Pesatnya arus
kehidupan yang kian kompetitif membuat kehidupan manusia sejagat semakin maju,
bahkan juga saling berkompetisi merespon kemajuan dunia tersebut. Fenomena ini
nyata, ketika perubahan-perubahan kehidupan yang hadir sebagai bukti
perkembangan dan kemajuan zaman dimaksud menyata dalam realitas keseharian
kita. Misalnya, dengan kemajuan alat-alat transportasi semakin memudahkan
mobilisasi manusia dari satu tempat ke tempat yang lain. Akselerasi arus
informasi yang semakin memadai, menjadikan dunia ini semakin kecil, sempit dan
mudah dijangkaui. Kejadian yang terjadi di belahan dunia manapun dapat kita
amati, bahkan kita saksikan secara langsung (live) pada belahan dunia
yang lain. Inilah bukti bahwa manusia selalu berusaha mencari dan menemukan
jalan keluar permasalahan dalam kehidupannya, sekaligus memberikan warna atau
batas tertentu sebagai penanda-penanda khas setiap pergantian dan perubahan
zaman.
Terlepas dari
perspektif positip atas kemajuan yang telah dicapai manusia, kemajuan-kemajuan
yang disebutkan di atas mendatangkan mala petaka baru, apabila diteropong dari
perspektif negatif. Beberapa kasus yang belakangan ini ramai diberitakan lewat
berbagai media massa cetak, maupun elektronik, antara lain, pemerkosaan anak di
bawah umur, perkelahian antargeng, perang tanding antardesa, tawuran
antarpelajar, pembunuhan secara sadis orang yang tak bersalah, dan sebagainya,
menggugat nurani kita untuk bertanya: di manakah nilai seorang manusia itu?
Namun, yang
pasti bahwa perilaku-perilaku negatif
yang timbul demikian semakin “menantang” peran kita (orang tua, sekolah,
dan masyarakat) untuk merapatkan barisan demi memberikan peran dan tanggung
jawab secara lebih terarah dan berkesinambungan. Belum cukup di
sana lingkungan yang kurang bersahabat turut memperparah pengendapan nilai yang
sedang dikunyah generasi muda. Menjamurnya tempat-tempat hiburan, penayangan
berbagai adegan kejam lagi panas lewat televisi dan laser disc, merupakan contoh kasus yang tak pelak lagi didengar. Terhadap realitas yang kian mengkhawatirkan generasi
muda ini tentunya langkah-langkah bijak perlu ditempuh untuk meminimalisir
segala kerusuhan dan tindak kejahatan yang diduga telah turut memberikan
kontribusi negatif, bahkan menurunkan degradasi moral anak bangsa.
Terdapat asumsi yang keliru yang
berkembang di kalangan masyarakat bahwa tugas mendidik sepenuhnya adalah
tanggung jawab guru. Tugas itu selesai ketika orang tua telah menghantar
putra-putri mereka masuk ke lembaga pendidikan formal. Gejala ini
termanifestasi lewat berbagai tindak kejahatan yang disinyalir dilakukan oleh
generasi muda. Terhadap klaim-klaim yang disinyalir tersebut, bukan berarti
keluarga dituduh sebagai biang kehancuran, tetapi hendaknya menjadi feed back yang tepat untuk melihat
keberhasilan pendidikan nilai yang ditanam dalam keluarga. Sejauh mana
pendidikan nilai itu telah memberikan sesuatu bagi kehidupan dan perkembangan kaum
muda. Keluarga merupakan basis pendidikan nilai bagi generasi muda, sehingga
keluarga sedapatnya memberikan nilai-nilai atau ajaran yang dapat dianut dan
diteladani oleh anak-anak. Keluarga harus mampu memberikan rasa aman dan
bahagia kepada anak. Berlaku yang demokratis sangat diharapkan agar dapat
menciptakan suasana yang akrab dan menyejukkan.
Sastra Bermula dari Kehidupan Anak
Berdasarkan
pengalaman dan pengamatan di sekolah dapatlah dikatakan bahwa sastra sampai
pada saat ini masih berada pada posisi yang
belum banyak peminat
karya sastra. Pertama, karena banyak masyarakat kita
(Indonesia) tidak suka dengan sastra. Entah itu, membaca maupun menulis sastra.
Kedua, pembelajaran sastra formal di
sekolah pun masih belum diajarkan secara baik dan menyeluruh. Baik, maksudnya
banyak guru sastra yang memang bukan guru sastra. Kalau pun mereka adalah guru
sastra, minat dan perhatiannya terhadap sastra belum memadai. Menyeluruh yang
dimaksudkan di sini adalah kompetensi-kompetensi pembelajaran sastra masih
tumpang tindih dengan bahasa, karena sastra masih menjadi bagian dari bahasa.
Kondisi pembelajaran sastra yang disebutkan di atas terjadi pada semua genre
atau jenis sastra, baik puisi, prosa, maupun drama.
Keterampilan membaca
sastra perlu dikembangkan di sekolah melalui
kegiatan membaca sastra.
Keterampilan membaca sastra yang dimaksudkan adalah keterampilan membaca sastra
anak. Keterampilan membaca sastra anak ini penting karena akan sangat
bermanfaat bagi siswa untuk memahami berbagai wacana sastra yang ditemukan.
Wacana-wacana sastra sangat bervariasi, dan pada umumnya sering ditemukan dalam
pembelajaran materi-materi sastra di sekolah.
Sastra menjadi
sangat penting untuk perkembangan anak karena disebabkan oleh dua hal
(Kurniawan, 2009: 2–3), yakni (1) kecintaan anak terhadap karya sastra dapat meningkatkan
hobby dan kesukaan anak pada membaca, yang akhirnya dapat meningkatkan
kebiasaan membaca anak. Kebiasaan membaca ini merupakan kunci untuk menguasai
ilmu pengetahuan apapun; dan (2) dari pembacaan karya sastra yang intens, maka
karya sastra bisa meningkatkan aspek kecerdasan kognisi, afeksi, dan psikomotor
anak, karena dalam karya sastra ada kehidupan yang menawarkan nilai-nilai moral
yang baik untuk perkembangan pikiran dan perasaan anak.
Sastra anak tidak harus berkisah tentang anak,
tentang dunia anak, maupun tentang berbagai peristiwa yang melibatkan anak.
Sastra anak dapat berkisah tentang apa saja menyangkut kehidupan, baik
kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, maupun kehidupan makhluk dari dunia lain
(Nurgiyantoro, 2002: 8). Oleh karena itu, sastra anak bisa dalam bentuk lisan dan tulis. Lisan
adalah karya sastra yang diceritakan dan diwariskan secara turun-temurun secara
lisan. Misalnya, cerita rakyat (folklore,
nyanyian rakyat, permainan rakyat, dan lain-lain, yang tersebar di hampir setiap
etnik yang ada di Indonesia. Sastra tulis, misalnya puisi, prosa, dan drama.
Wacana sastra yang dimaksudkan dalam penlitian ini adalah wacana sastra tulis
puisi. Dengan demikian, dalam tulisan ini peneliti menggunakan istilah wacana
sastra, namun yang dimaksudkan adalah puisi.
Daftar
Pustaka
Kurniawan,Heru. 2009. Sastra Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Nurgiyantoro. 2002. Sastra Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada
Universiti Press.