Halaman

Kamis, 21 Desember 2017

Merancang Budaya Literasi Guru



“Ingat!
Ketika Anda mulia berusaha melatih keterampilan mengayuh sepeda onthel.
Jatuh bangun sampai Anda mahir mengayuh sepeda itu. Begitu juga menulis.”


1.     Pendahuluan
Terima kasih kepada Panitya yang telah memberi saya kesempatan dan kepercayaan untuk berbagai rasa dan pengalaman keliterasian hari ini.
Setengah tutur kataku tanpa makna,
Namun kuucapkan jua, agar setengahnya lagi
Mencapai dirimu
[Khalil Gibran, Pasir dan Buih, Pustaka Jaya, 1988: 17]

Fokus dan perhatian aspek pendidikan mengangkat nilai-nilai budaya dan penguatan karakter para peserta didik, sejalan dengan kemajuan dunia dan pembangunan makro di abad XXI. Kemendikbud (2017) dalam Program Penguatan Pendidikan Karekter (PPK) bagi pendidikan sekolah dasar dan menengah merumuskan enam kecenderungan di abad XXI ini; (a) berlangsungnya revolusi digital yang luar biasa yang mengubah kebudayaan, peradaban, dan sendi-sendi kehidupan, termasuk pendidikan, (b) terjadinya integrasi belahan-belahan dunia akibat internasionalisasi, globalisasi, hubungan-hubungan teknologi komunikasi dan teknologi transportasi, (c) berlangsungnya pendataran dunia (the world is flat) sebagai akibat perubahan dimensi kehidupan manusia, terutama mengglobalnya negara, korporasi, dan individu, (d) sangat cepatnya perubahan dunia mengakibatkan ruang tampak menyempit, waktu terasa ringkas, dan keusangan segala sesuatu cepat terjadi, (e) semakin tumbuhnya masyarakat padat pengetahuan (knowledge society), masyarakat informasi (information society), dan masyarakat jaringan (network society), dan (f) makin tegasnya fenomena abad kreatif beserta masyarakat kreatif yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai modal penting bagi individu, perusahan, dan masyarakat. Kecenderungan-kecenderungan perlu diantisipasi melalui pembelajaran budi pekerti dan karakter di sekolah.

2.    Mengapa Literasi?
Literasi berasal dari istilah Latin 'literature' yang sepadan dengan istilah bahasa Inggris 'letter'. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya "kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar)."
Literasi memang tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa yaitu membaca dan menulis. Ada perjumpaan antara keterampilan berbahasa reseptif (membaca), dan keterampilan berbahasa produktif (menulis). Keduanya bersifat mutualisme. Tumpang tindih antara satu keterampilan berbahasa dengan keterampilan berbahasa yang lain. Jadi, literasi mensyaratkan dua keterampilan berbahasa sekaligus, yakni keterampilan membaca dan menulis untuk digunakan secara simultan. Keduanya merupakan “jalan masuk” bagi pengembangan dan eksplorasi (bahkan mungkin sampai eksploitasi) diri sebagai mahkluk yang komplit dan berkelimpahan. Jalan yang Anda pilih adalah jalan “pendidikan”. Jalan inilah menjadi pilihan tepat dan relevan untuk mulai merancang budaya literasi agar jalan pengabdian menjadi lebih bermakna.
Bahkan, negara telah mewajibkan guru sebagai pengajar dan pendidik dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Kewajiban tersebut secara eksplisit tertuang dalam Pasal 4 ayat 5 yang berbunyi:

“Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.”

Untuk itulah, guru yang secara khusus telah dianugerahi tugas besar mencerdaskan anak bangsa di  negeri ini, mesti secara serius menyadari aneka tugas, termasuk amanat Pasal 4 ayat 5 undang-undang di atas. Kata kunci “membaca, menulis, dan berhitung” musti ditanggapi sebagai spirit perjuangan proses keliterasian menuju suatu titik yang dalam wilayah perkembangan kognitif Piagetian dikenal dengan gagasan Ekuilibrasi Piagetian. Ekuilibrasi sebagai pengorganisasian pengetahuan internal dalam cara bertahap. Kognisi terus berkembang sebagai sebuah proses yang bergerak dari keadaan ragu dan tak pasti (disekuilibrium) menuju keadaan matang dan pasti agar tercapai titik keseimbangan (ekuilibrium), (Suparno, 1997: 35).
Faedah yang paling tampak dari seorang mahasiswa adalah mengembangkan kemampuan literasi (membaca dan menulis). Alasannya membaca membuat seorang bisa (pandai) menulis, dan keterampilan menulis pada seseorang menjadi baik karena dipengaruhi oleh kebiasaan membaca. Jadi, membaca dan menulis adalah dua keterampilan yang  inheren dan tidak terpisahkan dalam diri seorang mahasiswa.
        Tulisan telah menyelamatkan banyak orang dari amnesia. Tulisan telah mengawetkan hidup dan dunianya. Buah pikran hasil tulisan telah memantapkan kesinnambungan hidup manusia sehingga menjadi warisan peradaban dunia. Tanpa tulisan, bisa jadi, masyarakat sekarang tak bakal mengenal buah pikiran mereka dan peradaban manusia akan mengalami keterputusan nilai dan pengetahuan yang bermartabat. Demikianlah maka, masyarakat dunia tidak mengalami keterputusan ilmu yang dapat mendatangkan malapetaka bagi dirinya dan masyarakat secara luas sebagaimana yang disebut oleh Anderson sebagai amnesia kultural (1996: 275).
Benedict Anderson, dalam Imagined Community, menunjukkan bahwa bacaan atau tulisan mendasari dan menyangga pembentukan dan pematangan nasionalisme Indonesia sehingga kegiatan menulis memberi maslahat besar bagi keberadaan Indonesia. Bahkan banyak kalangan memandang bahwa menulis sebagai komunikasi tulis telah membawa manusia memasuki peradaban baru, yaitu peradaban keberaksaraan, sehingga kegiatan menulis pada umumnya dipandang positif.
Dalam peradaban keberaksaraan, menulis ihwal ilmu pengetahuan, misalnya ihwal kedokteran, kesehatan, kesusilaan, dan pengembangan diri, memang jelas bermaslahat besar bagi kehidupan manusia. Di samping ilmu pengetahuan dapat berkembang, manusia-pembaca bisa mendulang berbagai hal darinya. Pastilah pelbagai kalangan akan mendukung dan melindungi kegiatan menulis demikian. Demikian juga kegiatan menulis resep makanan-minuman, panduan perawatan diri, panduan perbaikan kendaraan bermotor, dan sejenisnya tentu akan banyak mendapat dukungan dan lindungan berbagai kalangan.
                Sekadar contoh, kendati tulisan-tulisan yang dihasilkan terus-menerus (selalu) dilarang oleh kekuasaan politik, pada masa Orde Baru Pramoedya Ananta Toer tetap menulis. Ujar Pram, “Mengarang adalah tugas nasional bagi saya…. bisa saya katakan, mengarang adalah profesi. Saya hidup dan mati karena mengarang dan saya konsekuen terhadap semua akibat yang saya peroleh”. “Menulis adalah sebuah petualangan”, ujar Albert Camus. Lalu kata Ricoeur, menulis itu mengawetkan sesuatu dalam teks. Ada pula yang berkata, kegiatan menulis adalah kegiatan melawan lupa; mencegah amnesia; mengabadikan eksistensi. Semua pernyataan ini menandaskan bahwa di balik kegiatan menulis terdapat dorongan-dorongan spiritual, psikologis, sosial-politis, dan rekreatif yang menimbulkan keteguhan, keberanian, kegigihan, kesungguhan, ketangguhan, dan sejenisnya pada diri penulis. Di sini menulis tampak berfufungsi secara spiritual, psikologis, sosial-politis, rekreatif, bahkan laku intelektual yang agung sehingga menulis harus selalu dijalankan.

3.    Menuju “Budaya” Literasi
Telah disebutkan di atas bahwa guru (baca: calon guru) mengemban tugas bangsa mencerdaskan generasi bangsa, dan salah satu di antaranya adalah membangun kultur literasi di kalangan peserta didik. Ada banyak faktor menggairahkan kultur literasi dimaksud. Hemat saya sangat situasional, dan juga sangat ditentukan oleh sekian banyak aspek: psikologi, sosiologi, ekonomi, lingkungan, dan berbagai aspek lainnya.
Saya coba menghadirkan beberapa hal praktis, bagaimana guru mulai merancang budaya literasi. Disebut budaya, karena proses literasi ini dijalankan terus-menerus, tanpa henti. Berkelanjutan atau berkesinambungan. Hal-hal tersebut, antara lain:
1.       Menyiapkan atau menyediakan berbagai bahan bacaan, entah di rumah, maupun di sekolah. Ya, tentu dengan situasi ekonomi yang pas-pasan, namun ketersediaan bahan bacaan yang cukup memadai akan sangat membantu dalam meresepsi berbagai asupan informasi pengetahuan. Mulai dari bacaan-bacaan ringan hingga bacaan berat (filsafat). Tak lupa pula menonton berbagai tayangan positif akan ikut menambah khazanah pengetahuan guru.
2.       Menyempatkan diri di tengah tumpukan kesibukan untuk membaca bahan-bahan bacaan tadi. Buku, misalnya bukanlah ikan basah (mentah) yang kalau sudah dibeli dan tidak dimasak akan rusak. Buku semakin disimpan lama dirak atau tempat penyimpanan akan semakin “memaksa” Anda untuk segera membuka dan menggaulinya (membacanya). Bahkan, sekarang ini secara formal melalui GLS, para guru telah mendisposisi waktu  kurang lebih lima belas menit awal pelajaran bagi siswa untuk membaca. Demikian, maka gurupun memiliki waktu yang sama untuk membaca bersama murid.
3.      Mencatat dalam buku harian (diary) hal-hal yang penting, bahkan bermanfaat. Hal-hal yang lintas seketika dan inspiratif. Kalau sekedar diingat dalam memori, kemungkinan besar akan menguap begitu saja. Sebab memori kita sudah dibebankan menyimpan dan mengingat sekian banyak hal. Menalar situasi dengan identifikasi kata-kata kunci yang pada situasi yang berbeda akan ditautkan dalam rumusan kalimat yang lengkap dan utuh. Hal inilah yang sering terabaikan oleh setiap kita. Caranya, mengisi kertas pada saku baju atau celana Anda dengan pensil atau balpoint ke mana saja Anda pergi. Apalagi ke tempat-tempat yang bersejarah, misalnya.
4.      Membiasakan diri untuk melakukan korespondensi (surat-menyurat) dengan sahabat, teman. Sekarang korespondensi semakin mudah dan tersambung begitu cepat melalui jejaring sosial. Dengan begitu, keruntunan berpikir, bertutur, dan kelogisan merumuskan gagasan, perlahan-lahan tertata secara apik.
5.      Mulailah meneliti hal-hal yang kecil dan sederhana. Untuk menghasilkan tulisan yang baik tentu dimulai dari hal-hal yang kecil ini. Lakukanlah.
6.      Membiasakan diri terus-menerus pada hal-hal di atas dengan mulai berlatih, berlatih, dan berlatih.
4.   Penutup
Tugas kita adalah membaca dan menulis. Dengan demikian, Literasi yang menjadi harapan bangsa ini akan tercapai dengan gemilang, jika kita memulainya dengan penuh kesadaran. Mulailah dari diri, sebelum menginginkan orang lain untuk berubah.

DAFTAR PUSTAKA
Budianta, Eka. 1994. Menggebrak Dunia Mengarang. Puspa Swara: Jakarta
Saryono, Djoko.2011. Keberaksaraan, Tradisi Baca–Tulis, dan Pembelajaran Sastra Indonesia. Malang: Universitas Negeri Malang
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.



[1] Makalah ini Disampaikan pada Seminar Sehari untuk memperingati Hari Guru Nasional yang Diselenggarakan oleh BEM FKIP Universitas Flores, Sabtu, 25 November 2017

[2] Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dan Kepala UPT Publikasi Universitas Flores

Soekarno–Ende: 1934–1938 Dari Nusa Naga Ke Nusantara: Sebuah Antologi



 “Pulau Bunga akan tetap melekat kuat dalam ingatanku”, kata Bung Karno mengenai Pulau Flores atau Pulau Bunga. Ungkapan nostalgik ini berbeda jauh dengan jeritan hati di awal pembuangannya di Ende. Hidup Bung Karno telah menjadi sejarah negara dan bangsa Indonesia serta tetap terpatri dalam sanubari anak cucu negara ini. Di setiap tempat yang pernah ditapakinya, BungKarno telah menoreh kenangan tersendiri. Demikian pula di sini, di Ende, sebuah kota tengah Pulau Flores. Di kota sejarah inilah Bung Karno memahat sebuah candi intelektual yang kita kenal dengan nama Pancasila. Demikianlah peribahasa lama mengingatkan kita “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. 

Politik pembuangan (internering) Soekarno [2] di Ende tahun 1934–1938 dianggap sebagai rumah pemulihan.[3] Satu pertanyaan yang tidak pernah lepas dari peristiwa pembuangan ini adalah mengapa harus Ende? Ada tiga alasan, pertama, adanya penjagaan yang cukup ketat sehingga yang ditahan tidak melarikan diri. Kedua, kesempatan kerja, dan ketiga, kepekaan masyarakat sekitar kalau sekiranya ada agitasi dari Bung Karno. Ternyata dugaan para pembesar Belanda meleset karena Ende dan Flores umumnya yang ketika itu jauh dari riuh rendah politik, menjadi destinasi yang sudah jinak laksana bunga sehingga telah melepaskan atavisme “nusa nipa nusa naga”[4] karena sudah mempertautkan dua kekuatan sekaligus, yakni kekerasan kekuasaan kolonial Belanda yang memaksakan penaklukan dengan kekerasan senjata dan kelembutan agama Katolik yang mengajarkan “cintailah sesamamu” yang asing atau sebangsa, berkulit putih atau hitam. Dengan demikian, Ende bagi Soekarno tidak sekadar kota nelayan, melainkan sebuah kota pelabuhan dengan jaringan yang luas. Di Ende jugalah Soekarno telah menemukan dirinya sebagai seorang cendikiawan, ideolog, dan seniman yang komplit. Bagi orang Ende sendiri, Soekarno adalah ata pita pu’u Jawa (orang pintar dari Jawa). Sebaliknya Soekarno sendiri memandang dirinya sebagai “seekor  burung elang yang telah dipotong sayapnya”[5].
Di Ende, Soekarno berhasil memungut gagasan-gagasan dasar dari budaya-budaya yang diamati dan dijumpainya, dan beliau “merajut”, mentransformasikannya, menjadi suatu “candi” [6] intelektual yang dikenal dengan nama Pancasila, lima butir mutiara yang menjadi dasar bangunan Negara Republik Indonesia. Yang menarik bahwa beliau mengaitkan semua sila dengan konsep tradisional gotong royang. Menurut beliau, untuk membangun Indonesia, gotong royang harus menjadi alat transformasi sosial budaya. Sebab dalam gotong royong semua saling menghargai dan tolong menolong meskipun berbeda etnik, ras, kepercayaan. Inilah romantisme Bung Karno dalam membangun konsep kebangsaan Indonesia.
Selain menjadi tempat pemulihan dan transformasi merajut candi intelektual, Ende juga menjadi tempat “perjumpaan” antara masa pembuangan penjara dengan panggung merdeka. Sebab di tempat inilah, Soekarno menjalani persahabatan tanpa batas dan menemukan wajah Belanda yang lain lewat para pastor Belanda yang berkarya di Ende. Kalau dicermati, mereka adalah “musuh” politik Bung Karno. Namun, ternyata fakta menunjukkan lain, bahwa para pastor Belanda itu sangat akrab dan bersahabat.
Di tempat yang sama ini pulalah Bung Karno menampilkan kecemerlangan berpikir dan berkarya seni. Tercatat selama masa internering di Ende beliau mencipta duabelas naskah toneel, bahkan sempat dipentaskan di Rumah Pentas Imakulata Jalan Katedral Ende. Bahkan dari tempat inilah Bung Karno telah meramalkan bahwa Indonesia akan merdeka tahun 1945 melalui sebuah toneelnya yang berjudul Tahun 1945. Dua naskah terkenal adalah Dokter Syaitan dan Rahasia Kelimutu.
Sekali lagi, Indonesia merupakan sebuah bangsa yang plural, majemuk, beranekaragam suku, bahasa, agama, dan budaya. Sehingga tidaklah penting mempersoalkan mengapa Bung Karno harus di buang ke Ende. Terlepas ada kepentingan politik kaum kolonialis Belanda ketika itu, tetapi yang jelas bahwa Ende dan Flores adalah wilayah NKRI. Secara literer, Indonesia merupakan sebuah teks  yang sangat luas. Di dalam teks itulah memungkinkan semua orang untuk hidup dan membangun sebuah keselarasan antara satu orang dengan orang yang lain demi tercapainya sebuah Indonesia yang maju, sejahtera, dan mandiri, sebagaimana yang pernah digagas dan diidamkan oleh Bung Karno dalam pidatonya 17 Agustus 1964, tentang Tahun Vivere Pericoloso yang menekankan pada “Trisakti”: berkedaulatan dalam bidang politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkpribadian dalam bidang sosial budaya. (*)

           









[1] Judul buku yang berisi lima tulisan masing-masing oleh (1) Dr. Daniel Dhakidae, (2) Prof. Dr. Stephanus Djawanai, M.A., (3) Pater John Dami Mukese,MA,SVD, (4) Dra.Maria Matildis Banda, dan (5) Dr. Pius Pampe, M.Hum. Diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Stephanus Djawanai, M.A., dan diterbitkan oleh CV.Brimotry Bulaksumur Visual Yogyakarta, 2013. Diluncurkan dan dibedah di Universitas Flores dengan pembahas Dr. Kotan Stefanus, M.H., Sabtu, 15 Maret 2014.
[2] Soekarno berarti pahlawan yang terbaik atau pahlawan sejati. Dilahirkan tanggal enam bulan enam jam setengah enam pagi tahun 1901. Tahun permulaan abad baru. Ditandai dengan meletusnya gunung Kelud di Jawa. Orang menafsirkannya sebagai pertanda yang baik, yaitu suatu “penyambutan terhadap bayi Soekarno. (Bung Karno dan Pancasila, 2006: 15). Dalam kepercayaan Bali, kalau gunung Agung meletus maka itu pertanda buruk. Entahlah, mana yang benar, namuun Soekarno menerima semuanya itu sebagai bagian dari nasib hidupnya. “Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran, dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan. Aku bisa lunak dan bisa cerewet. Aku bisa keras laksana baja dan aku bisa lembut berirama. Pembawaanku adalah perpaduan daripada pikiran sehat dan getaran perasaan (Bung Karno dan Pancasila, 2006: 15-16).
[3] Pendapat Dr. Daniel Dhakidae dalam subjudul “Dari Tempat Pembuangan menjadi Rumah Pemulihan: makna Soekarno bagi Ende, dan Ende bagi Soekarno”, dalam buku berjudul Soekarno–Ende, 1934–1938, halaman 13–79, Penerbit CV.Brimotry Bulaksumur Visual Yogyakarta, 2013.

[5] Ende di Pulau Bunga yang terpencil itu, bagiku menjadi ujung dunia. Jalan raya adalah sebuah jalanan yang tidak diaspal yang ditebas melalui hutan. Di musim hujan lumburnya menjadi berbungkah-bungkah. Apabila matahari yang menghanguskan memancarkan dengan terik, maka bungkah-bungkah itu menjadi keras dan terjadilah lobang dan aluran baru. Ende dapat dijalani dari ujung ke ujung dalam beberapa jam saja (Bung Karno dan Pancasila, 2006: 42-43).
[6] Secara historis empiris Indonesia boleh disebut sebagai negara candi. Selain karena secara kuantitas begitu banyak candi yang kita temukan (terutama di Pula Jawa dan Bali) yang merupakan hasil cipta dan karya peninggalan Hindu dan Budha, istilah ini oleh Prof. Dr. Stephanus Djawanai, M.A., dalam subjudul buku “Bung Karno: Perajut mimpi Indonesia Mandiri”, dalam buku berjudul Soekarno–Ende, 1934–1938, halaman 80–101, Penerbit CV. Brimotry Bulaksumur Visual Yogyakarta, 2013, lebih ditafsirkan sebagai sebuah proses permenungan, pergumulan. Proses demikian yang pada akhirnya mengerucut dan memuncak seperti candi. Badan candi sendiri dipahami sebagai proses. Puncak pergumulan Soekarno di Ende adalah Pancasila, lima butir mutiara yang menjadi dasar negara Indonesia.

Membangun Kultur Menulis



            Selamat pagi dan selamat datang di tempat ini. Terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu undangan yang boleh meluangkan waktu untuk menghadiri diskusi ringan hari ini. Tidak semegah diskusi-diskusi lain yang Bapak/Ibu pernah ikuti maupun laksanakan. Dari tempat ini, saya atas nama rekan-rekan di LPU menyampaikan permohonan maaf kalau ekspektasi Bapak/Ibu tentang diskusi ini tidak sebagaimana yang dialami sekarang.

Bapak Rektor, dan Bapak/Ibu Peserta Diskusi yang Terhormat:
Tema “Membangun Kultur Menulis” tidak bermaksud mengabaikan rekam jejak juga pengalaman Bapak/Ibu yang hadir, maupun sivitas akademika Uniflor yang selama ini menaruh perhatian besar pada dunia tulis-menulis. Tema ini hendak mensyaratkan bahwa membangun berarti “berproses terus-menerus tanpa henti dan menjadikannya sebagai sebuah budaya yang kontinum, sesuatu yang berkelanjutan; yang tidak berhenti; atau sesuatu tanpa terminasi”. Itulah kultur, budaya yang mesti terus dihidupi dari waktu ke waktu. Dalam konteks inilah, “Membangun Kultur Menulis” adalah konsekuensi logis atas pilihan pekerjaan yang kita jalani. Di samping itu, tema ini juga menegasikan keberagaman cara pandang, cara pikir memasuki dialektika diskusi ilmu yang interdisiplin atau multidisiplin.
Itu tampak setidak-tidaknya dalam diskusi kali ini. Selain menampilkan tiga panelis yang adalah perwakilan penulis artikel Majalah Indikator Edisi Maret 2016 (Hasil pilihan Dewan Redaksi): disetujui peserta rapat panitia kecil Lembaga Publikasi dan Humas Uniflor,  Jumad, 3 Juni 2016), dengan dua nara sumber dari anggota Collegium Doktorum Uniflor (Ibu Dr. Ima Fatima (maaf pada jam yang sama ini mengikuti kegiatan Veco untuk membicarakan desa dampingan), dan Dr. Kanis Rambut). Mereka akan mengupas tema “Membangun Kultur Menulis” dalam sisi pandangnya masing-masing. Hemat kami, inilah model dialektika, secara khusus kebebasan berpikir dan berpendapat; mulai dari meramu dan mengumpulkan yang tercerai berai dalam berbagai pemikiran yang lain, dan mudah-mudahan tersaji dan tersimpul secara runtut dan komperhensif dalam ruang diskusi ini demi memperkaya khazanah ruang ilmu kita.
Semakin banyak bertemu dan berkumpul dalam nuansa-nuansa akademik ilmiah (ringan?) semakin banyak hal ilmiah pun didapati. Mengutip Betrand Russell, seorang filsuf modern yang mengakui adanya estetika (keindahan) di dalam matematika, mengatakan bahwa “Komunikasi keilmuan haruslah diakui secara antiseptis, artinya tanpa prasangka subyektif, sebab komunikasi keilmuan adalah proses reproduktif, sebuah ruang yang diisi dengan inspirasi dan kreativitas.
Akhirnya, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih untuk Bapak/Ibu undangan; mudah-mudahan diskusi ini bermanfaat.*


[1]  Disampaikan pada acara pembukaan Diskusi Tematik dengan tema “Membangun Kultur Menulis” yang diselenggarakan oleh Lembaga Publikasi dan Humas Uniflor, Sabtu, 11 Juni 2016, di Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Flores.

Drama: Koda Ata Nolon




 Pekan Pementasan Drama 2014 merupaka sebuah pendekatan kultural yang bertujuan strategis untuk kilas balik sekaligus napak tilas menguak karya-karya sastra lama di era kehidupan Plato, Aristoteles, Horatius, dan sebagainya. Karya-karya tersebut juga secara migratoris menjelma dalam kehidupan kita setiap etnis. Ini mengeksplisitkan bahwa ternyata para pendahulu kita mampu merajut dan menenun cerita, walau secara oral.
Pentradisiannyapun secara lisan tak tertulis. Namun, itulah cerita-cerita agung yang mengendap misteri dan menjadi rahasia kehidupan manusia secara universal dalam hierarki relasi dengan Tuhannya yang Mahaagung dan Bijaksana, dengan sesama, dan dengan alam semesta tempat manusia berpijak. Keterbatasan literer karena keterbatasan pengaksaraan ketika itu, tak menyurutkan ikhtiar mereka sedikitpun, tetap mencerminkan keagungan dalam mencipta untuk anak cucu sekarang.
Bagi saya, justru di sinilah keunggulan mereka dahulu (koda ata nolon) yang juga memiliki kadar kemampuan intelektual yang ulung dan tinggi. Ada aktivitas ditopang daya imajinasi dan inovasi yang kuatmenandai kehidupan mereka di masa itu.

Bapak/Ibu yang saya hormati:
Kemampuan yang termanifestasi pada diri setiap kita yang hadir pada malam ini adalah juga titisan kemampuan yang kita peroleh secara konvergensi antara faktor gen (sisa-sisa gen para leluhur kita masing-masing) dan faktor pengetahuan heuristik yang menjadikan kita boleh bertemu pada malam ini. Oleh karena itu, tidak ada kata lain selain terima kasih kepada mereka seemua yang telah mengajarkan kita kebenaran, kasish sayang, cinta, dan ketaatan akan jati diri.

Bapak/Ibu yang saya hormati,
Malam ini kita akan dibawa berlayar dengan tena (perahu, peledang penangkap ikan Paus) ke ujung timur Pulau Flores, yakni Lamalera Lembata. Kita semua diajak merenangi ganasnya Laut Sawu Selatan dalam kisah Baleo...baleo, Tite Tefaro Kae (Marilah, bangunlah, berkumpulah...kita sudah dapat). Ini pembuktian sebuah semangat dan kerja keras yang tidak pernah surut untuk mencari – mengail (leva nuang) di kedalaman Laut Sawu Selatan yang ganas dan menakutkan semata-mata untuk mempertahankan hidup. Ekosistem Lamalera adalah alamiah, sangat tergantung dari perputaran musim yang juga memengaruhi arus laut. Arus ini sangat penting bagi nelayan untuk bisa mengetahui kapan waktu ideal untuk turun ke laut. Mengenal waktu hanya dengan memperhatikan matahari di siang hari dan bulan bintang serta kokok ayam di malam hari. Daerahnya bebatuan. Namun, kenyataan tersebut telah mencuat kemustahilan spektakuler, yakni daerah bebatuan telah ditata sekian rupa – rapih menjadi daerah hunian yang menurut turis mancanegara setiap tahun musim leva nuang sebagai desa nelayan paling eksotis dan romantis dengan tatanan yang menakjubkan.
Parade Pekan Pementasan Drama yang bahannya 
diramu dari berbagai cerita rakyat pada berbagai etnis di Flores Lembata yang mulai digelar malam ini akan mampu mengajarkan kepada kita semua tentang jati diri dan eksistensi lokalitas kita yang telah berurat akar dalam ziarah sejarah di tengah realitas kehidupan Indonesia yang pluralis. (*).


[1] Sambutan pada Acara Pembukaan Pekan Pementasan Drama Mahasiswa PBSI Semester V Universitas Flores Ende, 1–5 Februari 2014

Manusia Adalah Sebuah Totalitas

JEAN PAUL SARTRE, menulis “manusia bukan sebuah koleksi, tetapi merupakan suatu totalitas”. Pemikiran seorang Sartre ini menyiratkan pesan bahwa manusia haruslah menyatakan secara keseluruhan potensinya, bukan bagian demi bagian, termasuk kemampuan bersastra yang adalah asset penting dalam mengungkap fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan dalam rangka mencari solusi masalahnya.

Bersastra

Bersastra berarti berusaha ‘mengangkat’ sesuatu yang realitas-obyektif menjadi realitas baru, yakni realitas-imajinatif dengan melewati proses kreativitas yang tinggi, hasil pengamatan yang intens, terhadap realitas kehidupan yang telah mengkristal dalam diri seorang pengarang. Kristalisasi realitas kehidupan tersebut, tampak lewat pengalaman diri, pengalaman bahasa maupun pengalaman estetik yang diracik khas dengan menhadirkan irama mempesona, menghanyutkan tetapi tetap memperhatikan satu-kesatuan makna dalam mencapai tujuan sang pengarang itu sendiri. Dengan demikian, sastra merupakan suatu alternatif penting dalam menyingkap tabir kehidupan ini.
Dalam mengenang kembali kematian Chairil Anwar, penyair termashur angkatan ’45, yang meninggal 28 April 1949, maka kami mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mengadakan temu sastra dengan tema: SASTRA WAHANA PENGUNGKAP REALITAS KEHIDUPAN. Hal ini dilatari oleh situasi dan kondisi yang berkembang sepanjang ini. Dari sinilah kita dapat menemukan peran sastra terhadap pembangunan bangsa. Chairil Anwar, seorang penyair individualistis yang memiliki vitalisme tinggi, tenaga hidup, api hidup, yang membawa angin segar dalam kesusastraan Indonesia. Padanya, AKU, adalah paling penting. Kenyataan ini tergambar dalam cita-cita hidupnya, yakni hendak mereguk hidup ini sepuas-puasnya, Aku ingin hidup seribu tahun lagi. (*)



[1] Disampaikan dalam Rangka Kegiatan Memperingati Hari Charil Anwar 23 April 2009