Halaman

Selasa, 07 Maret 2023

Bijak Berinformasi untuk Menghindari Konflik

 

Sebagai sebuah bangsa kita telah menjejak jalan hidup panjang dengan bersandar pada nilai-nilai kebangsaan yang telah tertanam dalam bangunan bangsa Indonesia. Keuletan dan ketokohan para pendahulu untuk teguh pendirian menghadirkan sebuah bangsa Indonesia yang berdaulat. Mereka mulai meratas dan meretas “jalan panjang” penuh liku menuju bangunan NKRI yang satu. Mereka adalah representasi “sedikit” orang dari “banyak” orang, jika ditilik dari situasi kekinian, yang memiliki itikad dan ikhtiar untuk terus merawat perdamaian.

Perdamaian yang dialami sekarang juga adalah bukti sebuah “jalan panjang” yang ditenun secara bersama-sama. Maka, atas nama perdamaian di tengah kebinekaan, upaya “berdamai” dengan sesama anak bangsa harus tetap diperjuangkan. Tanpa melihat ada perbedaan sedikitpun, karena justru perbedaan itulah telah berperan merekat dan memadukan semua kita dalam satu negara Indonesia. Negara yang berkarakter kuat dalam gagasan dan pandangan yang humanis kemanusiaan, maupun dalam tindakan, perilaku, dan sikap hidup. Karena bahwa setiap manusia secara imanen mempunyai kesadaran terhadap apa yang ada di sekeliling kita yang masing-masing berbeda, sehingga sebaiknya kita harus mengakui kesadaran itu, tanpa bermaksud menilainya baik atau buruk dan kurang atau lebih.

Dalam kehidupan heterogenitas masyarakat, memang cenderung terjadi polarisasi hubungan antara orang perorang, maupun antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Faktornya juga bermacam-macam. Salah satunya adalah pertentangan atau perbedaan itu terjadi akibat cara pandang dua kelompok yang berbeda dalam menyelesaikan suatu masalah. Dalam struktur masyarakat yang demikian, hubungan seperti ini sering berjalan tidak linier. Sebagai jalan tengah memulihkan relasi akibat polarisasi dimaksud, maka masyarakat mesti membangun dan merajut kembali interaksi dialogis.

Dalam cara pandang interaktif dialogis yang demikian, Bourdieu mengajukan dua konsep yang disebutnya sebagai habitus dan ranah. Habitus adalah struktur kognitif yang memperantarai individu dan realitas sosial. Oleh karena itu, habitus merupakan struktur subjektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur objektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus bagi Bourdieu (Takwin, 2009: xix), merupakan produk budaya sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat. Pada proses interaksi dengan pihak luar itulah, terbentuklah ranah yang menjadi pertemuan pada ruang sosial untuk memungkinkan individu dan habitusnya berhubungan dengan individu lain dalam berbagai realitas sosial.

Dalam koridor hubungan yang demikianlah ranah telah menjadi pertaruhan kekuatan-kekuatan serta orang yang memiliki banyak modal dan orang yang tidak memiliki modal. Para pemodal, penguasa dan kelompok elite adalah contoh konkrit kelompok yang memiliki skemata kognisi yang mapan sebagai perwujudan habitus dalam rangka melakukan tawar-menawar untuk mendapatkan ranah atau posisi dan kekuatan mempertahankan status quo. Mereka akan berbaur dengan kelompok-kelompok humanis yang senantiasa mengusung perdamaian dan “menolak” untuk melanggengkan konflik, sehingga mereka terus tak henti menganjurkan jalan keluar penyelesaian melalui jalur damai. Pendekatan yang barangkali tidak diminati kelompok kekuatan kognisi maupun kekuatan modal.

Dari sudut yang lain, bolehlah kita jujur bahwa penyebab sikap dan perilaku yang destruktif disebabkan juga oleh adanya kepesatan perkembangan teknologi dan informasi. Ketika bangsa ini belum siap mental dan psikologis, menghadapi godaan dan terpaan teknologi yang datang secara massif. Jadilah bangsa inipun kaget dan menjadi bangsa yang konsumtif. Namun demikian, tentu kitapun tidak bisa menolak, mengelak dengan kepesatan yang ada. Melalui pintu pendidikan segenap anak bangsa mesti memiliki sikap selektif yang baik untuk memilah dan memilih aneka macam informasi agar tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi tersebut, di tengah aliran deras informasi hoaks dan ujaran kebencian yang kian tak terelakan.Oleh sebab itu, warga bangsa, terutama generasi muda dan mahasiswa secara khusus perlu menanamkan dan melestarikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat. Bineka Tunggal Ika dan Pancasila adalah estetika keindahan bangsa dalam merajut dan merawat perjalanan bangsa ini ke depan. (*)

Bertahan Hidup dengan Cerita



Jika Anda mendapatkan sebuah cerita, jagalah sebaik-baiknya. Belajarlah untuk menyampaikan kepada orang yang membutuhkannya. Untuk dapat bertahan hidup kadangkala seseorang lebih membutuhkan cerita daripada makanan (Bary Lopes).

Pembelajaran dengan bercerita bukan merupakan sesuatu hal yang baru. Jauh sebelum orang mengenal bahasa tulis, cerita telah digunakan dalam proses pembelajaran. Data mengenai hal ini paling tidak dapat kita temukan dalam pengajaran yang dilakukan nenek moyang kita. Seluruh karya dan perjalanannya dilakukan dengan bercerita.

Jika diamati secara serius, tradisi bercerita ini perlahan mulai ditinggalkan, seiring ditemukannya buku serta berkembangnya teknologi informasi yang semakin pesat. Namun demikian, tidak serta merta orang senang membaca buku, termasuk buku cerita. Cerita yang kaya akan nilai telah banyak ditinggalkan orang sehingga merekapun kehilangan nilai-nilai universal dalam hidupnya. Kita percaya melalui pembelajaran di kelas berbagai cerita akan disebarkan ke tengah publik untuk mendapatkan pesannya. Karena itulah berceritalah. Bercerita membangkitkan daya nalar siapa saja, terlebih bagi para siswa generasi masa depan untuk menghadapi kehidupannya kelak.

Cerita merupakan bagian tidak terpisahkan dalam sejarah kehidupan manusia. Hampir setiap daerah memiliki cerita yang disebut cerita rakyat. Pada awalnya cerita tersebut berkembang dari mulut ke mulut. Karena itu sering kali cerita rakyat tidak diketahui kapan dan siapa orang yang pertama kali memperkenalkan cerita tersebut. Secara pasti setiap cerita mengandung maksud dan nilai yang akan disampaikan bagi para pendengarnya. Karena cerita disampaikan secara lisan, maka nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut dapat menjadi milik semua orang, terinternalisasi dalam diri pendengarnya. Dengan demikian, pendengar tidak hanya dapat menceritakan cerita tersebut kepada generasi berikutnya, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi bagian dan referensi hidupnya.

Kesepakatan World Economic Forum tahun 2015 tentang enam literasi dasar  menjadi tanggung jawab penuh semua elemen masyarakat, baik itu orang tua, masyarakat umum, maupun lembaga-lembaga pendidikan di negara ini. Enam literasi dasar yang disepakati tersebut, yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Penggiatan literasi telah mendapat tempat yang proporsional sebagai sebuah gerakan bersama yakni Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diluncurkan pemerintah melalui Permendiknas Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Roh Permendiknas ini menjadi instrumen pengayuh tanpa henti yang dapat dilakukan oleh semua elemen di atas dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya budaya literasi di sekolah dan masyarakat umum.

Jika di satu pihak, cerita atau bercerita (berbicara) menjadi penting sebagai transfer pesan lisan kepada orang lain, maka pada saat yang sama aspek atau aktivitas lain yang juga memiliki urgensi yang sama yaitu menulis. Karena berbicara dan menulis adalah dua kegiatan yang sama-sama bersifat produktif. Mahasiswa sebagai generasi dan pemimpin masa depan harus bisa menjadi penulis sekaligus pencerita yang baik. Karena itu, sangat diyakini bahwa akan terjadi keseimbangan antara keterampilan menulis dan keterampilan berbicara (bercerita). Keseimbangan demikianlah menjadi alat yang sangat bijak bagi mahasiswa dalam mentransfer pesan, bahkan melakukan pendampingan di masyarakat dalam membantu pemerintah menyukseskan gerakan-gerakan literasi yang disebutkan di atas. (*)




Tarian Laut


Buku baru, "Tarian Laut, Antologi 222 Puisi Maritim".  

Buku antologi puisi "TARIAN LAUT ANTOLOGI 222 PUISI MARITIM". Antologi puisi hebat ini hasil karya para penulis dari Aceh sampai Papua. Diterbitkan oleh Penerbit Kanisius tahun 2022, dengan editor Novi Anoegrajekti, Ida Nurul Chasanah, dan Sudartomo Macaryus. Kata pengantar ditulis oleh Prof. Dr. Manneke Budiman, M.A., guru besar Universitas Indonesia. Saya menulis 2 puisi, masing-masing dengan judul Memandangmu dan Di Pantai Ende.

Laut, selain merupakan wilayah perairan yang luas juga merupakan tempat pencarian nafkah bagi para pelaut atau nelayan. Darinya masyarakat atau konsumen memperoleh pasokan protein. Untuk itulah, secara ekologis laut perlu dijaga dan dipelihara. Dari perspektif yang lain, laut merupakan rentang perekat dalam menghubungkan pulau yang satu dengan pulau yang lain. Masyarakat di masing-masing pulau tersebut memperoleh kenikmatan, kenyamanan komunikasi dan interaksi melalui sarana-sarana yang disiapkan oleh pengelola pelayaran swasta maupun negara. Pelayaran melewati selat, melibas arus menerjang badi. Melampau tanjung melayari ombak mendarat ke tepian. Dari aspek kajian sastra, laut menjadi semacam lahan subur menggembur sekaligus menyemai ilmu pengetahuan. Menggali denyut nadi dari terik panas dari kedalaman palung yang tak teraih. Dari sinilah protein dan kecerdasan anak bangsa terbentuk. Laut kaya akan khazanah. Mari kita ke laut!

Antologi ini wajib dimiliki sebagaimana ucap penulis fiksi Franz Kafka bilang, sebuah buku dapat menjadi sebilah kapak es yang sanggup memecahkan lautan beku dalam diri kita. (*)

Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo karya W.S. Rendra

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi

bulan berkhianat gosok-gosokan tubuhnya di pucuk-pucuk para

mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu

surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.

Segenap warga desa mengepung hutan itu

dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo

mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang

berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.                    

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya

penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

 __ Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.

Majulah Joko Pandan! Di mana ia?

Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa

 Anak panah empat arah dan musuh tiga silang

Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh silang.

 __Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa.

 

Bedah perutnya tapi masih setan ia

menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala.

 __Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Panndan

segala menyibak bagi derapnya kuda hitam

ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

Pada langkah pertama keduanya sama baja

pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo

panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka

pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah

 Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang

Ia telah membunuh bapanya

 W.S Rendra, Ballada Orang-orang Tercinta, Jakarta: Pustaka Jaya

 

Skenarionya:

1.        Jelaskan sedikit saja tentang puisi!

2.        Temukan kata-kata konotatif dalam puisi tersebut! (kata-kata yang bertanda kuning).

3.        Buatlah gambaran umum tentang puisi tersebut!

4.        Masalah apa yang ditampilkan penyair dalam puisi tersebut!

5.        Apa sikap penyair terhadap masalah? (bermacam-macam: persuasi, simpati, sinis, prihatin, acuh, mengajak, mempengaruhi, nasihat, petunjuk, dll, tergantung warna puisinya).

6.        Bagaimanakah sikap penyair terhadap pembaca?

7.        Buatkan kesimpulannya!

8.        Bacakan puisi di depan kelas dengan gaya masing-masing!


Pengantar:

Puisi merupakan sebuah cipta sastra yang universal interpretatif. Ia adalah pergumulan indidual akan sebuah realitas. Sebuah rekaman mimesis akan segala sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Tentang kemiskinan, ketidakadilan, dll. Salah satu cara pembaca menginternalisasikan atau membathinkan sebuah puisi adalah dengan mengindahkannya, menikmatinya, kemudian menghargainya.

 Soal-soal diskusi kelompok.

1.        Gambaran umum puisi Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo

Puisi Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo, mengisahkan sebuah dunia Atmo Karpo, keserakahan dan dunia kekerasan yang mesti dijalaninya. Dunia keserakahan tentang hal-hal duniawi. Dunia kekerasan penuh dendam, benci, dan permusuhan, baik dengan orang-orang di kampungnya, orang-orang dekat, termasuk dengan anaknya. Atmo Karpo gagah perkasa dengan dunia kekerasannya memasuki kampung, meskipun akhirnya binasa juga justru di tangan anaknya sendiri. Bahwa ternyata kekuasaan acapkali membuat kita kalap dan lupa akan kasih sayang kepada sesama, mungkin juga terhadap anak.

2.        Masalah apa yang ditampilkan penyair dalam puisi.

Misalnya:

a.       Apakah kita menginginkan sifat serakah dalam hidup ini?

b.      Bagimanakah perasaan kita ketika mengamati, menyaksikan sebagaian sesame kita hidup dalam kemiskinan, kemelaratan, sedangkan yang lain bergelimangan harta?

c.       Dll.

3.        Apa sikap penyair terhadap masalah? (bermacam-macam: persuasi, simpati, sinis, prihatin, acuh, mengajak, mempengaruhi, nasihat, petunjuk, dll). Sikap penyair di sini adalah marah dengan ketakberpihakan pemerintah dengan rakyatnya.

 

4.        Sikap penyair terhadap pembaca

Sikap penyair terhadap pembaca pada puisi ini adalah membiarkan pembaca mencoba dan berusaha untuk menafsirkan pesan secara sendiri-sendiri. Hal ini ditandai dengan penyair menggunakan kata-kata simbolik dalam puisi tersebut. Pembaca dapat menghubungkannya dengan situasi sosial yang berada di sekitar kehidupan mereka.

5.        Kesimpulannya

Pengarang puisi hendak membangunkan kesadaran, nurani, rasa, juga budi  kita untuk saling menghargai kehidupan ini. Misalnya, menjadi pemimpin yang memahami rakyatnya, mahasiswa yang mengetahui tugasnya, orang tua yang melindungi anaknya, anak yang menghormati orang tuanya,dll. Dengan demikian, hargailah hidup, karena hidup ini bersifat sementara dengan perbuatan-perbuatan bajik, dan bernilai untuk orang lain.

 

Lab. drama fakultas sastra universitas negeri malang

13 oktober 2010

                                 @lexander bala gawen

 

 

Sabtu, 04 Maret 2023

Pendidikan sebagai Paidea


Pendidikan adalah rekayasa pembudayaan manusia. Pendidikan sebagai paidea dengan tujuan agar manusia benar-benar dibebaskan dari ketidakmatangan, kebodohan untuk menjadi seorang yang berbudaya dan memiliki humanitas yang matang secara intelek maupun kultural. Dengan begitu, manusia akan ikut andil dan turut terlibat secara optimal dalam kehidupan sosial budaya masyarakat.

Proses pendidikan yang dilaksanakan diupayakan agar anak manusia dapat memiliki keseimbangan persona secara memadai. Berbagai definisi untuk melukiskan perihal ini telah cukup banyak diutarakan berbagai tokoh dari kalangan yang berbeda. Tentu juga dalam persepektif keilmuan yang berbeda pula. Salah satu yang relevan dengan uraian ini adalah definisi yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro. Beliau menjelaskan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, berupa kekuatan batin, karakter, dan pikiran (intelect), serta tubuh anak.

Upaya yang dilakukan agar anak mencapai keseimbangan diri yang optimal dan memadai adalah melalui penyelenggaraan pendidikan formal di sekolah. Unit penting penyelenggaraan pendidikan di sekolah sebagai konkritisasi optimalisasi potensi peserta didik tampak pada desain kurikulum yang dirancang dan dioperasionalkan dalam pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Rancang bangun kurikulum menjadi petunjuk tentang ketercapaian potensi pada diri anak didik. Dengan demikian, kurikulum menjadi "roh" atau jantung pelaksanaan pendisikan di sekolah.

Kurikulum pendidikan dirancang tidak hanya untuk keuntungan mahasiswa secara individu, tetapi memungkinkan mereka untuk berhasil secara kompetitif, menggerakkan dunia ekonomi juga diperuntukkan untuk kepentingan masyarakat luas (Fung, 2017:156). Oleh karena itu, kurikulum sedapatnya dirancang, disusun mengikuti proses atau alur kerja yang akuntabel, terutama menyerap berbagai aspirasi dari segenap pemangku kepentingan: guru, siswa, pengguna jasa, praktisi, ahli, dan elemen-elemen pedagogik lainnya. Rancang bangin dimaksud juga dengan mempertimbangkan umur dan  tingkat kemampuan para siswa. (*)

Jumat, 24 Februari 2023

Menulislah Terus


Gerson Poyk, sastrawan nasional dan perintis sastra NTT menulis sebuah ulasan saatra dengan judul "Dari Mata Turun ke Hati." Ulasan tersebut dimuat dalam Antologi Cerpen Cerita dari Selat Gonsalu", yang diterbitkan oleh Kantor Bahasa NTT tahun 2015. Antologi Cerpen ini memublikasikan 57 judul cerpen dari 27 penulis. Selain menulis ulasan antologi ini, Gerson Poyk juga salah satu yang menulis cerpen untuk antologi dimaksud. Kata Pengantar ditulis oleh Yohanes Sehandi pengamat sastra NTT dari Univeritas Flores Ende.

Di akhir ulasannya yang ringkas dan padat, Gerson Poyk menyodorkan sebuah pesan atau wasiat penting untuk muda-mudi NTT. Begini pesannya:

"Untuk muda-mudi NTT, menulislah terus, syukur kalau menghasilkan karya berbobot. Kalaupun hasilnya karya pop, yang penting ada untaian kata dan kalimat yang merusak khayalan pop dengan seni filsafat bercinta, yaitu mengandung respek, tanggung jawab, dan saling mengerti kekurangan dan kelebihan masing-masing." (*)



Selasa, 21 Februari 2023

Hari Bahasa Ibu Internasional



Kehidupan dan seluruh relasi yang kita bangun dengan lingkungan sangat ditentukan oleh bahasa, termasuk bahasa daerah. Bahasa daerah atau bahasa ibu ada dan tumbuh dalam lingkungan budaya kita, dan oleh sebab itu, nilai-nilai budaya sering dengan jelas terungkap secara khas dalam bahasa daerah kita masing-masing. Bahasa daerah telah menjadi energi kita melalui berbagai kata bijak, mitos, teka-teki, perumpamaan, dan berbagai cerita yang mengakar. Itu semua perlu kita hargai, dan lestarikan agar terus menjadi energi atau daya bagi generasi berikut.


Selamat memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional. (*)