Halaman

Tampilkan postingan dengan label Pancasila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pancasila. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2023

Pancasila sebagai Rumah Kebangsaan

 


Nasionalisme Indonesia yang dibangun dalam Rumah Pancasila dengan lima tiang utama perlu dijaga, dirawat. Melestarikan nilai-nilai luhur yang tercantum di dalamnya agar tidak keropos dimakan rayap kolusi, korupsi, dan nepotisme. Sampai hari ini, fakta korupsi adalah fakta yang telah ikut menggerus nilai-nilai edukatif kebangsaan yang telah dipraktikkan dan bahkan diwariskan pendahulu bangsa untuk generasi muda bangsa ini. Sayangnya, godaan pragmatisme dan kesombongan egoisme orang perorang menjadikan bangsa ini menjadi “buah bibir” warga bangsa sendiri, maupun dunia luar akan praktik-praktik tidak terpuji itu. Lantas, apakah bangsa ini menyerah dan terus membiarkan kesombongan orang-orang yang tipis nurani dan hatinya itu untuk terus menggerus bangsa ini melalui perbuatan-perbuatan terkutuk tersebut? Tentu, semua elemen bangsa secara spontan dan tegas menjawab tidak.

Untuk itu, salah satu upaya yang dapat diterapkan adalah meresapi dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam dasar Negara kita, yaitu Pancasila. Nilai-nilai demikian adalah kristalisasi dan serapan nilai-nilai yang ada dalam keragaman hidup berbangsa Indonesia. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi wajib “merapal” nilai-nilai tersebut untuk menjadi acuan dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupannya sehari-hari. Jika demikian, maka lembaga-lembaga pendidikan terus dibenah, diperkuat, diawasi dalam rancang bangun kurikulum dan penerapannya.  Arah dan mekanisme pembelajaran, secara khusus Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila terus diupayakan menjadi pembelajaran kebangsaan yang berfungsi sebagai wadah menanam dan menebalkan semangat patriotism dan cintah tanah air.

Pancasila sebagai Rumah Kebangsaan

Ketika dibuang ke Ende tahun 1934–1938 Soekarno berhasil memungut gagasan-gagasan dasar dari budaya-budaya yang diamati dan dijumpainya, dan beliau “merajut”, mentransformasikannya, menjadi suatu “candi intelektual yang dikenal dengan nama Pancasila, lima butir mutiara yang menjadi dasar bangunan Negara Republik Indonesia (Djawanai, 2013: 99). Yang menarik bahwa beliau mengaitkan semua sila dengan konsep tradisional gotong royang. Menurut beliau, untuk membangun Indonesia, gotong royang harus menjadi alat transformasi sosial budaya. Sebab dalam gotong royong semua saling menghargai dan tolong menolong meskipun berbeda etnik, ras, kepercayaan. Inilah romantisme Bung Karno dalam membangun konsep kebangsaan Indonesia.

Jika kita runut, cita-cita dan bangunan kebangsaan Indonesia telah diikhrarkanoleh para pemuda dalam momentum historis Sumpah Pemuda. Sejak saat itulah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang pluralisttik menjadi harga mati. Bukan homogenitas. Meskipun konsepnya atau butir-butir ikhrar diawali dengan kata ‘Kami’, namun makna semantis dalam pernyataan atau sumpah tersebut adalah kekitaan kolektif. Karena para pemuda yang datang dari berbagai pelosok nusantara berasal dari beragam etnis, budaya, dan agama. Dengan kata lain, Sumpah Pemuda hendak menandaskan tentang hakikat menjunjung dan merawat bangsa dalam semangat bersama-sama. Tanpa dilandasi kebersamaan cita-cita memajukan bangsa tidak dapat tercapai dengan baik.

Telah adanya konsensus dan semangat kesediaan untuk saling menerima dalam keperbedaan identitas masing-masing. Persatuan Indonesia itu begitu kuat karena dengan menjadi Indonesia orang Jawa tak perlu takut kehilangan budaya Jawanya, orang Batak tak perlu takut kehilangan kebiasaan Bataknya, orang Flores akan menjadi luas pandangannya. Gambaran Sumpah Pemuda sebetulnya mencerminkan kekitaan kolektif berbangsa. Kekolektifan berbangsa tersebut semakin dimurnikan dan tampak secara jelas dalam sila-sila Pancasila, khususnya Persatuan Indonesia. Pancasila dengan jelas menyatakan bahwa Indonesia milik kita semua tanpa membeda-bedakaan mana yang mayoritas dan minoritas. Oleh sebab itu semboyan Biineka Tunggal Ika dan toleransi agama yang sudah diwariskan harus terus digembur di tengah keragaman Indonesia. Dengan demikian, tugas bersama semua elemen ke depan adalah mengurangi konflik berdarah yang terjadi di berbagai tempat di nusantara.

Soekarno di Ende, menggagas sebuah rumah Indonesia. Paling kurang ada kiat untuk upaya reaktualisasi nilai-nilai perjuangan Soekarno di Ende yang perlu digelorakan dari waktu ke waktu demi menghindari efek amnesia sejarah generasi masa depan kita. Terutama, bagaimana memandang keragaman Indonesia sebagai anugerah terindah yang patut dihidupi dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, adalah suatu komitmen bersama untuk menjadikan bangsa ini bebas dari segala kekerasan. Tentunya, generasi muda menjadi prioritas. Sebab mereka adalah pemegang estafet masa depan bangsa. Kalau pendidikan nilai dan proses internalisasi tidak mendapat skala prioritas dalam pembangunan ke depan, maka bukan tidak mungkin kita akan menghadapi badai beruntun yang tanpa disadari akan menggoyahkan bangsa ini.

Uraian yang disajikan di atas menggambarkan kondisi faktual Indonesia dalam perspektif Bhinneka Tunggal Ika sebagai simbol kebangsaan Indonesia yang plural, dan Pancasila sebagai “candi intelektual” yang menjadi dasar dan idiologi negara. Indonesia masih menjadi sebuah cita-cita yang belum selesai. Perlu diupayakan terus-menerus dari berbagai aspek kehidupan untuk mencapai cita-cita bersama adil dan makmur. Jika ini sebuah teks, maka Indonesia juga merupakan sebuah teks yang sangat luas. Di dalam teks itulah memungkinkan semua orang untuk hidup dan membangun keselarasan antara satu orang dengan orang yang lain demi tercapainya sebuah Indonesia yang maju, sejahtera, dan mandiri, sebagaimana yang pernah digagas dan diidamkan oleh Bung Karno dalam pidatonya 17 Agustus 1964, tentang Tahun Vivere Pericoloso yang menekankan pada “Trisakti”: berkedaulatan dalam bidang politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkpribadian dalam bidang sosial budaya. (*)

Selasa, 14 November 2017

Pendidikan Nilai Menjadi Prioritas Pembangunan


Pasti kita sudah gerah. Berbagai kisah getir kekerasan yang terkuak secara masif akhir-akhir ini telah turut menggetarkan nadi setiap kita sebagai sebuah bangsa. Kita pun telah kenyang dengan asupan dan makanan berita buruk yang terus-menerus kita santap dan merecoki semangat dan gairah hidup. Nurani kemanusiaan kita pun terus bersarang rasa duka nestapa. Film-film tentang bencana, juga skenario-skenario mimpi buruk yang diluncurkan oleh para pemikir prestisius dengan jelas mengabsahkan bahwa masyarakat sekarang ini tidak dapat diarahkan ke suatu masa depan karena memang tidak ada masa depan. Bagi mereka bumi sedang berlarian dan tinggal beberapa menit lagi kita diarak menuju sebuah kengerian akan perubahan besar yang paling akhir.
Beragam nada kesal juga amarah meluap-luap masyarakat saat  menyaksikan kisah-kisah kebrutalan yang tiada henti mendera bangsa ini. Seakan tidak mampu berbuat apa-apa. Seperti berada pada satu titik nadir: aforisme bangsa ini gemah santun, namun penghuninya pars pro toto banal dan kanibal. Kalau kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat ini memandu hidup kita, mengapa justru sekarang merajalela masalah kritis, genting, dan sangat membahayakan kehidupan berbangsa? Berbagai pertanyaan pun mengusik tajam. Mengapa kehidupan kita terus dipenuhi fundamentalisme, radikalisme, terorisme, sadisme, kekerasan, ketimpangan kemakmuran, dan berbagai bentuk penindasan yang tampak menafikan peran ilmu pengetahuan dan teknologi? Mengapa paranormal, peramal, ahli nujum, penghipnotis, dukun, “dunia lelembut”, iming-iming sulapan, dan sejenisnya makin hari justru makin marak, naik daun, popular menguasai hidup sekalian kita, sampai-sampai mengalahkan agamawan juga ilmuwan? Mengapa kehidupan kita makin saling curiga, saling membenci,  saling berpandangan negatif, saling tidak memercayai, saling tuduh, saling menohok kawan seiring yang adalah mencerminkan hati dan jiwa kita?
Mengapa egosentrisme, egoisme, narsisme, hedonisme, premanisme, erotisme, tipu-muslihat, amoralitas kian hari kian mengendalikan hidup kita dan membuat kita pusing? Mengapa stress, stroke, disorientasi, kehampaan hidup makin meroket, sehingga makin laris pula para ahli terapi jiwa atau pemandu rohani, bahkan penyembuh badan menawarkan jasa dan budi baik untuk mengatasinya? Mengapa gosip, rumor, kasak-kusuk, omong kosong dan berita burung semakin naik daun mewarnai hidup kita, di samping tayangan infotainment alias gosip gombal dan kabar angin selalu menempati rating tertinggi media massa elektronik yang semuanya menggambarkan tidak berfungsinya hati nurani atau jiwa kita?
Pendek kata, mengapa hal-hal yang disebutkan di atas semakin meroyak kehidupan kita? Jangan-jangan akal pikiran kita telah tersesat atau menyimpang dari jalan sebenarnya: bukannya mendukung, melainkan malah menelikung kebebasan dan kelangsungan hidup rekan dan hidup manusia? Jangan-jangan akal pikiran, pengetahuan, dan hati nurani kita sudah “mati suri” sehingga dikuasai dan dikendalikan oleh hasrat, nafsu, dan mimpi-mimpi semata?
Inikah sebuah peradaban baru yang senantiasa memberi manusia gaya-gaya baru, cara-cara baru untuk bekerja, mencintai, dan hidup makin berubah, sebuah ekonomi baru, konflik-konflik politik baru, dan yang terpenting sebuah kesadaran yang juga berubah. Tanpa disadari kita sedang terikat dalam suatu rekayasa, sebuah peradaban baru yang luarbiasa, melompat dari dasar ke atas yang oleh Alvin Tofler dalam Future Shock (1970) disebut lompatan kuantum ke depan.
Menurut mereka umat manusia (kita) tengah menghadapi sebuah lompatan kuantum ke depan dalam tiga gelombang besar. Gelombang Pertama disebutnya sebagai gelombang perubahan, secara khusus bangkitnya revolusi pertanian. Sebagian besar manusia hidup dan membentuk diri dalam kelompok-kelompok kecil, berpindah-pindah, dan mencari makanan dengan cara berburu, mengembara, meramu, memancing. Revolusi ini mengandaikan bahwa semua orang tanpa membedakan asal, bahasa, agama, suku bangsa, mesti menancapkan akarnya di bumi. Bahkan, hingga kini tidak sedikit orang pun mati dalam perjuangan keras di atas tanah, namun tidak menghasilkan apa-apa. Itulah kehidupan nenek moyang kita dahulu. Hingga paling terakhir pun, pejuang-pejuang kemanusiaan di bidang pertanian rela meregang nyawa demi membela kebenaran dan keadilan. Revolusi pertanian ini mulai bergerak kendati lambat ke seluruh penjuru planet dan merambah masuk ke desa-desa, pemukiman-pemukiman, areal cocok tanam, dan menjadi sebuah pandangan hidup baru.
Belum selesai pergerakan revolusi Gelombang Pertama, kira-kira akhir abad ke-17 pecah revolusi industri di Eropa, ketika banyak negara yang masih mencari format dan model pertanian yang baku pertanian, bahkan banyak pula yang hingga kini masih berbasis pertanian. Proses baru ini dimulai dan sekaligus dinilai bergerak lebih cepat ke semua penjuru bangsa dan benua. Dua revolusi tengah menggulung bumi, walaupun dengan kecepatan yang berbeda. Petanda bangkitnya peradaban industri di mana terjadilah pembangunan pabrik-pabrik baja, berdirinya perusahan-perusahan otomobil, pabrik-pabrik tekstil dan makanan, rel kereta api, yang begitu terasa di belahan dunia, terutama Eropa dan Amerika Utara merespons kehadiran Gelombang Kedua ini.
Kehidupan fundamental manusia dan bangsa mulai berubah seiring munculnya berbagai penemuan ilmu pengetahuan di Eropa. Kaum Nwetonian muncul dengan pemanfaatan mesin uap di bidang ekonomi dan pabrik-pabrik. Gagasan-gagasan baru mulai dimunculkan: tentang kemajuan, hak-hak individu, pemimpin hendaknya dipilih atas kehendak rakyat, bukan hak ilahiah. Pokoknya, perubahan yang sangat cepat sedang terjadi dalam setiap dimensi kehidupan masyarakat. Dimulailah pengenalan komputer, perjalanan jet komersial, pil KB, inovasi-inovasi yang berdampak besar.
Gelombang Ketiga, muncul dengan ledakan yang eksplosif. Lahir berbagai pandangan hidup baru yang asli berdasarkan sumber-sumber energi yang beragam yang pengaplikasiannya menyandarkan diri pada metode dan pendekatan-pendekatan mutakhir berbasis ilmu pengetahuan canggih melalui penguatan berbagai lembaga formal. Kepesatan informasi dengan berbagai rekayasa teknologi yang masif inilah melahirkan apa yang disebut “persinggahan elektronik” (electronic cottage).  Jagat ini lebur dalam dunia tanpa sekat, hasil kemajuan teknologi ke dalam sebuah kampung besar yang oleh Mcluhan disebut “kampung global”  (Muslich, 2009: 11). Arena besar, lapang tempat semua orang dari berbagai kampung (dunia) saling berinteraksi, bersosialisasi, berasosiasi, bertransaksi, berdialog, dan lain sebagainya. Kita pun diajak untuk lebur dalam arena lapang itu asal tetap teguh pada prinsip dan ajaran “kampung asal”, yakni ajaran-ajaran adiluhung dari budaya lokal yang dipandang penting untuk menjaga dan mengatur perilaku, tindak tanduk selama berada di dalam kampung besar tersebut.
Sekali lagi kita perlu mewaspadai ‘gelombang depan’ (wavefront) sebagai tindak antisipatif berbagai inovasi dan terobosan-terobosan pesat yang semakin menggeliat. Teknologi informasi intensif yang sedang tumbuh begitu cepat sekarang ini dengan konsentrasi pada teknologi tinggi (high-tect). Sangat terang benderang kita saksikan fakta ini. Belum cukup waktu untuk proses internalisasi sejumlah nilai pengetahuan yang akarnya dari nilai-nilai budaya lokal, kita malah diterpa berbagai kemajuan teknologi pada saat yang bersamaan. Daya tahan diri diuji oleh kepesatan media. Jadilah kita bangsa konsumtif. Bangsa yang menjadi tempat tumpah ruahnya berbagai produk legal maupun ilegal. Bangsa yang menjadi tempat eksperimen berbagai tindak teror. Bangsa tempat eksploitasi sumber daya (alam dan manusia). Bangsa yang saban hari menjadi eksperimen berbagai hasil teknologi.
Jika demikian, maka langkah efektif yang segera dilakukan adalah merevitalisasi berbagai ajaran, prinsip hidup berlandaskan ketahanan budaya melalui berbagai lembaga, seperti lembaga keluarga, lembaga formal, institusi pemerintah, kelompok-kelompok sosial kemasyarakatan, lembaga spiritual, paguyuban, dan lembaga-lembaga yang peduli akan perkembangan generasi bangsa ini. Semuanya bahu-membahu memerangi berbagai bentuk kekerasan ini. Dan, satu hal ini juga menjadi perhatian bersama.
Pancasila
                Gagasan cemerlang Ir. Soekarno dalam Pancasila sebagai dasar negara adalah hasil yang digali dari bumi dan kebudayaan suku-suku bangsa sendiri harus dilakukan secara terus-menerus dan dengan sungguh-sungguh. Secara aksiologis, jika tidak, seluruh nilai dan penjiwaannya akan luntur dan kita pun akan kehilangan jati diri, kehilangan kemandirian sehingga mudah diombang-ambingkan oleh paradigma asing yang kini mendasari tata kehidupan global (Djawanai, 2014: 258 –261).
Jajak Pendapat “Kompas” (30/5), menegaskan sangat terang bahwa Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah bersifat final (95,8%). Masyarakat Indonesia mendambakan “penularan” kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai Pancasila perlu diajarkan kembali di sekolah-sekolah (99,2%). Artinya, Pancasila telah menjadi “obat penawar” atas berbagai persoalan bangsa. Pendidikan Pancasila di semua jenjang formal disimplifikasi menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan membawa konsekuensi makin ditinggalkannya pemahaman normatif tentang Pancasila. Selain itu, nilai-nilai Pancasila seperti saling menghormati, musyawarah, gotong royong, solidaritas, kerukunan dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari semakin dipinggirkan. Jadi, Pancasila dan seluruh nilainya dapat dikembalikan dan menjadi dasar pembenihan, penanaman, dan pengembangan berbagai nilai pembelajaran formal untuk kehidupan masa depan para peserta didik di kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, adalah suatu komitmen bersama untuk menjadikan bangsa ini bebas dari segala kekerasan. Tentunya, generasi muda menjadi prioritas. Sebab mereka adalah pemegang estafet masa depan bangsa. Kalau pendidikan nilai dan proses internalisasi tidak mendapat skala prioritas dalam pembangunan ke depan, maka bukan tidak mungkin kita akan menghadapi badai beruntun yang tanpa disadari akan menggoyahkan bangsa ini. (*)




[1] Artikel ini dimuat dalam HU Flores Pos, 14 Juni 2016

Rabu, 08 November 2017

Soekarno Di Ende




1 Juni bagi bangsa Indonesia dirayakan sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Di Ende, tiga tahun belakangan peringatan ini dirayakan secara gegap gempita, melalui berbagai uapacara, semisal Parade Kebangsaan, napak tilas ke Rumah Situs Bung Karno, mengunjungi Taman Makam Ibu Fatmawati, dan berbagai kegiatan lain, dengan mengundang sejumlah tokoh penting Jakarta ke Ende. Pokoknya semarak dan menyenangkan. Artinya, Pancasila yang menjadi Landasan Idiil Negara menjadi landasan yang sakti serentak mampu menunjukkan kesaktiannya melalui lima butir yang digagas dan dituangkan sebagai dasar negara. Untuk itulah, setiap warga negara wajib hukumnya untuk mengaplikasikan secara benar dalam relasi dan cara hidup berindonesia.
 Hari dan tanggal inilah selalu dekat dengan nama Soekarno. Bahkan, ada wacana agar bulan Juni dirayakan sebagai bulan Soekarno. Nama Soekarno menjadi sebuah nama yang paling lama melekat kuat dalam setiap memori anak negeri ini, secara khusus anak-anak di Ende. Mungkin karena nama itu hanya memiliki satu kata, ringkas, dan padat. Selain bahwa Soekarno adalah Presiden Pertama Indonesia, nama ini telah menghadirkan sekian daya, seperti magnet. Bahkan, Tukang Sihir yang mampu “menyihir” dan menghipnotis anak negeri ini untuk tidak patah arang dalam menggelorakan perjuangan mendesak mundur para kolonialis. Soekarno terus menggedor kaum muda melalui pidato yang memacu “detak jantung” warga bangsa untuk tidak tega membiarkan Zamrud ini dijajah terus-menerus. Di Ende, gelora dan semangat itu juga terleret dalam bentuk tonil, cetusan dan bukti kecemerlangan berpikir dan berkarya seni Soekarno. Tercatat selama di Ende inilah beliau mencipta duabelas naskah toneel dan sempat dipentaskan di Rumah Pentas Imakulata Jalan Katedral Ende. Bahkan, dari tempat inilah Bung Karno telah meramalkan bahwa Indonesia akan merdeka tahun 1945 melalui sebuah toneelnya yang berjudul Tahun 1945. Dua naskah terkenal adalah Dokter Syaitan dan Rahasia Kelimutu. Naskah pertama pernah dipentaskan mahasiswa Prodi PBSI Uniflor bersama Prof. Steph Djawanai, Rektor Uniflor Ende, dan Alm. Taufik Kiemas yang disiarkan langsung oleh RRI Ende. Sedangkan naskah yang kedua pernah dipentaskan di Auditorium H.J Gadi Djou, oleh mahasiswa PBSI Universitas Flores, dihadapan tamu dari Kementerian Dikbud RI. Dan, untuk itulah nama Soekarno tak pernah akan dilupakan setiap anak Ende, karena di sinilah, di Ende sebelum sebagai Presiden Pertama Indonesia, Soekarno pernah mengalami masa pembuangan antara tahun 1934–1938.

Soekarno Putra Sang Fajar
Nama memaklumkan bahwa di mana saja seseorang dikenal, diingat, di sanalah juga kehadirannya dirasakan. Nama menjadi sebuah tanda. Sebuah jati diri, identitas yang membuatnya dikenal. Soekarno. Mungkin banyak di antara kita yang tidak mengetahui apa arti sesungguhnya dari nama ini. Soekarno berarti pahlawan yang terbaik atau pahlawan sejati. Dilahirkan tanggal enam bulan enam jam setengah enam pagi tahun 1901. Tahun permulaan abad baru. Ditandai dengan meletusnya gunung Kelud di Jawa. Orang menafsirkannya sebagai pertanda yang baik, yaitu suatu “penyambutan” terhadap bayi Soekarno. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, kalau gunung Agung meletus, maka itu pertanda buruk. Entahlah, mana yang benar, namun Soekarno menerima semuanya itu sebagai bagian dari nasib hidupnya. “Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran, dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan. Aku bisa lunak dan bisa cerewet. Aku bisa keras laksana baja dan aku bisa lembut berirama. Pembawaanku adalah perpaduan daripada pikiran sehat dan getaran perasaan (Bung Karno dan Pancasila, 2006: 15-16). Suatu hari sewaktu Soekarno masih kecil, ia sudah bangun pagi sekali. Ia lalu mendatangi ibunya yang sedang duduk di beranda rumah mereka. Suara ibunya tiba-tiba memecah kesunyian pagi itu, “Engkau sedang memandangi fajar, nak. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing....Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak bahwa engkau ini putra dari sang fajar (Ibid, 16). Itulah sebabnya, mengapa Soekarno disebut sebagai sosok Putra Sang Fajar. Dengan begitu, nama juga mendapatkan suatu keunikan, karena disanalah nama memperolah kepadatan makna bahwa nama telah terekspos menjadi sebuah bagian dari tutur masyarakat dalam lingkungan sosial budaya tertentu.

Mengapa Harus Ende?
Politik pembuangan (internering) Soekarno di Ende tahun 1934–1938 dianggap sebagai rumah pemulihan. Satu pertanyaan yang tidak pernah lepas dari peristiwa pembuangan ini adalah mengapa harus Ende? Ada tiga alasan, pertama, adanya penjagaan yang cukup ketat sehingga yang ditahan tidak melarikan diri. Kedua, kesempatan kerja, dan ketiga, kepekaan masyarakat sekitar kalau sekiranya ada agitasi dari Bung Karno. Ternyata dugaan para pembesar Belanda meleset karena Ende dan Flores umumnya yang ketika itu jauh dari riuh rendah politik, menjadi destinasi yang sudah jinak laksana bunga sehingga telah melepaskan atavisme “nusa nipa nusa naga” karena sudah mempertautkan dua kekuatan sekaligus, yakni kekerasan kekuasaan kolonial Belanda yang memaksakan penaklukan dengan kekerasan senjata dan kelembutan agama Katolik yang mengajarkan “cintailah sesamamu” yang asing atau sebangsa, berkulit putih atau hitam. Dengan demikian, Ende bagi Soekarno tidak sekadar kota nelayan, melainkan sebuah kota pelabuhan dengan jaringan yang luas. Di Ende jugalah Soekarno telah menemukan dirinya sebagai seorang cendikiawan, ideolog, dan seniman yang komplit. Bagi orang Ende sendiri, Soekarno adalah ata pita pu’u Jawa (orang pintar dari Jawa). Sebaliknya Soekarno sendiri memandang dirinya sebagai “seekor  burung elang yang telah dipotong sayapnya” (Dhakidae, 2013: 13).
Ende di Pulau Bunga yang terpencil itu, bagiku menjadi ujung dunia. Jalan raya adalah sebuah jalanan yang tidak diaspal yang ditebas melalui hutan. Di musim hujan lumpurnya menjadi berbungkah-bungkah. Apabila matahari yang menghanguskan memancarkan dengan terik, maka bungkah-bungkah itu menjadi keras dan terjadilah lobang dan aluran baru. Ende dapat dijalani dari ujung ke ujung dalam beberapa jam saja (Bung Karno dan Pancasila, 2006: 42-43).
Di Ende, Soekarno berhasil memungut gagasan-gagasan dasar dari budaya-budaya yang diamati dan dijumpainya, dan beliau “merajut”, mentransformasikannya, menjadi suatu “candi” intelektual yang dikenal dengan nama Pancasila, lima butir mutiara yang menjadi dasar bangunan Negara Republik Indonesia (Djawanai, 2013: 99). Yang menarik bahwa beliau mengaitkan semua sila dengan konsep tradisional gotong royang. Menurut beliau, untuk membangun Indonesia, gotong royang harus menjadi alat transformasi sosial budaya. Sebab dalam gotong royong semua saling menghargai dan tolong menolong meskipun berbeda etnik, ras, kepercayaan. Inilah romantisme Bung Karno dalam membangun konsep kebangsaan Indonesia.
Selain menjadi tempat pemulihan dan transformasi merajut candi intelektual, Ende juga menjadi tempat “perjumpaan” antara masa pembuangan penjara dengan panggung merdeka (Mukese, 2013: 102). Sebab di tempat inilah, Soekarno menjalani persahabatan tanpa batas dan menemukan wajah Belanda yang lain lewat para pastor Belanda yang berkarya di Ende. Yang kalau dicermati, mereka adalah “musuh” politik Bung Karno. Namun, ternyata fakta menunjukkan lain, bahwa para pastor Belanda itu sangat akrab dan bersahabat.
Sekali lagi, Indonesia merupakan sebuah bangsa yang plural, majemuk, beranekaragam suku, bahasa, agama, dan budaya. Sehingga tidaklah penting mempersoalkan mengapa Bung Karno harus di buang ke Ende. Terlepas ada kepentingan politik kaum kolonialis Belanda ketika itu, tetapi yang jelas bahwa Ende dan Flores adalah wilayah NKRI. Secara literer, Indonesia merupakan sebuah teks  yang sangat luas. Di dalam teks itulah memungkinkan semua orang untuk hidup dan membangun sebuah keselarasan antara satu orang dengan orang yang lain demi tercapainya sebuah Indonesia yang maju, sejahtera, dan mandiri, sebagaimana yang pernah digagas dan diidamkan oleh Bung Karno dalam pidatonya 17 Agustus 1964, tentang Tahun Vivere Pericoloso yang menekankan pada “Trisakti”: berkedaulatan dalam bidang politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkpribadian dalam bidang sosial budaya. Barangkali itulah ide dasar, mengapa Preside Jokowi dalam kabinet Kerja mengusung Nawacita dalam derap dan gegap pembangunan Indonesia.
 “Pulau Bunga akan tetap melekat kuat dalam ingatanku”, kata Bung Karno mengenai Pulau Flores atau Pulau Bunga. Ungkapan nostalgik ini berbeda jauh dengan jeritan hati di awal pembuangannya di Ende. Hidup Bung Karno telah menjadi sejarah negara dan bangsa Indonesia serta tetap terpatri dalam sanubari anak cucu negara ini. Di setiap tempat yang pernah ditapakinya, BungKarno telah menoreh kenangan tersendiri. Demikian pula di sini, di Ende, sebuah kota tengah Pulau Flores. Di kota sejarah inilah Bung Karno memahat sebuah candi intelektual yang kita kenal dengan nama Pancasila. Demikianlah peribahasa lama mengingatkan kita “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Soekarno di Ende, menggagas sebuah rumah Indonesia. Paling kurang ada kiat untuk upaya re-aktualisasi nilai-nilai perjuangan Soekarno di Ende yang perlu digelorakan dari waktu ke waktu demi menghindari efek amnesia sejarah generasi masa depan kita. (*)








[1]  Opini ini dimuat  dalam HU Pos Kupang, 18 Juni 2015