan” terpatri indah dalam untaian bait-bait puisi. Rentetan ini sekaligus menjadi momentum literer. Sebab SDW merupakan bagian perjalanan leterasi menulis perjumpaan. Mengasah daya dan budi, mengurut kata memadat hati menemukan jalan keluar melalui pintu yang selalu terkuak: /Pintu itu...lapang hati/. Pintu simbol kelapangan hati, keterbukaan, keleluasaan, kebersediaan, niat, dan ikhtiar membuka diri sekaligus memberi diri untuk kebaikan orang lain. Menulis perjumpaan juga hendak momentum perjumpaan itu sendiri, beserta hal ihwal di sekelilingnya. Upaya ini pula merupakan jalan atau pintu mengawet kehidupan. Sebuah upaya ekspresi romantisme nostalgia bagi masyarakat untuk terus mencintai masa lampau. Sehingga karya literer ini adalah sebentuk menulis kehidupan masa lampau secara sungguh-sungguh dan lebih bermakna.

 Sepanjang Detak Waktu adalah sebuah penjelajahan kemanusiaan

Puisi sebagai karya sastra bernuansa seni hasil produksi pikir kreatif dengan mengandalkan daya imajinasi penulisnya menjadi semacam jalan meniti perjalanan panjang. Menjelajahi ruang-ruang belantara kehidupan. Menapaki lorong-lorong rindu menemui sahabat semesta. Sebuah karya seni yang telah diciptakan dan diapresiasi oleh masyarakat tidak dapat ditarik kembali oleh waktu (Ars longa vita brevis). Sebab itulah, segala karya seni, termasuk puisi dapat hidup sepanjang masa. Dan, oleh karena itu pula seni tidak dapat dipisahkan dari realitas kehidupan masyarakat. Sebagai karya sastra, puisi memiliki sifat seni sekaligus menjadi balada keabadian. Padanya kita dapat memahami dan menikmati lanskap alam raya dengan aneka dandanan geososial dan geokultural,  menimba akan keterpaduan kehidupan semesta dan jagat kosmis, serta rentetan penjelajahan eksistensi lain, dari yang tidak dapat terobservasi oleh panca indera hingga runtutan dan tumpukan narasi perjumpaan dengan orang-orang tercinta.

Pada simpul perjumpaan demikianlah, hidup menjadi lebih kaya makna melalui bobot karya pelayanan akan satu dengan yang lain. Semuanya mengalami eksistensi keterberian untuk saling meningkatkan derajat pengalaman perjumpaan dimaksud. Dalam perspektif teoretis, benar yang dikatakan Lafevere bahwa sastra adalah pengetahuan kemanusiaan (existential knowledge) yang sejajar dengan bentuk dan perjalanan hidup itu sendiri. Untuk demikianlah, sastra secara khusus puisi menjadi sangat penting ditulis dan dipelajari dewasa ini sebagai sarana berbagi pengalaman (sharing) dalam mencari dan menemukan kebenaran kemanusiaan. Tidak sekadar diperlukan persepsi, melainkan observasi. Persepsi berfungsi sebagai peta jalan yang digunakan untuk mencari kebenaran dan kenyataan sesungguhnya. Observasi membuat kita terlibat secara aktif kepada aspek-aspek tertentu yang menarik perhatian kita. Hasil dimaksud tidak hanya memiliki kedalaman pemahaman, melainkan kita membuat kedalaman pemahaman itu sesuai dengan pengalaman-pengalaman kehidupan kita sendiri di antara perjumpaan pengalaman dengan realitas yang sesungguhnya.

Dalam pemahaman ini, hemat saya “Sepanjang Detak Waktu” (SDW) telah mencapai titik kontekstualisasi perjumpaannya pada debur-debur semesta. Saya mencatat, misalnya, 18 judul puisi dari 76 puisi dalam SDW yang menggunakan kata depan atau preposisi di”. Fungsi utama preposisi “di” adalah menyatakan tempat. Dalam konteks ini, preposisi “di” menukik atau menunjuk pada satu titik atau lokasi perjumpaan. Di sinilah kontekstualisasi dari apa yang saya sebut sebagai penjelajahan kemanusiaan. Judul-judul puisi dimaksud adalah Di Jantung Malam, Di Bulan Uzur, Di Teras Rumah, Di Tanah Ini, Bias Di Awal Tahun, Di Bawah Rembulan, Di Stasiun Kereta, Di Taman Ini, Di Bukit Ini, Di Atas Pasir, Malam Di Bukit Ini, Di Laut Malam, Berkaca Di Air Keruh, Di Tengah Badai, Purnama Di Bukit Ini, Pergimu Di Ubun Pagi, Di Jantung Kota, dan Di Restaurante.

Penjelajahan kemanusiaan bertemu dengan keindahan. Manusia sebagai homo educandus,  semesta alam raya, dan ruang kosmis adalah pengalaman keindahan itu. Kisah-kisa perjumpaan yang dilukis gamblang dan mempesona dalam SDW menjadi pengalaman yang vital yang tidak lain adalah cuatan keaslian ekspresi penulis yang sensibilitas. Pengalaman-pengalaman yang hebat serta refleksi dalam ragam perasaan dan nuansa natural itulah disampaikan dengan figura bahasa yang baik. Secara umum, SDW mendapat amplifikasi (perkuatan) secara kontras yang kaya ekspresi figuratif personifikasi. Penulis menghayati hidupnya dalam semangat perjumpaan sebagaimana hidup itu sendiri sebagai seni. Kita pun diajak untuk menikmati hidup itu layaknya sebuah karya kreatif (seni). Saya dan Anda harus membaca buku ini, terutama mahasiswa, dosen dan mereka yang menggandrungi dunia sastra. (*)

 

 



[1] Epilog untuk Antologi Puisi “Sepanjang Detak Waktu” (SDW) karya Ignasius Ukun Kaha (Ignas Kaha), Lahir di Augelaran, Solor Barat, Flores Timur, pada tanggal 24 Desember 1975. Pernah belajar Filsafat dan Teologi di STFK Ledalero, Maumere, dari tahun 1997 hingga tahun 2004. Sekarang berkarya sebagai Misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) di Mozambique, Afrika. Prolog Antologi Puisi “Sepanjang Detak Waktu” (SDW) ditulis oleh Dr. Fidelis Regi Waton, SVD–Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Sankt Augustin, Jerman.

 

[2]  Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Flores, Ende.