Halaman

Kamis, 24 Februari 2022

Dengan Puisi Aku (Nora Nua Go)

Saya mendapat kesempatan menerjemahkan puisi "Dengan Puisi, Aku", karya Taufik Ismail ke dalam bahasa Lamaholot (2015). Dengan penguasaan bahasa pertama saya bahasa Lamaholot, judul puisi tersebut saya terjemahkan menjadi "Nora Nua, Go". Penerjemahan puisi Taufik Ismail ini dalam rangka merayakan usianya yang ke-80. Hasil terjemahannya dibukukan dalam buku "Dengan Puisi, Aku 1 Puisi, 80 Bahasa, 80 Tahun". 

80 bahasa dimaksud terdiri atas 58 bahasa dunia dan 22 bahasa daerah. Bahasa Tamil, Yunani, Ibrani, Esparanto, Persia, Katalan, Jepang, Serbia, Burma, dan Filipino adalah beberapa bahasa di antara 58 bahasa dunia. Selain bahasa Jawa, Minangkabau, Toraja yang tersebar di Indonesia, terdapat 6 bahasa di Flores dalam buku tersebut,  antara lain, bahasa Manggarai, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka, dan Lamaholot.

Buku yang diterbitkan oleh Majalah Sastra HORISON, dengan prakata oleh Prof. Victor A. Pogadaev dari FBL, University Malaya. Dalam prakata berjudul "Taufik Ismail: Penyambung Lidah Orang Miskin dan Tertindas", Prof. Victor menyebut Taufik Ismail sebagai penyair tersohor Indonesia. Seluruh bakat, upaya, dan dayanya diserahkan untuk melawan totalitarisme. Taufik Ismail sebagai penyambung lidah orang miskin dan tertindas, pembela kebebasan individu dan kebebasan kreatif. Setiap kekuasaan adalah kekerasan. Olehnya, kewajiban seorang penyair sebagai warga negara adalah membuat kekuasaan itu lebih berperi-kemanusiaan dan memaksanya meringankan penderitaan rakyat. 

Taufik Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di daerah Pekalongan Jawa. Dia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Kecenderungan membaca tersebut diwariskan dalam puisinya "Kupu-kupu di dalam Buku". 

Taufik Ismail juga disebut Prof. Victor sebagai maitre, pemimpin Angkatan 66 yang diakui, yang patut diteladani oleh semua sastrawan generasi muda.

Selamat ulang tahun sastrawan Indonesia Taufik Ismail, sastrawan yang pernah menulis puisi tentang keindahan padang safana Sumba dengan judul Beri Daku Sumba (2014).

Bagi adik-adik tamatan SMA/SMK/MAN di wilayah Flobamora atau wilayah Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah, Ayo..., bergabung dengan kami di Universitas Flores  Ende. 

Secara khusus, bagi adik-adik yang ingin mengasah daya imajinasi dalam bidang sastra, kami menantimu dengan senang hati di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. (*)

Lelaki Tua dan Laut


Santiago namanya. Ia Lelaki Tua yang menjadi tokoh sentral dalam novel Lelaki Tua dan Laut. Ditulis oleh Ernest Hemingway. Hemingway mengisahkan perjuangan seorang Lelaki Tua Kuba yang telah 84 hari berjuang untuk menangkap ikan marlin raksasa. Ia gagal menangkap seekor ikan pun. Fisiknya memang tua, namun menyimpan kekuatan dan daya tahan tubuh yang luar biasa. Terciptalah sublim, sebagaimana tampak ketika dia sendirian berada di laut sebulan lebih tanpa menghasilkan apa-apa.

Ingatan Lelaki Tua melayang-layang ke masa mudanya, ketika dia berpetualang ke Afrika dan menyaksikan begitu banyak singa di pantai, dan saat dia selalu menang dalam pertandingan poncho. 

Perjuangan tanpa menyerah Lelaki Tua mengajarkan betapa kesabaran, ketabahan, dan kegigihan dalam mengarungi lautan kehidupan. Kisah menyentuh dan inspiratif ini juga diwarnai suka duka pertemanannya dengan seorang anak lelaki. (*)

Menulis dengan Makna dan Rasa

Kita semua, siapa saja patut  membiasakan diri menulis secara benar. Sekecil apapun kesalahan yang ditulis tentu menimbulkan salah tafsir dari pembaca. 

Fenomena ini terus kita jumpai dalam beranda media sosial, misalnya facebook, maupun media-media publikasi online. Kehadiran media-media online, bak cendawan di musim hujan, selaras dengan pertumbuhan dan kemajuan perangkat tekonologi komunikasi dan informasi. Kita mendukung dan memberi apresiasi atas kehadiran media-media tersebut untuk membantu mempercepat terpenuhinya akses informasi bagi masyarakat pembaca. Namun, kita pun berharap agar ikhtiar penyebarluasan informasi publik tersebut hendaknya ditulis dan dipublikasikan secara benar agar dapat sampai dan dipahami oleh pembaca, terlebih tidak menimbulkan salah tafsir di tengah pembaca. 

Manajemen media-media online (pars pro toto) acapkali abai terhadap kaidah dan tata tulis bahasa Indonesia. Asal tulis, tanpa memperhatikan tata ejaan pula. Belum lagi soal struktur dan gramatikanya. Padahal, kata orang bijak menulis sesuatu secara benar itu menggambarkan derajat keterpelajaran kita sebagai penutur bahasa.

Gerakan literasi yang belakangan ini gencar disosialisasikan juga memberikan efek positif, bahkan menjadi pelecut semangat berliterasi pada semua lapisan sosial masyarakat.

Penulis itu pujangga atau penyaji rangkaian kata dan kalimat bernas dengan keindahan makna dan rasa, selain sajian kebenaran dan kebijaksanaan. Penulis itu komposer, penata ide dengan mengusung misi kemanusiaan dan aksiologis. Penulis itu juga penemu gagasan atau ide, atau peramu resep dan peracik menu konseptual melalui rangkaian kalimat koherensif dan kohesif untuk membedakannya dengan orang lain. Dan, kita semua telah menjadi penulis: penata kata, peramu gagasan, dan peracik resep.

Saya tidak membatasi keluwesan dan keleluasaan setiap kita untuk menuliskan sesuatu. Akan tetapi, pemahaman kita sebagai penutur terhadap tata bahasa Indonesia diharapkan dapat memperkaya dan meningkatkan kualitas kemahiran berbahasa kita. 

Mari kita gunakan bahasa Indonesia secara benar, tanda kesetiaan kita sebagai penutur yang bermartabat. Bahasa Indonesia bahasa kita. (*)

Selasa, 22 Februari 2022

Gorys Keraf: Pemakai Bahasa Patut Memiliki Moral yang Tinggi


Tanggal 22 Pebruari 1978 Gregorius Keraf (Gorys Keraf) mempertahankan Disertasi dengan judul "Morfologi Dialek Lamalera" untuk memperoleh gelar Doktor dalam bidang Ilmu Sastra pada Universitas Indonesia, dengan promotor Prof. Dr. Amran Halim,  Prof. Dr. J.W.M. Verhaar, dan Dr. E.K.M. Masinambouw.

Gorys Keraf. Adalah Profesor Doktor Gorys Keraf. Profesor linguistik itu lahir di Lamalera Kabupaten Lembata, 17 Nopember 1936. Beliau meninggal pada 30 Agustus 1997, persis di usia 61 tahun. Hari ini kita memperingati hari lahirnya yang ke-84. Mengenang almahrum Gorys Keraf, hemat saya berarti mengenang kembali aneka pemikirannya dari berbagai sudut pandang kebahasaan. 

Pada tahun 1970 beliau menulis buku Tatabahasa Indonesia dan menjadi buku primer rujukan para guru bahasa dan siswa dalam pembelajaran tatabahasa di sekolah menengah. Setelah itu, Gregor Keraf, begitu nama yang dia tulis pada kata pengantar disertasinya dengan judul Morfologi Dialek Lamalera (1978), menulis serial buku Komposisi yang naik cetak pertama pada (1971) yang mengalami cetak ulang ke-13 pada tahun 2004.

Buku Komposisi merupakan sebuah buku wajib bagi mahasiswa dan dosen pada program studi pendidikan kebahasaan, juga mungkin program studi komunikasi. Tak disangkal pula buku best seller ini dapat dimiliki oleh siapa saja. Serial Komposisi ini diikuti oleh Diksi dan Gaya Bahasa, Eksposisi dan Desksripsi, serra Argumentasi dan Narasi.

Buku Komposisi mengulas tentang kemahiran berbahasa, baik secara lisan maupun tertulis. Tidak saja soal kemahiran berbahasa, namun di bagian lain Keraf berpendapat bahwa "pemakai bahasa tidak saja harus memiliki kemahiran berbahasa, tetapi juga harus memiliki moral yang tinggi, sehingga dapat menjadi batu timbangan dalam mengadakan kontrol sosial terhadap anggota-anggota masyarakat, terutama bila pembicara itu menduduki suatu tempat yang penting dalam masyarakat atau memegang tampuk pimpinan suatu masyarakat" (1989:10).

Lalu, siapakah yang dimaksud Keraf sebagai orang atau pemakai bahasa yang menduduki suatu tempat yang penting dalam masyarakat ataupun memegang tampuk pimpinan suatu masyarakat?

Ketika menulis Linguistik Bandingan Historis (1991) yang diterbitkan Gramedia Utama Pustaka Jakarta. Buku ini mengulas tentang asal mula bahasa, sejarah linguistik bandingan historis dan metode-metode perbandingan, geografi dialek, migrasi bahasa, serta negeri asal Austronesia dan bahasa-bahasa Austria Gorys Keraf berpendapat bahwa negeri asal bangsa dan bahasa-bahasa Austronesia adalah wilayah Republik Indonesia (1991:201).

Bahasa, selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat kontrol sosial, begitulah Keraf mengingatkan kita selaku pemakai bahasa. Jadi, tentu kita pun perlu teliti dan hati-hati mengucapkan bahasa (kata-kata) dalam kehidupan sosial, apalagi di era menjamurnya media sosial. Kitapun diminta untuk selalu memiliki "moral yang tinggi" dalam berbahasa. 

Kita berdoa agar almahrum Profesor Gorys Keraf dapat memperoleh tempat yang layak di keabadian surga. (*)

Kamis, 17 Februari 2022

Merayakan Kairos, Pancawindu Uniflor 19 Juli 2020

Manusia selalu membuat dan memiliki sejarah, sehingga kerap disebut sebagai makhluk menyejarah. Dia selalu bergerak dalam suatu urutan waktu (kronos) maupun kairos, waktu yang paling penting untuk dihayati dalam perjalanan sejarah hidupnya. Ia menjadi momentum yang unik bagi orang perorang–pribadi, maupun kelompok untuk berhenti sejenak di titik itu, memberi “tanda” tentang perjalanannya. Kairos juga menjadi semacam batu pengilo menimbang seberapa berat (banyak) pribadi maupun kelompok bermanfaat bagi kepentingan masyarakat. Bahkan, momentum tersebut juga menjadi semacam kaca cermin untuk mengevaluasi derajat kualitas karya dan pelayanan yang telah dibuat. Di jedah itulah, sebagai makhluk dinamis akan merumuskan kiat, ide, dan cita-cita dengan strategi pencapaian dalam menapak setapak jalan yang ada di depan.

Universitas Flores sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi di Flores, pada tanggal 19 Juli 2020, menggapai usia Pancawindu atau 40 tahun berkarya.  Secara kelembagaan, institusi telah terakreditasi B. Semua fakultas dan program studi telah terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Ini artinya, masyarakat tidak perlu ragu atau khawatir mempercayakan putra-putrinya untuk melanjutkan kuliah di Universitas Flores.

Hingga saat ini, Universitas Flores memiliki tujuh fakultas, yaitu pertama: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dengan tujuh program studi, antara lain (1) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, (2) Program Studi Sejarah, (3) Program Studi Pendidikan Ekonomi, (4) Program Studi Pendidikan Matematika, (5) Program Studi Pendidikan Fisika, (6) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan (7) Program Studi Pendidikan Biologi.

Kedua, Fakultas Hukum, dengan Program Studi Ilmu Hukum; Ketiga, Fakultas Teknik, dengan Program Studi Teknik Sipil, dan Arsitektur; Keempat, Fakultas Ekonomi, dengan program Studi Akuntansi, Manajemen, dan Studi Pembangunan; Kelima, Fakultas Pertanian, dengan Program Studi Agroteknologi; Keenam, Fakultas Bahasa dan Sastra, dengan Program Studi Sastra Inggris; dan Ketujuh, Fakultas Teknologi Informasi, dengan Program Studi Sistem Informasi.

Menuju puncak perayaan Pancawindu 40 Tahun Universitas Flores, telah dilaksanakan berbagai kegiatan. Pencanangan Pancawindu dimulai dengan misa Pencanangan tanggal 2 November 2019, berpusat di Gereja Santu Yoseph Onekore. Waktu itu, Pastor Paroki Onekore Pater Herman Sina, SVD (Almahrum), dalam khotbahnya menandaskan tentang mewujudkan “kekentalan persahabatan” dalam aneka karya. Uniflor sebagai lembaga ilmiah mesti terus mengepakkan sayap membantu masyarakat dan umat di tengah kegelisahan hidup yang terus saja menghantui mereka. Permintaan Pater Herman ketika itu adalah, Uniflor sebagai lembaga yang berada di wilayah Paroki Onekore, hendaknya mengambil bagian dalam perayaan ekaristi. Dan, bagai gayung bersambut, kesiapan tanggungan liturgi di paroki ini pun langsung mulai dilaksanakan beberapa waktu setelah itu. 

Sebelumnya, pada tanggal 26 Oktober 2019, panitia melaksanakan kuliah umum menghadirkan Pakar Hukum Tata Negara, Prof. Dr. Refly Harun. Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas Flores, Dr. Simon Sira Padji, M.A., mengungkapkan bahwa Ende dan Uniflor ini menjadi semacam melting spot, tempat pertemuan juga peleburan berbagai budaya. Dengan iklim dan cuaca yang pas-pas, Ende juga Uniflor menjadi magnet tersendiri bagi orang, termasuk mahasiswa yang memilih Uniflor sebagai pilihan melanjutkan studi.

 

Menguatkan Sumpah

Memperingati Bulan Bahasa 2019, segenap civitas akademika Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) “menguatkan sumpah” dalam sebuah diskusi ringan di bawah tema “Sastra dan Ekolinguistik”. Diskusi yang dimoderatori oleh mahasiswa semester IV Anselmus Nong Sareng menghadirkan narasumber yang adalah dosen program studi antara lain: Dr. Yosef Demon, M. Hum., Dr. Petrus Pita, M.Hum, Dr. Veronika Genua, S.Pd., M.Hum, dan Dra. Maria Marietta Bali Larasati, M.Hum.

Pada kesempatan itu, bertempat di Anjungan Lantai 3 Gedung Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jalan Sam Ratulangi Ende, warga PBSI fokus pada perbincangan untuk “menguatkan sumpah” dalam tindak berbahasa, terutama berusaha menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar di tengah persaingan bahasa daerah dan bahasa asing dengan ragam penggunaannya yang banyak pula. Secara khusus, penggunaan bahasa di media sosial yang kaya dengan singkatan dan akronim. Sampai di titik ini, warga PBSI mesti menjadi contoh atau sosok yang perlu ditiru dalam penggunaan bahasa. “Harapan ini akan menjadi kenyataan, jika kita semua dari hari ke hari terus menata dan mengasah kemampuan dan keterammpilan berbahasa kita”, tegas Ketua Program Studi PBSI Dr. Yosef Demon, M. Hum., di hadapan peserta diskusi. Jika demikian, maka kita pantas “menguatkan sumpah” untuk setia dan loyal mengkampanyekan tidak saja bahasa Indonesia, namun juga bahasa daerah sebagai wahana filosofis yang padat dengan pandangan dan modal sosial hidup masyarakat, lanjut Dr. Petrus Pita, M.Hum.

Doktor Veronika Genua, M.Hum, saat menjawab pertanyaan tentang kapling ekolinguistik, menjelaskan tentang bagaimana kita menghargai dan melestarikan lingkungan. Verni mengilustrasikan bahwa semesta ciptaan Tuhan telah dilengkapi dengan bahasa. Jika kita merawat alam atau semesta, maka kita sedang merawat bahasa. Sebab, bahasa juga menekankan tentang keberlanjutan sebagaimana manusia membicarakan kelestarian dan keberlanjutan alam dan kehidupannya. Dalam soal yang sama, Ibu Eta Larasati menekankan tentang kontribusi sastra dalam kehidupan mahasiswa. Mahasiswa mesti selalu menajamkan daya imajinasinya dalam berpikir dan bertindak, asal tetap dalam konteks yang positif dan produktif.

 

Parade Budaya dan Invitasi Bola EGDC

Segenap civitas akademika Uniflor melakukan parade budaya, dengan titik start Lapangan Pancasila Ende hingga Stadion Marilonga. Pesertanya adalah mahasiswa, dosen, dan karyawan enam belas program studi. Mereka menampilkan budaya khas dari semua etnik Flobamorata. Sebagai missal, Program Studi Guru Sekolah Dasar menampilkan budaya Lamaholot Lembata. Tampak di atas sebuah pick up, animasi gambar ikan Paus yang sangat menarik perhatian massa. Dilengkapi dengan asesori khas Lembata: kain tenun, topi yang terbuat dari daun lontar, siri, pinang, parang, tombak, dan lain sebagainya. Para peserta menyanyikan yel-yel di setiap singgahan. Di depan para juri dan penonton yang berjubel sepanjang jalur perjalanan. Hal yang sama juga terlihat dari tampilan program studi lain.

Setibanya di Stadion Marilonga, peserta dihibur oleh 1.600 penari kolosal. Mereka datang dari utusan masing-masing program studi. Peragaan bentuk dan modifikasi aneka tarian khas Flobamorata menjadi tontonan ribuan penonton yang sudah mengantre.

Saat setelah hiburan, dilangsungkan pembukaan invitasi Sepak Bola Ema Gadi Djou Cup. Menurut Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Flores, Dr. Lory Gadi Djou, invitasi sepak bola Ema Gadi Djou Cup adalah bagian dari napak tilas merunut kembali perjalanan pendiri lembaga Universitas Flores, yakni Bapak Herman Josef Gadi Djou. Beliau sendiri adalah sosok atau figur yang suka bermain bola.

Sebagaimana yang dikisahkan istri Almahrum, Mia Gadi Djou, dalam “Saita Kai Na” (tanpa tahun) bahwa pertemuan atau cinta mereka bersemi karena bola. “Kebetulan karena bola, kalau boleh saya menggunakan istilah ini untuk menggambarkan pertemuan saya dan Ema”, tulis mama Mia (hal. 23). Ema adalah pemain Bon Jogja dan PS GAMA. Hampir semua yang suka nonton bola pasti tahu Herman, karena Ema bermain sangat bagus dan pencetak gol (hal. 42). Karena bola pulalah Ema dikenal, dari pejabat, tukang becak, maupun pedagang di toko (hal. 25).

Cerita Mia Gadi Djou, dengan keterampilannya menggocek bola, maka baju klub gampang didapat untuk mahasiswa Flores. Tuturnya, terdapat dua klub elite Jogja yang kostum pemainnya hanya sekali dipakai langsung dibuang. Ema memulung kostum-kostum tersebut bagi mahasiswa (hal. 24). Lanjutnya, karena Ema adalah pencetak gol, maka setiap klub yang berhadapan dengan klub PS GAMA atau Bon Jogja selalu menghalau kelincahan Ema. Jika pertandingan tersebut ada taruhannya, akan lebih berhati-hati pemain lawan. Tentang ini, Mia Gadi Djou menulis, “Suatu kali di sebuah pertandingan di Jogja, saat turun minum (istirahat), seorang bapak datang bertemu, minta supaya Ema jangan lagi memasukkan gol. Karena taruhannya 1–2. Ema susah menolak karena kalau tambah 1 gol berarti bapak ini melarat bersama keluarganya. Ema berdoa, semoga Tuhan berkenan mengatur yang terbaik. Dan, Tuhan memang mengatur yang terbaik, karena bapak penjudi itu tidak bangkrut, dan Ema tidak punya beban. Lantas, si Bapak memeluk Ema dan bertanya mau minta apa, Ema menjawab: yang penting bapak dan keluarga senang (hal. 25).

Itulah mengapa invitasi sepak bola EGDC menjadi momentum mengenang dan terus menghidupi figur bola yang satu ini. Tentu tidak sekadar mencari bibit-bibit bola tanah Ende Sare Lio Pawe. Lebih dari itu, invitasi ini juga menjadi kaca cermin mengukur derajat kemajuan sepak bola kita.

Rangkaian acara menuju puncak Pancawindu terus bergulir. Ada Jalinan Kasih di bawah koordinasi Ibu Sri Hartati Gadi Djou, melalui kegiatan sosial karitatif dengan mengunjungi Panti Asuhan dan keluarga-keluarga fakir miskin di Kota Ende, yang dilaksanakan pada 14–16 Desember 2019. Setelah itu dilangsungkan konser Natal pada 19 Desember 2019, bertempat di Auditorium H.J. Gadi Djou. Dan, masih banyak lagi kegiatan yang telah dilaksanakan panitia di tengah pagebluk Covid-19, termasuk melaksanakan wisuda daring, 18 Juli 2020. Selamat ulang tahun Universitas Flores.(*)

 



[1] Artikel ini dimuat pada https://florespos.co.id/berita/detail/merayakan-kairos--pancawindu-uniflor-19-juli-2020

Jumat, 11 Februari 2022

Puisi Memandangmu & Di Pantai Ende

Memandangmu (1)


memandangmu tak berkedip

dari puncak bukit Wongge

hamparan laut Sawu

palung menangkar ikan dan biota laut

tempat mengail nafkah para petualang bahari


akan kuceriterakan kepada anak-anakku di ruang kelas

saat diskusi tentang dunia bahari

yang luas tak bertepi

juga tentang engkau nelayan 

yang setia melempar pukat dan sauh


akan kujawab pertanyaan siswa dengan kejujuran

tentang dedikasi, semangat, dan kerja keras

darimu yang tanpa patah asa

mengarungi ombak biru pagi malam

demi asupan protein generasi bangsa.


setelah itu aku pulang

menceriterakan kepada istri dan anak

tentang keringat yang menetes pekat

luruh pelan dari petambak garam 

yang hasilnya dinikmati di atas meja makan

tapi hidupnya pas-pasan


itu semua dari laut sayang

demi kesehatan bangsa


dan akan kuajarkan tentang makna kesabaran dan ketabahan 

juga tentang kesuksesan yang tidak datang sendiri.

pun tentang keramahan menjaga ekosistem bahari

kepada semua mereka yang mencintai laut

agar masa depan anak bangsa lestari.

(*)



Di Pantai Ende


di pantai Ende

ikan-ikan berkeriapan


ada seorang nelayan datang bercerita

tentang musim melaut

yang selalu membuat jala terkoyak

penuh rezeki melimpah


di suatu pagi ketika pulang melaut

di musim tenggara

seorang lagi bercerita

tentang kail dan umpan

yang tak pernah bersarang semalam suntuk


keduanya bersua

melukis kisah di pasir pantai Ende

memeterai terima kasih di atas riak arus selatan

bahwa rahmat Tuhan selalu disyukuri (*)


____________________

Puisi Memandangmu dan Di Pantai Ende dimuat dalam Antologi Puisi Maritim: Tarian Laut, yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius Yogyakarta (2022)









Manusia Makhluk Menyejarah


Manusia itu memiliki sejarah (menyejarah). Ia selalu bergerak dalam suatu urutan waktu (khronos), maupun kairos, waktu yang penting dalam sejarah perjalanannya.

Manusia adalah makhluk yang suka bercakap-cakap, bahkan menghabiskan waktunya untuk bercerita, mulai dari hal-hal yang remeh temeh hingga hal-hal yang besar urgensif. Manusia juga adalah makhluk yang berhasil membangun dunia dan lingkungannya melalui bahasa.

Manusia juga suka atau gemar bermain-main dengan bahasa (homo ludens). Salah satu ciri rancang bangun bahasa adalah ketika manusia dapat berbicara tentang masa lalu atau masa lampaunya, masa kini, rencana atau menghayal dan bermimpi tentang masa depannya. Ia dapat membuat skenario untuk mempersiapkan diri tentang apa yang mungkin terjadi.

Manusia sebagai homo symbolicum, mencipta lambang untuk mempresentasikan konsep, gagasan, maupun pengalamannya secara abstrak.

Manusia juga adalah makhluk homo sapiens, makhluk berpikir atau pemikir bijak yang selalu menyadari keberadaannya. Sebagai makhluk acapkali mempertanyakan keberadaannya atau eksistensinya.

Manusia itu unik---sebagai kelompok maupun unik sebagai pribadi---orang perorang. Secara pribadi, manusia ibarat sebuah "bab" penting dalam kitab/buku dalam sejarah umat manusia, dan bab itu tak tergantikan (*)