Halaman

Tampilkan postingan dengan label Wisuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisuda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 November 2023

Pemindahan Tali Kucir Toga

Toga dan Kucir

Wisuda sarjana ditandai dengan pemindahan tali kucir pada toga oleh Rektor. Dipindahkan dari kiri ke kanan. Jika sarjana selama masa kuliah berkutat dan berjibaku mengisi kepala bagian kiri dengan aneka teori, konsep, dan metodologi ilmu pengetahuan, maka pemindahan kucir ke kanan mengingatkan sarjana untuk memanfaatkan kemampuan dan kecakapan teoretis konseptual, dan metodologis ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui sikap dan praktik kerja yang kreatif, inovatif, mandiri, dan bertanggung jawab.  Praktik keilmuan yang demikian akan membuat para sarjana diterima di tengah masyarakat. Sebab ia menjadi bagian dari proses pembangunan yang sedang dilaksanakan di masyarakat.

Selamat buat para wisudawan Universitas Flores yang dilantik hari ini di Auditorium HJ. Gadi Djou, Jalan Sam Ratulangi Ende. Jadilah sarjana unggul dengan menselaraskan kemampuan teoretis dengan tindakan riil di masyarakat. (*)

Jumat, 20 Oktober 2023

Wisuda Memantapkan Diri Sarjana


Sabtu, 20 Oktober 2018, Uniflor Ende melantik 838 lulusan di Auditorium HJ Ga di Djou Ende. Pemindahan kucir dari kiri kepala mahasiswa ke bagian kanan merupakan simbol menggapai keseimbangan diri. Jika ketika kuliah, mahasiswa lebih mengaktifkan otak kiri atau wilayah Broca sebagai pusat berpikir kritis dengan mengandalkan logika dan matematika, maka dengan memindahkan kucir ke kanan menandai bahwa mahasiswa mulai mengaktifkan otak kanan dalam berperasaan dengan memunculkan ide-ide kreatif dan inovatif di tengah masyarakat. Hendaknya terjadi keselarasan antara berpikir dan bertindak, berkata atau bertutur dengan berbuat. Oleh karena itu, masing-masing sarjana "berbeda" antara satu dengan yang lain. 

Dengan kata lain, menyitir Gubernur NTT saat orasi ilmiah, lulusan mesti memanfaatkan  ekspektasi imajinasinya untuk optimis berubah. Jadi, kita semua tentu harus bergerak bersama dalam energi yang sama. Niscaya NTT akan keluar dari kubang kemiskinan menuju kesejahteraan. Jadilah sarjana yang profesional dalam aneka pekerjaan yang Anda alami. (*)

Kamis, 30 Maret 2023

Budaya Minta dan Budaya Pesta

 

Suatu situasi yang paradoks ketika memandang, melihat para kaum muda, termasuk kaum terpelajar terperangkap dalam budaya minta. Mau ke mana atau hendak melakukan sesuatu atau membuat apa masih minta uang dari orang tua atau kerabat. Tidak terkecuali sikap dan perilaku demikian dipraktikkan oleh para sarjana jebolan perguruan tinggi. Hampir saja mereka tidak punya kelincahan berkreativitas apalagi berinovasi sebagai manifestasi atas kerangka keilmuan yang telah diperoleh. Dalam perspektif positif, budaya minta secara hakiki mencerminkan solidaritas terhadap sesama sebab menanamkan rasa kesetiakawanan sosial. Namun, pada sisi yang lain, tentu sisi negatif, budaya minta telah menghadirkan, bahkan menciptakan mental malas, cari gampang, dan memperpanjang daftar pengangguran yang semakin meluas. Kita terus berharap agar budaya ini dari waktu ke waktu diminimalisir dengan tujuan agar manusia dan generasi kita tumbuh menjadi manusia mandiri dan otonom. Sikap berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) bukan berarti menciptakan egoisme, namun mengakarkan mental kuat dalam membangun diri dan bangsa.

Budaya Pesta


Pada kelompok orang-orang yang sudah berkeluarga di Flores, misalnya, kental sekali dengan nuansa pesta. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka selalu ditandai dengan pesta. Dari peristiwa kelahiran hingga peristiwa kematian, saat ajal menjemput. Fenomena ini semakin kental dalam masyarakat kita, dan jika ditelisik tentu punya manfaat positif maupun negatif. Solidaritas dan kebersamaan terus dipupuk sebab orang-orang berkumpul dan bersolidaritas bersama atas suatu peristiwa sosial tersebut. Namun, dalam perspektif yang lain pesta telah menimbulkan pesan negatif. Ambil contoh, untuk berobat atau memeriksakan kesehatan ke dokter, tidak ada uang, tetapi untuk membeli babi atau sapi demi suatu urusan yang sifatnya konsumtif, pasti ada uang. Apalagi pesta. Ada pesta pernikahan, pesta wisuda, pesta sambut baru, pesta sunat, dan lain sebagainya. Belum lagi untuk pesta urusan adat yang akhir-akhir ini juga dirasakan membebankan. Pesta merupakan bagian mengucap syukur, namun musti dipikirkan matang agar tidak menimbulkan pemborosan uang dan materi. (*)