Halaman

Kamis, 05 Maret 2020

Simon Sira Padji dan Ekologi




Ruas-ruas jalan di kota Ende masih sepih. Belum ada aktivitas. Udara pagi, Kamis, 30 Januari 2020 tidak panas seperti biasanya. Pagi lengang itu agak segar. Karena semalam kota Ende diguyur hujan. Jalan Gatot Soebroto, ke arah timur kota Ende yang oleh warga Ende disebut Jalan Gatsu tampak ramai dengan lalu lintas kendaraan. Padahal masih Pukul 05.00 pagi. Keluarga besar Universitas Flores (Uniflor) bergerak pagi sekali itu menuju kebun percobaan milik Faperta Uniflor. Waktu menuju ke sana kira-kira 20 menit. Kebun percobaan letaknya di Kelurahan Lokoboko Kecamatan Ndona Ende. Tepat di atas punggung bukit Lewolongga, tenda pelantikan telah dikreasi panitya.

Pelantikan dan sumpah jabatan Rektor Uniflor periode 2020-2024 tersebut dilaksanakan  Pukul 06.00 pagi dihadiri civitas akademika Uniflor, Bupati Ende Djafar Achmad, Ketua DPRD Ende Fransiskus Taso, sejumlah pejabat SKPD Ende, para kepala sekolah, dan undangan lainnya. Pengangkatan Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A., berdasarkan surat keputusan Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Nomor 01 Tahun 2020.

Ketika menyampaikan pidato pelantikannya, Simon memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih untuk para wakil rektor periode lalu yang oleh kerja sama tim yang baik,  Uniflor boleh mencapai akreditasi institusi B. Terima kasih yang sama Simon sampaikan kepada segenap civitas akademika Uniflor, dosen, pegawai, dan mahasiswa yang telah memberikan pikiran dan tenaganya untuk sama-sama membangun lembaga tercinta ini.

Tentang visi, Simon tetap menjadikan visi periode lalu sebagai basis perjalanan lembaga ke depan. Visi Uniflor sebagai "mediator budaya" lebih dikonkritisasi agar lulusan  mampu menjadi jembatan antara budaya lokal tradisional dengan budaya modern kemudian mensintesakan satu budaya baru untuk dihidupi dan dijalankan bersama. Agar terwujud, maka seluruh civitas menjadi manusia yang otonom dalam menjalankan tugas. Sejatinya, kata Simon, seluruh proses pendidikan adalah proses pembudayaan. Akan tetapi, selama ini di semua jenjang pendidikan proses pembudayaan terjadi satu arah, yakni penanaman budaya modern. Uniflor memilih menjadi mediator budaya agar budaya lokal tradisional tidak termarjinalisasi. Peserta didik harus mendapatkan proses pembudayaan berimbang, antara ilmu pengetahuan modern dan budaya lokal tradisional.

Simon putra petani dari Ile Boleng pulau Adonara Flores Timur itu berangkat dari  filosofi seorang petani yang menjadi bos atau tuan atas dirinya sendiri. Kita mesti menjadi bos atas diri kita karena kita sadar atas pekerjaan kita. Menciptakan ekologi kerja yang menyenangkan. Memang merubah pola pikir itu butuh waktu. Namun segenap civitas musti perlu bekerja dengan gembira, tanpa paksaan, maupun di bawah tekanan. Menyitir Almahrum Prof. Steph Djawanai, setiap kita harus berevolusi dari waktu ke waktu agar mencapai mutu yang baik. Berarak menuju humanisme baru dalam mencapai kepenuhan human yang ditandai oleh kreativitas dan tanggung jawab yang tinggi.

Bupati Ende Djafar Achmad mengapresiasi pelantikan yang menakjubkan karena dilaksanakan di kebun, dan menurutnya baru pertama terjadi di Ende, bahkan mengkin di Indonesia. "Saya kagum dengan acara pelantikan yang bernuansa alam ini. Ternyata dari puncak bukit kebun percobaan kita memandang keindahan kota Ende yang sangat indah dan elok. Bahkan, jika kita di kota Ende kita memastikan bahwa gunung Meja menjadi gunung yang tinggi, namun ketika kita berada di bukit ini, malahan gunung Ia lebih tinggi dari gunung Meja, ucap Bupati Djafar diikuti gelak tawa hadirin. Momentum ini menjadi inspirasi untuk menata kawasan-kawasan di sekitar kota Ende menjadi destinasi wisata. Selain itu, acara ini mengajak kita semua untuk keluar dari zona nyaman dalam menemukan hal-hal baru yang selama ini belum di lakukan.  Menyinggung soal sampah yang sudah meresahkan masyarakat Ende, beliau mengajak civitas Uniflor untuk membantu memberikan edukasi untuk warga. Terutama perilaku hidup sehat di tengah masyarakat.

Ketua Yapertif, Dr. Lory Gadi Djou, mengucapkan selamat kepada Rektor Uniflor, Doktor Simon. Yayasan mengambil tempat pelantikan di kebun ini agar ke depan lembaga Uniflor terus berpihak pada ekologi lingkungan. Uniflor musti di depan dalam upaya pelestarian lingkungan. Itu artinya, kita peduli akan masa depan daerah ini, tandas Lory mengakhiri sambutan singkatnya.

Turut dilantik pada kesempatan itu adalah Ferdinandus Lidang Witi, S.E.,M.Kom., sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik, Lucia Banda, S.E., M.Si., sebagai Wakil Rektor Bidang Kesejahteraan, Stefanus Notan Tupen, S.Pd., M.Si., sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Ernesta Leha, S.E., sebagai Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, dan Yohanes Laka Suku, S.T., M.T., sebagai Sekretaris Eksekutif Rektor. (*)

Selasa, 05 November 2019

Menjadi Sarjana “Mediator Literasi”


Wisuda merupakan momentum akademik. Ia sekaligus menjadi tanda selesainya proses akademik di kampus atau lembaga perguruan tinggi. Setelah seorang mahasiswa jatuh bangun, mengalami suka dan duka mengikuti seluruh proses perkuliahan. Dengan menyelesaikan 147 sistem kredit semester, selama itu pula mahasiswa secara individu maupun kelompok dalam tim sekuat daya berusaha menimba dan menambah ilmu pengetahuan untuk masa depannya. Jika, kurun waktun tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, maka dipastikan yang bersangkutan akan terpental dalam persaingan merebut masa depan. Itulah sebabnya, ketika menyandang gelar sarjana, serentak tanggung jawab kemasyarakatan dipikul dipundak. Dan, pertanggungjawaban keilmuan pun segera dimulai ketika momentum itu berlalu. Tidak ada lagi kata-kata “saya belum siap” dan lain sebagainya.
Ujian keilmuan di tengah masyarakat atas isi kepala dan penguasaan skill atau keterampilan menjadi tanggung jawab yang paling besar untuk diaplikasikan. Seberapa banyak ilmu yang diendap dapat berguna bagi kemaslahatan masyarakat. Pokoknya masyarakat sebagai pengguna jasa turut terbantu dengan kehadiran para sarjana baru. Untuk itu pula para sarjana harus memiliki kecerdasan. Kecerdasan inilah yang akan dimanfaatkan dalam memadu kemampuan ilmu dan pengalaman faktual. Kecerdasan untuk beradaptasi sekaligus menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana para sarjana itu berada. Dengan demikian, tolok ukur kecerdasan tidak hanya dinilai dari kecakapan berlogika, tetapi juga kecakapan interpersonal dan kecakapan eksistensi.
Kecerdasan interpersonal merupakan kecakapan sosial. Kecerdasan atau kecakapan  untuk belajar tentang kelindan kehidupan bermasyarakat. Jika selama belajar di lingkungan kampus, interaksi sosial mahasiswa terbatas, maka telah tiba waktunya bagi para sarjana untuk masuk pada hakikat ilmu dan pengabdian yang sesungguhnya. Belajar kembali untuk memahami dan berinteraksi dengan orang banyak dalam skala tanpa batas. Jika demikian, Anda pun pasti mampu bekerja loyal dengan siapa saja, dan bersosialisasi secara lebih terbuka. Bahkan, dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh para sarjana menjadi mediator ide dan gagasan pembangunan yang terukur di tengah komunitas dan masyarakat sosial.
Kecerdasan eksistensial mengarah pada optimalisasi kecerdasan untuk selalu dan terus-menerus mempertanyakan eksistensi diri dan masyarakat. Terutama, apa peran “saya” (sarjana) dalam merangsang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika demikian, maka para sarjana terus menggelorakan dalam dirinya semangat untuk keluar dari kemapanan yang dimilikinya. Terus bervisi kebaikan di antara bau pesing dan pengabnya udara negeri ini akibat tumpukan persoalan yang selalu saja hadir tanpa henti. Bagi saya, justru di sinilah kadar intelektualitas para sarjana diuji akan kekonsistenannya menerapkan ilmu. Di sanalah laboratorium sesungguhnya sebagai medan eksperimentasi kecerdasan yang dipunyai. Dalam konteks inilah, dengan tujuan merespon penumbuhan budi pekerti warga sekolah dan warga masyarakat, saya menganjurkan agar para sarjana Universitas Flores yang dilantik hari ini hadir menjadi “mediator literasi” di tengah kerisauan dan keprihatinan akan rendahnya daya literasi dalam masyarakat kita. Literasi merupakan gerakan membaca dan menulis. Gerakan baca dan tulis adalah salah satu dari enam literasi paling dasar yaitu, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Kiat menjadi mediator literasi selaras dengan visi Universitas Flores, yakni menjadi mediator budaya.
Tuntutan keterampilan literasi pada abad 21 ini adalah kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Tuntutan ini dapat dicapai hanya melalui kecakapan dan kemampuan berliterasi. Dengan alasan tersebut literasi telah menjadi gerakan nasional. Karena itulah, para sarjana perlu menjadi inisiator dan transmisator gerakan literasi di sekolah maupun di desa. Kegiatan membaca dan menulis di sekolah dan masyarakat diharapkan berevolusi dari waktu ke waktu, terutama melalui pembiasaan kondisi pembelajaran yang terus-menerus melibatkan semua unsur masyarakat. Seluruh unsur mampu menciptakan suatu ekosistem belajar yang kondusif untuk menunjang keberhasilan gerakan literasi.
Upaya ini berfaedah menciptakan warga sekolah dan anggota masyarakat untuk sanggup memperbincangkan tentang keberadaannya, mendiskusikan pekerjaannya, serta menulis tentang mata pencahariannya. Bahkan, kelak misalnya akan dapat memublikasikan pikiran, gagasan tentang tata cara bertani, menanam aneka sayuran hingga tanaman-tanaman umur panjang. Jika demikian, maka warga sekolah juga masyarakat telah berperan menjadi produsen ide dan gagasan kreatif inovatif pembangunan yang gemilang, sekaligus menjadi masyarakat yang kritis terhadap aneka program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah di masyarakat.
Bahkan, secara intensif, para sarjana menjadi mediator dalam melakukan sosialisasi dengan semua perangkat desa dan orang tua tentang manfaat literasi bagi kehidupan masa depan anak. Agar para perangkat desa dapat membangun kebiasaan positif dengan memulai dan mengakhiri jam kantor dengan aktivitas membaca. Para perangkat desa termotivasi dari waktu ke waktu menyediakan bahan bacaan yang bersentuhan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Jika, gagasan ini tertata dan terlaksana secara rutin dan teratur, maka warga masyarakat menjadi melek literasi. Kantor desa tidak saja menjadi pusat administrasi pemerintahan desa, namun menjadi pusat informasi berbagai ilmu pengetahuan. Semua warga masyarakat dengan mudah mencari dan mendapatkan berbagai informasi melalui aktivitas membaca di kantor desa. Di sekolah pun demikian, aktivitas berliterasi harus menjadi kebiasaan yang positif.
Untuk maksud inilah, para sarjana merencanakan konsep kearifan duduk bersama memperbincangkan masa depan pendidikan anak dan masa depan masyarakat. Mulailah dengan hal-hal yang sederhana. Mulailah dengan memberi contoh. Jika selama ini kearifan duduk bersama hanya pada hal-hal konsumtif, maka sebagai mediator literasi para sarjana mulai meretas kearifan hakiki eksistensial masyarakat yang bernuansa literasi. Perlu rekayasa program dengan memanfaatkan kekuatan dan kemampuan ilmu yang diperoleh dalam mentransmisi pesan dan gagasan baru literasi. Kita pun masih berharap tentang respons dan intervensi lembaga politik dan pemerintah daerah dalam mengapresiasi kerja-kerja anggota masyarakat yang berkecimpung dalam gerakan-gerakan peradaban seperti ini.
Akhirnya, saya mengucapkan selamat dan sukses dalam mengemban tugas baru. Saya mengulang pesan si jenius, Albert Einstein, peraih nobel  untuk sumbangannya dalam bidang ilmu fisika, buat para sarjana yang akan terpencar ke segala penjuru, pelosok desa, dan sudut kota demi aplikasi pekerjaan kemanusiaan. “Adalah tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaanmu akan meningkatkan berkah manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan ikhtiar teknis, agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan. Janganlah kau lupakan hal ini di tengah tumpukan diagram dan persamaan”. (Suriasumantri, 1999). (*)






[1] Artikel opini ini pernah dimuat dalam Harian Umum Flores Pos, 12 Oktober 2019

Kamis, 23 Mei 2019

Gerakan Literasi, Sebuah Catatan


Kemampuan dan kecakapan berliterasi diyakini dapat membebaskan kebodohan masyarakat, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan mendorong kemajuan masyarakat. Keyakinan ini menunjukkan bahwa masyarakat berliterasi dapat menghasilkan masyarakat yang mandiri dan berkembang. Kondisi itulah mendorong Unesco menetapkan tahun 2008–2013 sampai Dasawarsa Literasi Dunia untuk mendorong masyarakat dan negara memperkuat kemampuan dan kecakapan berliterasi. Untuk itu, perlu digagas, dibangun dan diperkuat masyarakat berliterasi Indonesia sampai ke pelosok desa. Lembaga pendidikan sekolah dasar dan menengah, serta masyarakat di mana lembaga pendidikan itu berada menjadi sasaran kecakapan berliterasi.
Pada kerangka yang sama di abad ke-21 ini, Unesco, lagi-lagi merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan atau pendidikan seumur hidup yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar pembelajaran, yakni (1) learning to know (belajar untuk menguasai pengetahuan), (2) learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan), (3) learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan (4) learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat).
Belajar sesungguhnya adalah belajar tentang hakikat hidup itu sendiri. Belajar tentang aktualisasi diri agar mampu memahami jati diri dan kebutuhan sesama warga di sekitarnya. Siswa belajar tentang bagaimana berperilaku sesuai norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat. Siswa mampu menjadi pribadi yang terbuka, toleran, solider, setia kawan, memiliki rasa ingin tahu, berkorban tanpa prasangka apapun dalam kehidupan bermasayarakat. Dengan demikian, siswa akan menjadi seorang pribadi yang utuh dan memiliki keseimbangan aspek kemampuan intelektual, sikap, kepribadian, dan moral, serta keterampilan yang memadai sebagai bekal hidup di masayarakat.
Visi membangun pendidikan yang bermartabat terus bergelora seiring tumbuh dan berkembangnya globalisasi. Tuntutan perbaikan taraf kehidupan bangsa melalui aspek pendidikan menjadi agenda yang sangat mendesak. Pencanangan Program Wajib Belajar Sembilan Tahun bagi rakyat Indonesia menjadi agenda strategis. Tujuannya agar memutus mata rantai drop out di tingkat dasar dan menengah sehingga masyarakat Indonesia wajib mendapatkan pendidikan yang layak dan tumbuh menjadi insan yang cerdas. Termasuk di dalamnya adalah agar semua masyarakat dapat memiliki kemampuan baca, tulis, dan berhitung. Atau, yang akhir-akhir ini dikobarkan dalam semangat gerakan literasi.
World Economic Forum tahun 2015 menyepakati enam literasi dasar yang menjadi tanggung jawab penuh semua elemen masyarakat, baik itu orang tua, masyarakat umum, maupun lembaga-lembaga pendidikan di negara ini. Enam literasi dasar yang disepakati tersebut, yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Penggiatan literasi telah mendapat tempat yang proporsional sebagai sebuah gerakan bersama yakni Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diluncurkan pemerintah melalui Permendiknas Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Roh Permendiknas ini menjadi instrumen pengayuh tanpa henti yang dapat dilakukan oleh semua elemen dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya budaya literasi di sekolah dan masyarakat umum. Gerakan yang dimaksudkan dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.
Literasi memang tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa, yaitu membaca dan menulis dengan baik. Namun, dalam perkembangannya literasi tidak sebatas membaca dan menulis, melainkan juga menyangkut keterampilan mendengar dan berbicara agar seseorang dapat berkomunikasi dengan baik. Ada perjumpaan antara keterampilan berbahasa reseptif (mendengar dan membaca), dan keterampilan berbahasa produktif (berbicara dan menulis). Semuanya mutualistis sekaligus merupakan “jalan masuk” bagi pengembangan dan eksplorasi (bahkan mungkin sampai eksploitasi) diri seorang individu atau anak sebagai makhluk yang komplit dan berkelimpahan. Ini menjadi jalan atau pintu untuk mengenal dunia luar. Jalan inilah menjadi pilihan tepat dan relevan untuk mulai merancang budaya literasi agar kehidupan siswa ke depan menjadi lebih bermakna bagi dirinya juga bagi orang lain. Gerakan ini akan bermuara pada peningkatan kapasitas kemampuan siswa untuk meresepsi dan memproduksi pesan, selain menghadirkan peluang dalam ranah memperluas cakrawala dan intelektualitas siswa dalam berpikir kritis dengan nalar dan logika yang runtut, sistematis dalam aneka dialektika pandangan, pendapat, dan gagasan dengan argumentasi yang apik dan teratur.
Manusia juga berceritera secara visual dalam coretan, dan lukisan–yang kemudian berkembang menjadi tulisan, dan secara kinesik dalam gerak–tari, misalnya. Manusia juga bernarasi, bercerita mengenai apa yang dibayangkannya, dipikirkannya sendiri, bahkan tentang apa yang tidak ada karena ia menggunakan lambang yang abstrak yang dapat mengacu kepada apa pun. Manusia menghidupi kesehariannya dengan bercakap-cakap secara lisan. Percakapan membuat seseorang menjadi manusiawi, menjadi sosial dengan menyentuh orang lain dengan kata-kata. Namun, dalam perkembangannya manusia juga menulis, dan tulisan tersebut membuatnya menjadi beradab dan bermartabat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Gusdorf (dalam Djawanai, 2015). Bahkan banyak kalangan memandang bahwa menulis sebagai komunikasi tulis telah membawa manusia memasuki peradaban baru, yaitu peradaban keberaksaraan, sehingga kegiatan membaca dan menulis pada umumnya dipandang positif.
Dengan demikian, warga sekolah akan tumbuh secara matang dan mampu menjadi masyarakat madani (civil society) atau masyarakat warga yang berperadaban sehingga senantiasa memiliki kemampuan bersikap dan bertingkah laku beradab yang terus-menerus berada dan membangun pola perilaku kemandirian, keberdayaan, ketenggangrasaan (toleransi), kemajemukan (pluralisme), kesetaraan dan kesederajatan (egalitarianisme), keterbukaan (inklusivisme), kemanusiaan, kejujuran, dan kedisiplinan. (Saryono, 2006:179).
Integrasi Pembelajaran Literasi dalam Setiap Mata Pelajaran
Dalam kata-kata Umberto Eco, “Membaca muncul sebagai kesepakatan kooperatif antara pembaca dan teks”. Karena tidak ada yang lebih mudah dibandingkan dengan berpikir, jadi tidak ada yang lebih sulit dibandingkan dengan berpikir baik (Thomas Traherne). Berpikir baik selalu dipengaruhi oleh membaca baik. Buku adalah gudang ilmu pengetahuan. Oleh itu, membaca adalah kunci satu-satunya untuk membuka gudang yang menyimpan sejuta harta karun yang disebut ilmu pengetahuan itu. Buku juga menjadi jendela untuk memahami diri dan memahami orang lain.
Membaca membantu mengenali masyarakat serta kelindan kehidupan suatu masyarakat. Guru dan siswa bersama-sama menginisiasi program literasi di sekolahnya. Warga sekolah perlu memulai dan mengembangkan kemampuan literasi melalui tiga pilar literasi dasar, yakni membaca, menulis, dan berhitung. Alasannya membaca membuat seorang bisa (pandai) menulis, dan keterampilan menulis pada seseorang menjadi baik karena ditopang oleh kebiasaan membaca yang baik pula. Jadi, membaca dan menulis adalah dua keterampilan yang  inheren dan tidak terpisahkan dalam diri seorang siswa. Di samping itu, kemampuan berhitung juga menjadi aspek yang perlu dikembangkan secara seimbang dengan dua aspek literasi di atas. Antara ketiga aspek literasi yang dimaksudkan tidak ada yang lebih prioritas, namun ketiganya dapat dilaksanakan secara bersama-sama.
Dalam konteks memandang literasi sebagai sebuah gerakan bagi warga sekolah, serentak menjadikan warga sekolah dan lingkungan sekitar untuk melek huruf dan angka. Upaya ini berfaedah menciptakan warga sekolah dan anggota masyarakat sekitar untuk sanggup memperbincangkan tentang keberadaannya, mendiskusikan pekerjaannya, serta menulis tentang mata pencahariannya. Bahkan, kelak akan dapat mempublikasikan pikiran, gagasan tentang tata cara bertani, menanam aneka sayuran hingga tanaman-tanaman umur panjang. Jika demikian, maka warga sekolah juga masyarakat di sekitarnya telah berubah fungsi dan perannya menjadi produsen ide dan gagasan kreatif inovatif pembangunan yang gemilang. Warga sekolah sekaligus masyarakat sekitar akan menjadi masyarakat yang kritis terhadap aneka program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah di masyarakat.
Jika GLS benar-benar dijalankan dengan baik dan teratur di sekolah, maka akan ada beberapa faedah lain yang diperoleh, yakni: pertama, siswa pada akhirnya akan memiliki kecenderungan untuk berpikir bebas, terbuka, dan eksploratif, mengembara (roaming) dengan dunia luar melalui pembelajaran yang interaktif dalam bangunan komunikasi yang inklusif dan inovatif (Tilaar, 2002:124). Kedua secara kolektif kemasyarakatan, masyarakat desa perlu membangun unit-unit pendidikan berkelanjutan, tanpa meninggalkan identitas-identitas kultural yang telah ada dalam masyarakat. Misalnya, arisan-arisan pendidikan, koperasi, kumpul keluarga pendidikan, dan ketiga, pelaksanaan gerakan literasi yang berkesinambungan di sekolah dan masyarakat membuat siswa sebagai individu sekaligus anggota masyarakat dapat menjauhkan sikap malas, putus asa, rendah diri, sebaliknya mengembangkan dan memupuk sikap kerja keras, saling membantu, menabung, kerja sama, demi terciptanya masa depan generasi yang cerdas, terampil, visioner, bersemangat, unggul, dan kompetitif.
Belum tertata dan terintegrasinya secara baik pembelajaran literasi antara semua mata pelajaran dalam struktur kurikulum sekolah menjadi salah satu faktor penghambat tumbuh dan berkembangnya kemampuan dan kecakapan berliterasi para siswa dan guru di kedua sekolah tersebut. Tanggung jawab kegiatan berliterasi sepenuhnya dibebankan kepada guru mata pelajaran bahasa Indonesia atau menjadi tanggung jawab guru kelas. Penataan integrasi pembelajaran bagi para guru tentang urgensi literasi dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan menjadi fokus. Dengan asumsi bahwa jika semua guru memiliki pemahaman yang sama serta ikhtiar tunggal mengembangkan kemampuan dan kecakapan berliterasi pada diri para siswa, maka para guru dapat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran terintegrasi literasi di dalam rencana persiapan pembelajaran.
Dengan demikian, pelaksanaan literasi tidak saja bermanfaat untuk menjadikan para siswa dan guru mahir membaca, namun hasil bacaan dapat digunakan sebagai contoh menulis berbagai tema kehidupan mereka. Pada titik inilah, para siswa dilatih dan dibiasakan untuk terampil dalam berbahasa, terutama berpikir secara teratur, baik lisan maupun tulisan, serta bertindak secara mandiri dalam membahas soal-soal yang berkenaan dengan mata pelajaran di sekolah dan kehidupannya di rumah dan masyarakat.
Peran Orang Tua dan Masyarakat
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan literasi juga berkenaan dengan  faktor kesinambungan. Orang tua belum memberikan perhatian yang serius terhadap penumbuhan kemampuan dan kecakapan berliterasi pada anak. Masyarakat di lingkungan sekolah yang tidak terbiasa dengan membaca, sekurangya membaca tentang hal atau informasi yang berkenaan dengan pekerjaannya. Atau informasi sehubungan dengan pola asuh dan pola tindak berkaitan dengan fase atau perkembangan anak, termasuk upaya penanganan kesulitan proses belajar anak.
Kondisi demikian sangat membuat orang tua keterbatasan akses pengetahuan untuk mengetahui kesulitan belajar anaknya, bahkan mungkin akan sangat sulit dalam ikut serta memecahkan kendala-kendala pembelajaran anaknya di sekolah. Masyarakat atau orang tua seakan lepas tanggung jawab tentang pendidikan anaknya. Mereka lebih sibuk untuk mencari nafkah, termasuk uang untuk menafkahi hidup keluarga dan membiayai pendidikan anak. Tanggung jawab pendidikan serentak dibebankan kepada pihak sekolah seusai anak didaftarkan ke sekolah. Perkembangan belajar anak atau siswa sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru.
Membuat jadwal secara teratur bagi anak di rumah adalah salah satu upaya melatih anak untuk menghargai waktu. Artinya, anak tidak saja “bermain”, namun ada waktu untuk memulai literasi, walaupun dalam kemampuan yang terbatas. Jika, kearifan seperti ini ditanamkan di rumah secara baik dan teratur, niscaya kemampuan anak akan tumbuh selaras dengan harapan orang tua dan masyarakat. Oleh karena itu, orang tua perlu menyiapkan bahan-bahan bacaan, sesuai kebutuhan anak agar anak tidak merasa jenuh.
Belum tampak kearifan dalam masyarakat untuk duduk bersama memperbincangkan masa depan pendidikan anak. Kalaupun ada, kearifan duduk bersama terbatas pada urusan-urusan yang sifatnya konsumtif. Secara tidak langsung, sikap masyarakat memprioritaskan hal-hal yang bersifat komplementer dan mengabaikan hal hakiki yang merupakan kebutuhan dasar manusia merupakan sebuah langkah mundur. Perlu rekayasa energi dan kearifan baru di tengah masyarakat dalam mengupayakan pendidikan secara umum, dan kecakapan literasi secara khusus demi masa depan pendidikan anak-anak bangsa. Tak lepas dari itu, intervensi lembaga politik dan pemerintah daerah dalam menghadirkan regulasi yang produktif pendidikan sekaligus mengimplementasikannya di lapangan secara konsisten menjadi harapan masyarakat. #SahabatKeluarga dan #LiterasiKeluarga. (*)