Kabut
tebal masih menggelayuti Jalan
Tite Herun di kota tua ini. Panorama keilmuan
kota pelajar ini pun belum tampak menggeliat. Embun pagi masih tampak
menggelantung pada dedahanan taman-taman kota.
Kuncup mekar pagi menorehkan senyum perangai wangi warga bunga pada
petakan setiap taman untuk menyapa warga kota yang melewati lorong-lorong
waktu. Pandangan
coba kuarahkan jauh ke depan. Mendapati seorang sosok tegar mengayuh pelan
tongkat menghampiri kampus universitas tua di kota itu. Agak terbata-bata aku
coba memberanikan diri untuk mendekati dia. Di tikungan lorong pada Jalan Tite Herun, kami bersua
membuka percakapan panjang lebar tentang kekokohan juga ketegarannya
membentengi dirinya dengan ilmu.
Jumat, 06 April 2018
Jumat, 12 Januari 2018
Perempuan Sastra
Pengantar
Sama
dengan pemikiran-pemikiran besar lainnya, feminisme merupakan sebuah fenomena
kultural yang harus diperhitungkan, sekaligus dapat terus dipertanyakan secara
kritis dasar-dasar argumentasinya. Alasan kemunculannya, terutama bila dilihat
dari perspektif modern, ialah berdasarkan ketidakpuasan terhadap realitas yang
dianggap sebagai konstruksi patriarkal.
Jumat, 29 Desember 2017
Waktu
Gambar diambil dari
Waktu. Satu kosa
kata yang sangat familiar dengan kehidupan kita. Istilah yang secara semantik
menunjuk pada rangkaian saat (ketika) untuk mengungkapkan saat atau lamanya
suatu proses perbuatan atau keadaan berada berlangsung. Artinya, waktu
berproses terus, dari saat ke saat, dan dari waktu ke waktu. Suatu tenggat
eksistensi manusia serta makhluk hidup yang bernapas menjalani hidupnya. Hampir
bisa dipastikan bahwa rentang eksistensi itu telah diatur oleh waktu. Seluruh
pergumulan aktivitas dan rutinitas kita telah terkapling dalam zona waktu.
Mulai bangun pagi hingga sore, bahkan sampai malam. Dari menit pertama sampai
menit terakhir. Bahkan, dari jam, hari, bulan hingga tahun berganti. Kita
senantiasa “menyerahkan” hidup dan diri kita pada kata ini, waktu.
Peluncuran Buku Inspirasi Almamater: Antologi Puisi Komunitas Puisi Jelata Universitas Flores
Geliat sastra di
Flores kota Bunga, secara khusus, di kota Ende, kota Pancasila belakangan ini
tengah bergairah. Lahirnya komunitas sastra di kota-kota di Flores, termasuk
Ende adalah tanda betapa sastra sangat dibutuhkan oleh masyarakat pembaca dalam
menanggapi dan memaknai hidup. Sastra semacam jalan, tapak kaki yang
meninggalkan bekas, dan bekas tapak kaki itulah makna terdalam yang musti
diapresiasi. Satu indikator kemajuan bersastra adalah lahirnya karya-karya
sastra, entah puisi, cerpen, drama.
Komunitas Jelata
Universitas
Flores sebagai lembaga pendidikan tinggi turut ambil bagian dalam proses mendidik
dan membimbing calon penulis sastra yang baik. Salah satu hasil bersastra yang
dituai ketika Komunitas Sastra Jejak Langkah Kita (JeLaTa) Program Studi (Prodi)
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores, Jumad, 17
Februari 2017, bertempat di Anjungan PBSI Uniflor meluncurkan karya sastra mahasiswa dengan judul Inspirasi
Almamater: Antologi Puisi Komunitas Puisi
Jelata Universitas Flores. Peluncuran dihadiri oleh Ketua Umum Yapertif Dr.
Laurentius D. Gadi Djou, M.Akt., Ketua Program Studi PBSI Sr. Imelda Oliva
Wissang, S.Pd.,M.Pd., Penanggung Jawab
penerbitan, dan editor Drs. Yohanes Sehandi, M.Si., para dosen dan ratusan
mahasiswa.
Ketua Prodi
Imelda Oliva Wissang, S.Pd.,M.Pd., dalam sapaan
pembukanya di
hadapan sedikitnya 200-an peserta diskusi menyampaikan kebanggaan dan apresiasi atas satu capaian mahasiswa. “Ini
sebuah perjuangan. Suatu capaian dan jerih payah
dalam merekonstruksi teori ke dalam praktik yang patut diapresiasi. Bahwa mahasiswa sebagai generasi muda mampu menuliskan isi
pikirannya. Puisi-puisi yang ditulis oleh mahasiswa dalam buku antologi ini
merupakan karya kreatif dan ungkapan hati tentang beraneka hal. Saya memberikan
apresiasi yang dalam atas terbitnya karya ini sambil tetap terus mendorong
lahirnya karya-karya berikut”, harapnya.
Selanjutnya,
Drs. Yohanes Sehandi, M.Si., penanggung jawab penerbitan,
dan editor buku antologi menjelaskan proses seleksi
hingga terbitnya naskah. Terdapat 54 nama penyumbang puisi dalam antologi Inspirasi Almamater, terdiri dari 42
orang penulis perempuan, dan 12 orang penulis pria. Seleksi terhadap puisi
dilakukan oleh para pengurus Komunitas Puisi Jelata didampingi oleh dua dosen
Prodi PBSI yaitu Rosa Dalima Bunga dan Sr. Imelda Oliva Wissang. Menurut Yan
Sehandi, editor hanya melakukan pengeditan bahasa dan lay out, terutama pengeditan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan (EYD). Katanya, Antologi Inspirasi Almamateradalah buku yang ketiga yang diterbitkan oleh
Prodi PBSI. Pertama, buku Pesona Indonesiaku:
Antologi Puisi Anak Sekolah Dasar Kota Ende, Editor Imelda Oliva Wissang, diterbitkan atas kerja sama dengan Penerbit
Nusa Indah Ende, 2013. Buku ini merupakan antologi puisi hasil lomba penulisan
puisi siswa SD se-kota Ende pada waktu peringatan Bulan Bahasa Oktober 2012
yang diselenggarakan Program Studi PBSI Universitas Flores,
Kedua, buku Wajah
Indonesiaku: Antologi Cerpen Siswa SMA Flores Lembata, Editor Imelda Oliva
Wissang, Yohanes Sehandi dan Veronika Genua, diterbitkan atas kerja sama dengan
Penerbit Aditya Media, Yogyakarta, 2014. Buku ini berisi 18 cerpen siswa SMA
sedaratan Flores Lembata yang mengikuti lomba penulisan cerita pendek pada
peringatan Bulan Bahasa Oktober 2013. Buku ketiga Inspirasi Almamater: Antologi
Puisi Komunitas Puisi Jelata Universitas Floresadalah hasil kreativitas mahasiswa PBSI angkatan 2013 yang tergabung
dalam Komunitas Puisi JeLaTa. Buku antologi ini diberi Prolog oleh Maria
Marieta Bali Larasati, dosen kritik sastra dan epilog oleh Imelda Oliva
Wissang, Ketua Program Studi PBSI sekaligus dosen Apresiasi dan Kajian Puisi. Menurut Yan
Sehandi, prolog dan epilog dalam antologi ini diharapkan dapat memberikan
gambaran bagi para pembaca untuk dapat menikmati puisi-puisi yang terhimpun
dalam antologi..
Usai sesi peluncuran dilanjutkan dengan diskusi buku dengan
menghadirkan empat pembicara, yaitu Pater Amandus Klau, SVD., Gratiana Sama,
S.Pd.,M.Hum., Dra. M.M. Bali Larasati, M.Hum., dan Beatrix Aran.
Pater Amandus
Klau, SVD., dalam pemaparannya berangkat dari pendapat Plato yang mengatakan
bahwa karya sastra kabur dan bernilai rendah. Namun demikian, sebuah karya
sastra mesti dibongkar untuk memberikan bobot sekaligus menemukan makna
terdalam lahirnya sebuah karya sastra, Bobot itu dapat mencerminkan realitas
yang sesungguhnya, entah dalam hubungannya dengan Sang Pencipta, kemanusiaan,
dan alam semesta. Dalam konteks itulah, menurut dosen Jurnalistik pada Prodi
PBSI dan editor HU Flores Pos ini, bila dibongkar, sekurang-kurangnya terdapat
lima makna inspiratif dari antologi ini, antara lain makna waktu dan kebebasan,
makna persahabatan, makna keberimanan, makna politik, dan makna postmodern. Makna-makna
ini menggambarkan eksistensi mahasiswa idealis yang terus mencari dan mencari.
Itulah sebabnya, hemat Pater Amandus, proses mencari adalah sebuah sikap
menemukan identitas dan jati diri, kendati itu dalam cipta sastra.
Gratiana Sama,
S.Pd.,M.Hum., melihat lahirnya antologi ini sebagai sebentuk ekspresi kerinduan
mahasiswa akan berbagai rasa dan cinta. Gratiana yang juga dosen Prodi Sastra Inggris Uniflor ini, menandaskan kerinduan adalah soal
hasrat dalam hidup yang mesti diperjuangkan setiap kita. Salah satu perjuangan dalam
cara pandang mahasiswa adalah menulis puisi. Dan, mahasiswa telah memberikan
andil untuk mengawetkan kerinduan-kerinduan yang terpendam itu dalam bentuk
antologi. Sebuah langkah positif yang saya apresiasi karena menulis, bagi saya
bermakna abadi. Walaupun ekspresi kerinduan itu masih terbatas pada iman, sosok
ibu, situasi sedih, lingkungan almamater, situasi politik, namun itulah suatu rentang
dan babak kehidupan yang menggambarkan keberadaan para penulis (mahasiswa).
Dra. M.M. Bali
Larasati, M.Hum., menyoroti kehadiran Inspirasi
Almamter dari terminologi “sastra wangi” yang menebarkan aroma inspirasi
yang lahir dari kedalaman nubari ”alma”, ibu atas kehidupan. Menurutnya,
puisi-puisi di dalamnya menyebarkan aroma harum mewangi yang mesti
terus-menerus digairahkan melalui kegiatan membaca sastra dan menulis sastra. “Tentu
Anda jangan puas dan berhenti menulis. Pengamatan saya, mahasiswa belum optimal
menggunakan perpustakaan secara baik untuk menggali dan mendapatkan informasi
yang utuh tentang sastra. Akibat kemajuan teknologi dengan bantuan media
elektronik yang pesat, mahasiswa lebih suka membaca potongan-potongan informasi
melalui internet. Perpustakaan, baru banyak dikunjungi mahasiswa pada saat
hendak menulis skripsi. Padahal, seorang penulis puisi yang baik adalah juga
seorang pembaca sastra yang baik, ” ujar Ibu Eta yang dosen kritik sastra ini.
Menulis Sebagai Proses Gerak Hati
Menurut Eta,
menulis puisi adalah proses gerak hati, pikiran dan kekayaan imajinasi.
Pengalaman menghayati proses inilah melahirkan empat manfaat bagi seorang
penulis. Pertama, sebagai alat
ekspresi diri, suasana dan pengalaman batin, rasa suka, duka, bebas, tertekan,
galau, frustrasi, bahagia, berontak, dan lain-lain. Kedua, menulis puisi sebagi alat memahami secara lebih jelas
danmendalam ide-ide yang ditulisnya. Ketiga,
sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap lingkungan sekitarnya. Keempat, alat untuk terlibataktif dalam
kegiatan bersastra. Dengan pengalaman bersastra kreatif inilah, mahasiswa tidak
hanya memperoleh pengetahuan tentang ilmu sastra dan apresiasi sastra, tetapi
juga pengalaman proses kreatif.
Mewakili
teman-teman penulis, Beatrix Aran menyampaikan terima kasih atas berbagai
konsep dan ilmu sastra yang diperoleh dari para dosen. “Saya mengucapkan terima
kasih. Ilmu sastra yang kami peroleh, mengendap, dan terartikulasi dalam aneka
rasa puisi dalam antologi ini. Tentu kami masih membutuhkan petunjuk dan dampingan
para dosen untuk proses kreatif kami selanjutnya.”
“Tugas kita
semua adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlewatkan dalam diskusi ini
pada setiap perjumpaan kita di dalam proses perkulihan. Satu yang penting
kita mesti terus berproses dalam berbagai karya sastra, karena demikianlah yang
bisa kita baktikan untuk masyarakat” tandas Falentinus Bata, moderator diskusi
siang itu. Salam Almamater.*
[1] Disari
dari kegiatan Peluncuran Inspirasi Almamater:
Antologi Puisi Komunitas Puisi Jelata Universitas
Flores oleh Komunitas Sastra Jejak Langkah Kita (JeLaTa) Program Studi (Prodi)
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores, Jumad, 17
Februari 2017, bertempat di Anjungan PBSI Uniflor.
Wajah Indonesiaku: Wajah Kita Semua
Wajah dapat diartikan
sebagai roman muka atau muka. Semua orang memiliki wajah dan tentu sangat
berharap agar wajah tersebut memancarkan sesuatu yang baik. Diksi wajah ini
dipilih untuk melengkapi diksi Indonesia sebagai judul antologi cerpen siswa
SMA Flores Lembata. Wajah yang secara khusus menyentuh dan melekat kuat pada
kedirian seseorang digunakan dalam konteks ini untuk mengungkap sesuatu yang
lebih luas menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya,
setidak-tidaknya wajah sebuah Indonesia dapat ditemukan dalam antologi cerpen
ini. Pemakaian diksi Indonesia saja dalam konteks ini, telah memunculkan rasa bangga
tentang sebuah nama juga tempat yang spesial di hati kita semua anak bangsa. Sebuah
nama yang memang secara empiris sangat multikultural, multilingual, dan
pluralistis dengan ruang geografis pulau Nusantara, dan lingkungan
sosiokultural yang unik dan spesifik. Sangat menakjubkan
dunia sejagat.
Wajah Indonesiaku menjadi
lengkap apabila dipandang dari dua sisi yang berbeda, sebagaimana eksistensi
kehidupan manusia itu sendiri yang dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan
kematian. Pilihan Wajah Indonesiaku juga masih dalam semangat yang sama yakni
ingin menampilkan sisi lain kehidupan sebuah Indonesia. Sebuah wajah yang
dahulunya cantik dan ayu, sekarang tampak bopeng, karut marut, tercabik-cabik,
penuh dengan konflik horizontal. Dari pusat sampai ke daerah, bahkan menusuk
hingga ke kampung-kampung. Inilah sebuah realitas kekinian yang sedang menimpa
wajah Indonesia. Wajah lain yang dimaksudkan tertuang dalam antologi cerpen
siswa SMA Flores Lembata. Letupan emosi dan ekspresi penghayatan juga
pengalaman kekinian mereka tentang kehidupan sesungguhnya. Bagaimana mereka
berusaha menghayati dan mencipta dengan sungguh realitas sekitar. Mereka telah berusaha melihat dengan mata telanjang dan mengangkat
sesuatu yang terlewatkan oleh kebanyakan orang. Mereka juga telah memposisikan
diri sebagai produsen dalam mengangkat dan menggarap sesuatu tidak pada tempatnya untuk dipasarkan
ke tengah masyarakat. Mereka telah menjadi lentera kehidupan
yang selalu menyalakan kandil di tengah kegelapan.
Bagi saya letupan perasaan para siswa SMA Flores Lembata
yang tertuang dalam karya sastra cerpen ini menjadi semacam renungan profetis. Renungan-renungan
ikhlas tentang serangkaian kehidupan coba
ditebar ke tengah publik. Tentunya berangkat pada kebeningan nurani dan kejernihan hati yang utuh dan bulat tentang realitas di
sekitarnya. Dengan demikian, sastra menjadi media
interaksi sosial masyarakat. Menjadi cermin meneropong diri dan kelompok sosial
yang lebih besar. Sastra juga menjadi media belajar bersama tentang hidup nan
kompleks. Sastra menjadi “bahasa penghubung” tentang kehidupan material dan
spiritual, di samping menghidangkan berbagai menu pemupuk dan penggembur
kehidupan masyarakat secara universal. Renungan-renungan dimaksud telah
menghadirkan sebuah interaksi sosial dan menjadi proses saling memengaruhi di
antara dua orang atau lebih dalam bentuk relasi, komunikasi, daan kontak
sosial. Karya sastra dapat pula merupakan jalan tengah menuju keseimbangan yang
dinamis antara dorongan batin dengan dorongan masyarakat, obsesi dan persuasi.
Namun, karya
sastra sebagai teks hanyalah jejak (trace), bekas telapak kaki, di
dalamnya pembaca harus menemukan manusianya, demikian ungkap Derrida. Jejak
bukanlah makna itu sendiri, jejak hanyalah mediasi antara kehadiran dan
ketidakhadiran, antara yang tertinggal dengan yang harus dicari. Pembacalah
yang harus mencarinya, bukan penulis. Di sanalah eksistensi pengarang ditemukan
sebagai subjek kreator, yakni kesadaran dan ketidaksadaran. Aspek yang tertulis
adalah kesadaran, dan aspek yang tidak tertulis adalah ketidaksadaran, ibarat
metafora gunung es, yang menjadi aspek yang jauh lebih luas, dalam dan beragam.
Dengan kata lain, unsur-unsur di luar bahasalah yang lebih kaya yang dapat
dilipatgandakan sehingga menghasilkan sebuah analisis dan pemahaman yang
komperhensif jauh melampaui karya yang dihasilkan oleh pengarang. Ini dilandasi
oleh pemikiran bahwa sastra bukan merupakan sebuah ilmu pasti yang sekali baca
langsung dipahami, namun sastra merupakan karya interpretatif yang menyajikan
sekian banyak kemungkinan penyelesaian persoalan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dan, tuangan karya interpretatif dalam antologi ini merupakan wujud kepedulian para siswa kita yang adalah bagian dari
anggota masyarakat terhadap sesama dan menjadi sarana interaksi sastra untuk
membangun masyarakat ke arah yang lebih baik.
Kehadiran antologi ini sekaligus disertai dengan sebuah
harapan yang sama bahwa akan lahir lagi karya-karya sastra yang lain dari
anak-anak bangsa, terutama anak-anak Flores Lembata. Mudah-mudahan antologi ini
dapat memberikan sesuatu yang lain dalam kehidupan para pembaca. *
Selamat membaca!
[1]
“Wajah Indonesia, Wajah Kita Semua” dalam Antologi Cerpen Siswa SMA
Flores Lembata. (Yohanes Sehandi, dkk. Ed). Yogyakarta: Penerbit dan
Percetakan Aditya Media Yogyakarta. ISBN: 978-602-7957-41-1
[2] Pengasuh mata kuliah
Sosiolinguistik pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Flores
Nasionalisme dan Harmonisasi
Mengenang Sumpah Pemuda yang ke 84 (28 Oktober 2012), anak-anak muda (pemuda) pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores menggelar beberapa kegiatan: lomba debat, lomba pidato, lomba membuat mading, dan lomba menulis dan membaca puisi bagi siswa sekolah dasar se-kota Ende. Beberapa bentuk revitalisasi peran pemuda yang coba dikerjakan untuk orang-orang di sekitarnya. Pemuda adalah harapan dan tulang punggung bangsa, merupakan terminologi yang sarat makna. Sebuah kebanggaan yang menghentak seraya membangunkan kesadaran kolektif pemuda bahwa kita sesungguhnya berpijak di atas tanah dan rahim ibu yang sama. Oleh sebab itu, gerakan kepemudaan yang ditandai dengan ikhrar Sumpah Pemuda 84 tahun silam telah memberikan sebuah format stimulasi pembaharuan dari prosesi pencarian kesadaran akan harga diri anak bangsa yang dipasung akibat ketakberdayaan politik hutang budi penjajah.
Dalam
semangat, kesadaran dan idealisme tersebut, ada signifikansi konkrit yang
muncul sebagai implementasi daya kecerdasan dan relevansi sosial, melalui kecerdasan mengelola perubahan dan relevansi untuk menjaga
persatuan dan kesatuan bangsa agar tetap teguh dan eksis berdiri di atas + 500
etnik yang menyebar pada +1377 pulau di Nusantara ini. Ruang kesadaran demikian
tertanam dalam relung terdalam anak-anak kita. Mereka penerus ruang kesadaran
yang sama dari orang-orang di sekitarnya. Ruang kesadaran yang sama inilah yang
kemudian memungkinkan mereka untuk mengalami nasionalisme dan simpati yang
dalam terhadap sebuah bangsa. Dengan demikian, mereka diharapkan untuk tidak
terjerat dalam keganasan dan apatisme kolektif yang bernuansa kelompokisme,
sekretarianisme, dan lain-lain.
Atas
pertimbangan tersebut, program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas
Flores mengambil peran dalam pembangunan watak anak bangsa melalui menulis
puisi. Hasil atas peran dimaksud mewujud dalam bentuk buku Antologi Puisi
Anak yang sedang ada di tangan Anda ini.
***
Buku Antologi
Puisi Anak melukiskan rasa nasionalisme akan Bumi Pertiwi terhadap tanah
air, alam, dan budaya bangsa Indonesia. Lukisan-lukisan anak-anak dalam
puisi-puisi ini telah menghentak sekaligus membangunkan kita menuju sebuah
ruang kesadaran baru, sambil mengajak kita untuk berempati akan situasi kronis
bangsa ini. Namun, itulah seorang anak, mereka tetap dan bertahan bernarasi
dalam sebuah piranti waktu yang riang, santai, tapi dalam. Tampil dengan gaya
bercerita dengan pilihan kata yang denotatif dan kontekstual menandai keaslian
memperhensi keseharian mereka. Itulah dunia anak yang nyata tanpa basa-basi.
Sebuah imajinasi nasionalisme yang utuh
dari anak-anak ini. Bagi saya inilah nasionalisme yang sesungguhnya.
Nasionalisme yang bening, jernih. Lahir dari kesungguhan hati, kebeningan
nurani dan jiwa raganya akan sebuah nama: Indonesia. Tempatnya dan orang-orang
di sekitar dia membumi. Inilah fakta faktual kecintaan mereka yang berani
mempertaruhkan dan mengabdi pada Bumi Pertiwi. Bukan nasionalisme
setengah-setengah atau setengah hati. Spirit, vitalitas, dan kesungguhan untuk
berada dan mencintai Indonesia. Bukan basa-basi. Bukan pameran vulgar
verbalistik yang bopeng, keropos, dan eufemistik. Sebagaimana yang kita amati
akhir-akhir ini.
Walau
diterpa dan dibombardir berbagai penyakit akut sosial, penebangan hutan,
pembakaran hutan, perambahan hutan, eksploitasi hutan oleh kaum kapitalis,
Indonesia tetap menjadi Indonesia mereka. Begitulah dunia anak. Dunia tanpa
dusta. Dunia jujur. Bening. Tenteram tanpa konflik. Lugas, bebas bermain ke
sana-ke mari tanpa henti, apalagi takut disihir berbagai napsu birahi berbagai
konflik interest manusia edan Indonesia. Keprihatinan santun terus
membuncah mengajaknya menukil sekali lagi realitas ‘praktik orang besar’
Indonesia yang apatis akan ketercerabutan budaya bangsa yang gemah santun dan
toleran, hukum yang karut-marut, harga-harga barang yang meroket, dalam
baris-baris optimisme tegak seraya mengajak sekalian anak untuk tetap mencintai
Indonesia.
Buku Antologi
Puisi Anak juga menghadirkan sebuah harmonisasi. Nasionalisme dan
harmonisasi merupakan dua hal yang jauh dan sangat berbeda. Namun, dalam
konteks dunia anak, mampu dielaborasi menjadi satu-kesatuan yang kohesif dan
terpadu. Letupan dan ekspresi-ekspresi imajiner yang terungkap dalam
puisi-puisi anak ini boleh jadi merupakan pengalaman mimetik mereka untuk ada
bersama dalam sebuah proses kultural yang sama. Proses kultural bagi dunia anak
merupakan proses murni tanpa artifisial. Dalam dunia inilah mereka membangun
relasi dan interaksi yang selaras dan harmonis. Mereka belajar berbudaya
sekaligus belajar memelihara ketenangan hidup. Memelihara ketenangan hidup
dengan Tuhan, menjaga hubungan baik dengan diri dan sesama, dan memelihara
hubungan harmonis dengan alam lingkungannya. Oleh karena itu, buku Antologi
Puisi Anak, yang sedang ada di tangan para pembaca ini, sedapat mungkin
menjadi cermin bagi pembaca dan masyarakat kita untuk sekali lagi berkaca
tentang nasionalisme dan harmonisasi.
Akhirnya,
saya mengucapkan terima kasih kepada para staf dosen di Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores, yang telah menggagas
dan ikut serta dalam kegiatan penilaian hingga terbitnya buku ini. Rasa bangga
juga saya ucapkan kepada para kepala sekolah dan guru bidang studi Bahasa
Indonesia se-Kota Ende yang telah terlibat aktif dalam mendorong dan membimbing
para siswa dalam menulis puisi. Kepada Pemimpin Umum Penerbit Nusa Indah Ende
yang telah bersedia menerbitkan buku Antologi Puisi Anak ini, saya
ucapkan terima kasih.
Mudah-mudahan
buku kecil, karya anak-anak kita ini mendapat apresiasi luas dari kalangan
pembaca di Flores dan Nusa Tenggara Timur. Secara khusus, menjadi langkah awal
merangsang daya anak dalam mencipta karya sastra sebagai wahana penghalus budi
dan rasa. Atas maksud yang sama, kehadiran buku Antologi Puisi Anak dapat
memperkaya daftar referensi sastra Anda sekaligus menjadi salah satu sumber
pembelajaran sastra di sekolah. *
Selamat
membaca!
Ende, Tengah Februari
2013
[1] “Nasionalisasi dan Harmonisasi” dalam Antologi
Puisi Anak Se Kota Ende. (Imelda Oliva Wissang, dkk. Ed). Ende: Nusa Indah.
ISBN: 979-429-331-8—(2013)
[2] Pengasuh
mata kuliah Sosiolinguistik pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Flores
Menjadi Guru yang Jurnalis
Kemajuan yang semakin pesat di satu pihak, menghadirkan
tuntutan yang juga dirasakan kian kompetitif di pihak yang lain.
Setidak-tidaknya, Anda yang calon guru ini “dituntut” untuk saling berkompetisi
secara terbuka berdasarkan kompetensi dan kemampuan yang Anda miliki. Menurut saya kompetensi yang patut Anda miliki, selain menjadi guru adalah
menjadi jurnalis. Guru yang jurnalis, dan jurnalis yang menjadi guru. Harapan
demikian dilontarkan oleh Kepala Lembaga Publikasi Universitas Flores Alexander
Bala Gawen, ketika tampil menjadi narasumber pada pelatihan jurnalistik yang
dielenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Faklutas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor), Jumad, 9 Desember 2016,
bertempat di Aula Kampus 4 Uniflor.
Mulailah dengan merubah kebiasaan dan cara pandang. Memang
tidak mudah bagi seseorang dapat merubah kebiasaan atau kultur, lebih-lebih
kebiasaan yang kurang bagus. Merubah mindset (cara pikir, cara pandang).
Diperlukan keberanian ekstra untuk usaha merubah kebiasaan jelek. Satu contoh
di masyarakat kita tumbuh kultur jam karet (sering terlambat, molor, menunggu
teman, cepat puas dengan apa yang ada, putus asa) kurang disiplin dan kurangnya
penghargaan terhadap waktu. Tidak heran bila ada satu orang mencoba tepat
waktu, maka akan banyak komentar dari sekelilingnya. Namun, bagi Anda yang mau
maju ikutilah hal ini. Niscaya, Anda berhasil.
Subyek Kreator
Dalam konteks ini, menurut Alex, mahasiswa sebagai subyek “kreator” mesti terus berusaha,
mencipta, memodifikasi segala sesuatu agar bisa menemukannya. Bicara, omong
atau bertutur saja tidak cukup. Akan menguap begitu saja. Alangkah lebih bijak
Anda mesti menguasainya secara berimbang: “omong oke, tulis pun oke”. Dengan
demikian, daya, kemampuan, dan potensi yang ada pada diri Anda mesti
dieksplorasi. Tinggalkan sikap malas dan “nrimo”, menerima saja nasib.
Selalu berpikir positif. Buang jauh-jauh pikiran-pikiran yang membelenggu diri.
Jadilah Anda kaum intelektual—cendikia yang bermartabat. Setia pada pilihan
pekerjaan Anda. Kendati menjadi GURU. Guru yang Jurnalis. (@bg).
[1] Disampaikan pada pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor), Jumad, 9
Desember 2016, bertempat di Aula Kampus 4 Uniflor.
Langganan:
Postingan (Atom)




