Halaman

Selasa, 10 Desember 2024

Drama Teka Iku


Sabtu, 09 Januari 2021 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Flores menyelenggarakan pentas drama cerita rakyat dari Kabupaten Sikka yang berjudul Teka Iku. Drama yang dipentaskan oleh
mahasiswa semester V bertempat di Anjungan PBSI Uniflor.

 “Saya memberi apresisasi yang setinggi- tingginya kepada mahasiswa semester V untuk perjuangan sampai pementasan. Banyak kendala dari proses latihan sampai pementasan, namun kuasa Tuhan dan leluhur acara ini berlangsung luar biasa. Beberapa hal positif yang diungkapkan oleh Kaprodi PBSI Dr. Drs. Yosef Demon Bataona, M.Hum., Pertama,  background yang sederhana namun akting dari masing-masing pemeran sangat luar biasa menjadikan panggunannyahidup, kedua, masing-masing pemeran menjiwai perannya, ketiga, busana daerah yang natural, keempat, tata musik dan lampusangat bagus, namun sedikit redup, yang membuat suasana sedikit gelap dengan latar kain hitam, tetapi semangat benar-benar luar biasa, dan kelima, peran sutradara sangat luar biasa dalam memadu berbagai karakter pemain menjadi utuh.

Teka Iku

Drama Teka Iku mengisahkan tentang rakyat kecil yang dijajah, diperas, dipaksa, dan diwajibkan membayar pajak kelapa tiap pohon empat buah tiap tiga bulan. Selama satu tahun 16 buah dan harus dihantar ke pesisir untuk ditanam, dirawat, demi kepentingan Ratu Negeri Belanda dan para raja/ratu tawa tana. Teka Iku muak atas perbuatan dan tingkah laku penjajah yang dijuluki Ata Bura Pikut Saan bersama para penjilat yang juga dikatakan anjing belang penjilat (ahu kela lea tai).

Pementasan drama yang dilakukan sangat bagus. Selama kurang lebih 2 bulan berlatih, mahasiswa mampu menampilkan pementasan yang meriah seperti ini. Apresiasi dari bapak/ ibu dosen pun luar biasa. Saya dapat melihat dan merasakannya ketika mereka sedang berlatih, kerja sama dan rasa kekeluargaan yang sangat erat itu terbangun, dari sutradara dan tim pemain atau pemeran. Pementasan drama dapat memberikan kontribusi nilai hidup terhadap mahasiswa dalam kehidupannya sehari- hari. Dalam ranah pembelajaran drama dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan kepandaian, misalnya dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, kesusastraan, bersifat permainan, memberikan pengertian baru, berlatih gerak, menyanyi, menyesuaikan kata dengan pikiran, rasa, kemauan dan mengajarkan adat sopan santun, demikan Ibu Encys, pengampu dan pendamping drama Teka Iku.  “Semoga kegiatan ini bisa dikemas lebih menarik untuk menjadi nilai jual prodi ke depan”, harap Eta Larasati, dosen PBSI Ende

 

Lota, Memaknai Keberagaman

 

Bahasa dan budaya adalah dua sistem yang melekat. Bahasa adalah sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi, sedangkan budaya merupakan sistem yang mengatur interaksi itu sendiri. Budaya tidak saja berwujud benda atau fisik yang dapat diindrai, melainkan berwujud gagasan yang bersifat abstrak berupa suprastruktur ideologis, gagasan atau konsep-konsep. Bahkan, berwujud perilaku atau sistem sosial yang bersifat konkrit menyangkut sistem-sistem, pola atau konsep yang sudah dilaksanakan dalam masyarakat. Jadi, kebudayaan adalah proses dan produk pikiran, perasaan, dan perilaku manusia, hasil pengalaman manusia dengan diri, masyarakat, dan alam kosmos.

Lota

Lota adalah produk pikiran komunitas etnik Ende yang digunakan sebagai wahana, wadah, atau sarana menyampaikan dan menerima maksud orang lain. Tentu dalam interaksi menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Lota dipilih sebagai nama Bulanan LOTA PBSI sekali lagi untuk mempertegas jati diri keetnikan kita. Ini cuma salah satu contoh untuk menegaskan bahwa setiap etnik yang ada dan hidup di Flores Lembata punya kekhasan identitas yang perlu digali untuk memperkaya jagat kebudayaan kita sekaligus memaknai keberagaman Indonesia.

Jumat, 25 Oktober 2024

Rakyat

 Judul tulisan ini saya ambil persis dari judul puisi yang ditulis oleh penyair Hartojo Andangdjaja yang berjudul Rakyat. Saya kutip penggalan puisi bait pertama tersebut. Rakyat ialah kita/jutaan tangan yang mengayun dalam kerja/di bumi di tanah tercinta/. Puisi Rakyat terhimpun dalam antologi puisi Buku Kita (1973). Hartojo Andangdjaja lahir pada 4 Juli 1933. Beliau seorang penyair yang juga berprofesi sebagai guru. Pada bagian awal puisi Rakyat, penyair Hartojo menulis /Hadiah hari krida/Buat siswa-siswa SMA Negeri/Simpang Empat Pasaman/. Melalui catatan awal tersebut, dipastikan puisi ini didedikasikan untuk para siswa SMA Negeri Pasaman Sumatera Barat, tempat penyair mengabdi sebagai guru pegawai negeri. Secara eksplisit kita pun tahu bahwa adalah keniscayaan peran seorang guru untuk mendidik para siswa secara khusus menyampaikan pesan dan nilai-nilai kehidupan bagi para siswanya.

Namun, apakah kehadiran dan pesan puisi tersebut hanya untuk para siswa yang disebutkan secara eksplisit dalam puisi tersebut? Atau pesan itu juga mendarat pada setiap kita yang bernama rakyat. Ya, rakyat. Rakyat adalah kita, tandas Hartojo. Tentu saja ia, karena puisi rakyat ditulis dalam bahasa rakyat yang jernih dan sederhana. Menjunam pada kedalaman makna dan suasana batin dan realitas hidup kerakyatan. Dicipta beberapa dasawarsa lalu, tetapi tentu saja pesanya masih sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Penyair percaya pada sikapnya bahwa puisi yang baik justru sampai ke pembacaan pembaca dan mudah ditangkap maknanya, oleh orang awam sekalipun, termasuk oleh kita rakyat kebanyakan. Sebab, Hartojo sang penyair tahu bahwa dalam skala berbangsa (baca juga daerah) kita: rakyat merupakan sumber kedaulatan dan penentu bagi tegak dan berdirinya negara. Untuk itulah, rakyat menjadi elemen strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Puisi Rakyat saya kutip di sini untuk semacam memberikan apresiasi dan penghargaan bagi jubelan wakil rakyat di parlemen-parlemen kita dari pusat sampai daerah yang baru saja dilantik dan diambil sumpah mewakili rakyat kebanyakan. Kutipan ini pula sekaligus merupakan awasan agar para wakil rakyat terhormat tidak terlena dan jatuh dalam hedonisme dan tawaran mendadak. Apalagi, mereka telah dan sedang menempati gedung-gedung terhormat. Duduk di kursi-kursi empuk. Menikmati fasilitas-fasilitas mewah. Aduhai, bahkan mungkin dengan make up dan dandanan gemerlap. Digaji dengan hasil uang rakyat. Berpuluh-puluh juta. Ya, mereka prioritas, karena tugas mulia berpikir dan bertindak untuk rakyat. Kita mengucapkan selamat datang kepada mereka.

Jangan lupa rakyat yang telah memilih dan mengutusmu ke tempat terhormat itu. Pakailah amanat tersebut untuk kesejahteraan rakyat. Bukan saja di daerah pemilihanmu. Bukan juga untuk kroni-kronimu dan keluargamu semata. Jangan pula hanya untuk para tim suksesmu yang ingin selalu di depan. Namun, untuk semua kita: rakyat. Rakyat adalah kita. Bukan tentang asal-usulmu saja.

Rakyat yang dijanjikan program sewaktu kampanye. Mereka dengan peluh keringat melawan gelombang pasang, mendayung sampan untuk istri dan anak. Mereka kaum petani mencecap daki yang menetes disergap matahari siang. Para buru tukang yang terus setia menyeruput bau bahan bangunan tanpa jedah. Rintihan anak sekolah yang sepatunya aus setelah bolak-balik berkilo mengenyam nasib pendidikan masa depan. Dan, masih banyak lagi kisah keseharian rakyat. Mereka butuh keadilan sosial agar hidup, terutama masa depan anak cucu dapat lebih baik.

Dalam konteks serupa, penyair Flores John Dami Mukese dalam bagian puisi Doa Kaum Jelata yang ditulis di Ende tahun 1983 menulis begini: /Saudaraku, kuharap kau dengar doaku malam tadi/Bukan agar kau ditimbuni harta bergudang/Atau dibanjiri rupiah berjuta/Karna hidup bukanlah timbunan barang/Tapi cumalah himpunan amal/Juga tidak gunungan uang/Tapi niscaya bukit perjuangan/ Saudaraku, kuharap kau dengar doaku malam tadi/Dan tahu kalau ada seseorang berdoa untukmu/Bukan Malaikat, bukan orang kudus/Bukan raja, bukan pula menteri/Tapi aku, sesamamu jelata/Yang tahu persis nuansa derita.

Penggalan puisi John Dami Mukese adalah juga merupakan doa bagi para wakil rakyat kita. Hari-hari ini, kita rakyat yang sama yang punya kedaulatan sedang menghadapi masa kampanye pemilihan kepala daerah langsung serentak. Pilihan kita sangat membantu mewujudkan kesejahteraan bersama pada masa yang akan datang. Kita pun percaya mereka akan mendengar doa dan seruan penyair Dami Mukese, serta doa dan harapan rakyat. Rakyat dan Doa Kaum Jelata senafas dengan harapan kita bersama. (*)

Lokakarya Bahasa Daerah di Dalam Kelas

 Bertempat di Aula FKIP Universitas Flores, Jalan Sam Ratulangi Ende dilaksanakan Lokakarya dengan topik “Bahasa Daerah di Dalam Kelas (Making Space for Local Languages in Our Classroom)”. Lokakarya menghadirkan Grace B. Wivell, PhD Candidate, Stony Brook University. Peserta lokakarya terdiri dari para guru SD, SMP, SMA, sekabupaten Ende. Lokakarya ini juga dihadiri oleh para dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores Ende. 


 

Mewakili Dekan FKIP Universitas Flores, Wakil Dekan Bidang Akademik  Yasinta Embu Ika, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa bahasa daerah tidak sekadar dipahami sebagai alat komunikasi masyarakat etnik, melainkan menjadi cerminan kekayaan budaya dan kearifan lokal. “Bahasa daerah kita tidak hanya sebagai alat komunikasi saja, melainkan cerminan budaya dan kearifan lokal,” tegas Sinta. Untuk itulah, kita juga anak-anak kita harus merasa bangga atas Bahasa daerah atau Bahasa ibu mereka.

Dalam penyampaian awal lokakarya, Grace yang sedang melakukan riset disertasi tentang A Morphosyntactic Grammar of Lio menegaskan bahwa tujuan dilaksanakan lokakarya ini adalah untuk melestarikan budaya dan pengetahuan lokal, terutama membincangkan upaya melestarikan bahasa daerah yang ada di setiap etnik. Menyitir data Kongres Bahasa Indonesia 2023, menunjukkan bahwa terdapat 718 bahasa daerah di Indonesia, yang antara lain 90% di wilayah Indonesia timur, 428 di Papua, 80 di Maluku, 72 di Nusa Tenggara Timur, dan 62 di Sulawesi. Untuk itulah, menurutnya perlu ada upaya menciptakan kolaborasi antara sekolah dan masyarakat setempat. Setidaknya, generasi muda dapat berbahasa daerah dengan baik.

Grace memulai pemaparannya dengan mengulas perihal bilingualisme. Topik yang yang dari perspektif sosiolinguistik menandakan kemampuan seseorang yang menggunakan dua bahasa. Istilah ini sering disebut kedwibahasaan atau dwibahasa. Lanjutnya, fenomena ini terjadi karena adanya multilingualisme. “Seseorang memiliki kemampuan untuk menggunakan dua bahasa dalam kehidupan merupakan fakta masyarakat yang multilingualisme”, tandas Grace yang fasih berbahasa Lio Flores itu.

Setelah menyampaikan topik bilingualisme, berturut-turut Grace yang pernah mengajar Bahasa Inggris di Malang, Gorontalo Indonesia, dan New York tersebut menyajikan topik lain tentang jenis program pendidikan dwi bahasa, bahasa daerah dan pendidikan dwi bahasa, situasi di Indonesia, dan contoh proyek yang membawa bahasa daerah ke dalam kelas.

Lokakarya diakhiri dengan sesi share pengalaman mengajar para peserta. Mereka punya komitmen kuat untuk terus mengupayakan revitalisasi bahasa daerah di dalam kelas dengan maksud agar bahasa daerah yang adalah identitas etnik tidak punah. “Di sekolah saya sering menerjemahkan materi-materi tertentu ke dalam bahasa daerah setempat agar materi dimaksud lebih jelas untuk dipahami oleh siswa. Apalagi para siswa di kampung yang masih kental menggunakan bahasa daerah”, tutur Romana Mariani Ere, guru dari SDK Wolofeo Ende. 

Lokakarya sangat bermanfaat bagi para peserta. Manfaat yang sama juga diperoleh oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores yang sekaligus dipercayakan sebagai panitya lokakarya. “Lokakarya ini sangat bermanfaat bagi kami yang sebentar lagi akan menamatkan studi di kampus ini”, ungkap Muzia Devi, mahasiswa semester akhir Program Studi PBSI Universitas Flores.

Rabu, 18 September 2024

Kematian memang Manusiawi, tetapi Menyakitkan

Di saat aku harus menjawab serenteetan pertanyaan dari anak-anak dan anggota keluarga tentang mengapa Almahrumah istri dan mama dari anak-anak tercinta Mama Yulita Apolonia Sero Ringgi meninggal? Istri tercinta sakit apa? Sejak kapan dia sakit? Mengapa tidak dirawat baik-baik? Di mana dia pernah dirawat? Mengapa tidak mencari bantuan luar? Mengapa tidak memberitakan anggota keluarga yang lain untuk ikut mencari jalan keluar atas sakit yang diderita Almahrumah? Dan, berbagai pertanyaan lain yang tanpa henti dilontarkan kepada saya, Suami yang merawat dan tahu persis penyakit yang diderita Almahrumah tersayang. Belum selesai menjawab satu pertanyaan, pertanyaan berikut sudah dilontarkan. Begitu dan seterusnya. Di situlah aku kalah. Tuhan aku kalah yang pertama.

Kira-kira jam 03.00 sore, di ruang Nifas RS Umum Ende. Minggu, 04 Agustus 2024. Situasi campur aduk, padu padan antara sedih dan marah. Rindu dan sayang, mengapa Tuhan memanggil begitu cepat istri tersayang dan mama dari anak-anak yang masih kami sangat cintai dan kami butuhkan dalam kehidupan rumah tangga. Tuhan mengapa bukan orang-orang tua yang Engkau renggut yang sudah berhari-hari bahkan berminggu dan berbulan berbaring lesu dan nyaris tak berdaya lagi di atas tempat tidur ruang-ruang rumah sakit? Atau mereka yang bergelimpangan nyaris pula napasnya tinggal sebentar lepas, tetapi masih bisa bernapas panjang saat menerima bantuan medis? Dan, atau mereka yang hidupnya karut marut menjadikan orang lain sebagai korban guna-guna? Setelah diagnosa terakhir dokter lakukan, dia memanggil saya dan memberitahuakan bahwa istri tercinta telah "pergi" untuk selamanya. Ia pergi menghadap Sang Khalik Penguasa Alam Semesta dan jagat raya. Saya cuma menangisi kepergiannya. Kaku kering, ibarat pohon kersen di depan ruang Nifas yang kokoh tak tergoyahkan dibadai angin. Saya sadar bahwa hidup itu sementara. Kapan saja pemilikNya akan memanggil kita pulang.

Sebagai Suami yang mendampingi Almahrumah sampai titik napas penghabisan, saya memberanikan diri untuk mengangkat handphone dan menelpon anak sulung kami yang sedang berada di Jakarta. Paling tidak saya musti melakukannya dengan konsekuensi apapun. Begitu kontak tersambung, anak sulun langsung menyambar diujung handphone, bapa tidak jaga mama, ucapnya tegas. Ya, begitulah anak sulung yang sudah gadis, sudah paham tentang hukum dan doktrin saling mengasihi dan mencintai antara suami dan isti, dan anak-anak. Di situlah, aku kalah yang kedua. Tuhan, aku kalah yang kedua.

Mengingat kembali kisah-kasih semasa hidup. Terutama, cinta suami dan istri itu semakin kuat ketika salah satu di antaranya mengalami sakit. Saat istri tersayang mulai keluar masuk rumah sakit. Dimulai sekitar Maret 2021. Ke belakang sakit terus membuat badannya tidak sekokoh dulu. Tiga sampai empat tahun terakhir ini terus jatuh. Pernah sehat kembali kira-kira sepanjang tahun 2023. Tahun penerimaan komunio suci putra kami, 12 November 2023. Sehat, badannya pulih. Gemuk dan bertenaga. Namun, sayang kepulihan itu tidak berlangsung lama. Sepertinya, dia hendak menghibur kami, terutama saya dan anak-anak. Awal tahun 2024 kami mulai dengan semangat dan gembira. Ada susah dan sedih yang kerap hadir. Dimulai April 2024, penyakit Almahrumah kambuh lagi. Keluar masuk rumah sakit silih berganti. Waktu sakit kami berdua saling sharing sampai pada semacam melakukan penolakan dan protes terhadap Tuhan pemberi hidup. Tuhan, mengapa hanya istri dan mama dari anak-anak ini mengalami sakit seperti ini? Hampir-hampir tanpa ada waktu senggang sedikitpun untuk bisa sembuh dan bercengekerama leluasa dengan kami? Namun, kamipun berefleksi tentang kehidupan dan kematian. Refeleksi tersebut menghantar kami berdua tiba pada pernyataan Tuhan, kami kalah ketiga. Tuhan kami kalah yang ketiga.

Sabtu, 06 Juli 2024

Komunitas Basis Hadir Sebagai Komunitas Cinta yang Senantiasa Solider dengan Lingkungan

 


“Hendaklah komunitas ini tumbuh menjadi komunitas cinta yang senantiasa solider dengan sesama di dalam masyarakat. Sebab itulah, kamu diutus”, demikian sari kotbah yang disampaikan Pastor Paroki St. Josef Freinademetz Mautapaga RD. Giovani Don Bosco Seso (Romo Ivan), saat melantik pengurus Komunitas Umat Basis (KUB) St. Yoseph Lingkungan V Paroki St. Josef Freinademetz Mautapaga, Senin, 3 Juni 2024. Pelantikan pengurus mengambil tema “Pergilah Engkau Diutus” dilaksanakan di Gedung Ine Pare, Jalan El Tari Ende yang dihadiri oleh undangan dari para pengurus Lingkungan V, para pengurus Komunitas Umat Basis (KUB) selingkungan V, dan seluruh umat Komunitas Umat Basis (KUB) St. Yoseph.

Bertolak dari inspirasi firman Tuhan yang diambil dari Injil Lukas, 10: 1–9 Romo Ivan menekankan betapa pentingnya tugas perutusan yang diemban para pengurus bukan karena didorong oleh hal-hal duniawi, melainkan karena dorongan cinta dan kesetiaan untuk melayani umat tanpa perhitungan. Inilah juga yang menjadi modal dasar hakikat pelayanan firman Tuhan yang sesungguhnya di tengah situasi dunia yang terus berubah. Saya sampaikan, hendaklah pula para pengurus yang dilantik tumbuh dan hidup di tengah komunitas dan menjadi garam. Ataupun menjadi biji sesawi yang selalu memberi diri walaupun berada di tengah ladang kering dengan tetap menganggap umat di komunitas ini sebagai harta gereja yang terus untuk dilayani. Jika demikian, maka sekali lagi Komunitas Umat Basis (KUB) St. Yoseph akan tumbuh dan berkembang menjadi komunitas cinta yang selalu menjaga identitas diri sebagai anak-anak Allah, pesan Romo Ivan mengakhiri kotbahnya.

Para pengurus yang dilantik meliputi Penasihat (Bertholomeus Depa, Alexander Bala Gawen, dan Damianus Djuma So), ketua Modestus Angi, wakil ketua Handrianus Kaju Fonge, dan bendahara Dimensia Elvisitas T. Todja.


Susunan Pengurus

Ketua dan anggota urusan, meliputi Bidang Pewartaan, antara lain seksi liturgi: ketua merangkap anggota Rosina Oliva Bunga, Sisilia Eta, dan Gregorius Balawala; seksi katekese ketua merangkap anggota Andreas Marsel Mana, Yosephina M.R. Kerans, dan Benedikta Indri Wadi. Sementara Bidang Pembinaan, meliputi seksi kepemudaan ketua merangkap anggota Yohanes Aprilianus Watu, Elisabeth Longga, Petrus Sarianus Tibo, dan Maria Pordanita Selvia. (*)