Bertempat di Aula
FKIP Universitas Flores, Jalan Sam Ratulangi Ende dilaksanakan Lokakarya dengan
topik “Bahasa Daerah di Dalam Kelas (Making
Space for Local Languages in Our Classroom)”. Lokakarya menghadirkan Grace
B. Wivell, PhD Candidate, Stony Brook
University. Peserta lokakarya terdiri dari para guru SD, SMP, SMA, sekabupaten
Ende. Lokakarya ini juga dihadiri oleh para dosen Program Studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores
Ende.
Mewakili
Dekan FKIP Universitas Flores, Wakil Dekan Bidang Akademik Yasinta Embu Ika, S.Pd., M.Pd., menyampaikan
bahwa bahasa daerah tidak sekadar dipahami sebagai alat komunikasi masyarakat
etnik, melainkan menjadi cerminan kekayaan budaya dan kearifan lokal. “Bahasa
daerah kita tidak hanya sebagai alat komunikasi saja, melainkan cerminan budaya
dan kearifan lokal,” tegas Sinta. Untuk itulah, kita juga anak-anak kita harus
merasa bangga atas Bahasa daerah atau Bahasa ibu mereka.
Dalam
penyampaian awal lokakarya, Grace yang sedang melakukan riset disertasi tentang
A Morphosyntactic Grammar of Lio menegaskan bahwa tujuan dilaksanakan
lokakarya ini adalah untuk melestarikan budaya dan pengetahuan lokal, terutama membincangkan
upaya melestarikan bahasa daerah yang ada di setiap etnik. Menyitir data Kongres
Bahasa Indonesia 2023, menunjukkan bahwa terdapat 718 bahasa daerah di
Indonesia, yang antara lain 90% di wilayah Indonesia timur, 428 di Papua, 80 di
Maluku, 72 di Nusa Tenggara Timur, dan 62 di Sulawesi. Untuk itulah, menurutnya
perlu ada upaya menciptakan kolaborasi antara sekolah dan masyarakat setempat.
Setidaknya, generasi muda dapat berbahasa daerah dengan baik.
Grace memulai pemaparannya dengan mengulas
perihal bilingualisme. Topik yang yang dari perspektif sosiolinguistik
menandakan kemampuan seseorang yang
menggunakan dua bahasa. Istilah ini sering disebut kedwibahasaan atau dwibahasa.
Lanjutnya, fenomena ini terjadi karena adanya multilingualisme. “Seseorang memiliki kemampuan
untuk menggunakan dua bahasa dalam kehidupan merupakan fakta masyarakat yang
multilingualisme”, tandas Grace yang fasih berbahasa Lio Flores itu.
Setelah menyampaikan topik bilingualisme,
berturut-turut Grace yang pernah mengajar Bahasa Inggris di Malang, Gorontalo
Indonesia, dan New York tersebut menyajikan topik lain tentang jenis program
pendidikan dwi bahasa, bahasa daerah dan pendidikan dwi bahasa, situasi di
Indonesia, dan contoh proyek yang membawa bahasa daerah ke dalam kelas.
Lokakarya diakhiri dengan sesi share
pengalaman mengajar para peserta. Mereka punya komitmen kuat untuk terus
mengupayakan revitalisasi bahasa daerah di dalam kelas dengan maksud agar
bahasa daerah yang adalah identitas etnik tidak punah. “Di sekolah saya sering
menerjemahkan materi-materi tertentu ke dalam bahasa daerah setempat agar
materi dimaksud lebih jelas untuk dipahami oleh siswa. Apalagi para siswa di kampung
yang masih kental menggunakan bahasa daerah”, tutur Romana Mariani Ere, guru
dari SDK Wolofeo Ende.
Lokakarya sangat bermanfaat bagi para
peserta. Manfaat yang sama juga diperoleh oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores yang sekaligus dipercayakan sebagai
panitya lokakarya. “Lokakarya ini sangat bermanfaat bagi kami yang sebentar
lagi akan menamatkan studi di kampus ini”, ungkap Muzia Devi, mahasiswa
semester akhir Program Studi PBSI Universitas Flores.