Halaman

Selasa, 14 Maret 2023

Pementasan Drama Teka Iku

 

Sabtu, 09 Januari 2021 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Flores menyelenggarakan pentas drama cerita rakyat dari Kabupaten Sikka yang berjudul Teka Iku. Drama yang dipentaskan oleh mahasiswa semester V bertempat di Anjungan PBSI Uniflor.

 “Saya memberi apresisasi yang setinggi- tingginya kepada mahasiswa semester V untuk perjuangan sampai pementasan. Banyak kendala dari proses latihan sampai pementasan, namun kuasa Tuhan dan leluhur acara ini berlangsung luar biasa. Beberapa hal positif yang diungkapkan oleh Kaprodi PBSI Dr. Drs. Yosef Demon Bataona, M.Hum., Pertama,  background yang sederhana namun akting dari masing-masing pemeran sangat luar biasa menjadikan panggunannya hidup, kedua, masing-masing pemeran menjiwai perannya, ketiga, busana daerah yang natural, keempat, tata musik dan lampu sangat bagus, namun sedikit redup, yang membuat suasana sedikit gelap dengan latar kain hitam, tetapi semangat benar-benar luar biasa, dan kelima, peran sutradara sangat luar biasa dalam memadu berbagai karakter pemain menjadi utuh.

Drama Teka Iku mengisahkan tentang rakyat kecil yang dijajah, diperas, dipaksa, dan diwajibkan membayar pajak kelapa tiap pohon empat buah tiap tiga bulan. Selama satu tahun 16 buah dan harus dihantar ke pesisir untuk ditanam, dirawat, demi kepentingan Ratu Negeri Belanda dan para raja/ratu tawa tana. Teka Iku muak atas perbuatan dan tingkah laku penjajah yang dijuluki Ata Bura Pikut Saan bersama para penjilat yang juga dikatakan anjing belang penjilat (ahu kela lea tai).

Pementasan drama yang dilakukan sangat bagus. Selama kurang lebih 2 bulan berlatih, mahasiswa mampu menampilkan pementasan yang meriah seperti ini. Apresiasi dari bapak/ ibu dosen pun luar biasa. Saya dapat melihat dan merasakannya ketika mereka sedang berlatih, kerja sama dan rasa kekeluargaan yang sangat erat itu terbangun, dari sutradara dan tim pemain atau pemeran. Pementasan drama dapat memberikan kontribusi nilai hidup terhadap mahasiswa dalam kehidupannya sehari- hari. Dalam ranah pembelajaran drama dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan kepandaian, misalnya dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, kesusastraan, bersifat permainan, memberikan pengertian baru, berlatih gerak, menyanyi, menyesuaikan kata dengan pikiran, rasa, kemauan dan mengajarkan adat sopan santun, demikan Ibu Encys, pengampu dan pelatih drama Teka Iku.  “Semoga kegiatan ini bisa dikemas lebih menarik untuk menjadi nilai jual prodi ke depan”, harap Eta Larasati, dosen PBSI Ende. (Tim Lota PBSI).

 

LOTA: Wahana Memaknai Keberagaman

 

Bahasa dan budaya adalah dua sistem yang melekat. Bahasa adalah sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi, sedangkan budaya adalah sistem yang mengatur interaksi itu sendiriBudaya tidak saja berwujud benda atau fisik yang dapat diindrai, melainkan berwujud gagasan yang bersifat abstrak berupa suprastruktur ideologis, gagasan atau konsep-konsep. Bahkan, berwujud perilaku atau sistem sosial yang bersifat konkrit menyangkut sistem-sistem yang sudah dilaksanakan atau diterapkan dalam masyarakat. Jadi, kebudayaan adalah proses dan produk pikiran, perasaan, dan perilaku manusia, hasil pengalaman manusia dengan diri, masyarakat, dan alam kosmos.

Kata drama berasal dari bahasa Yunani yaitu draomai yang berarti bertindak, berbuat. Secara ringkas drama didefinisikan sebagai suatu jenis karya sastra yang menggambarkan suatu kehidupan atau kisah, watak, serta tingkah laku manusia melalui gerakan dan dialog yang dipentaskan di atas panggung dalam beberapa babak. Pementasan naskah drama demikian dikenal dengan sebutan teater. Kisah yang ditulis di dalam naskah drama memiliki ragam emosi dan konflik yang khusus diciptakan untuk pementasan teater. Terdapat berbagai cerita rakyat di Flores Lembata yang dapat ditransformasi menjadi naskah drama. Cerita rakyat Teka Iku dari etnik Sikka Maumere adalah salah satu dari aneka cerita rakyat tersebut. Transformasi cerita rakyat ke dalam naskah drama menjadi solusi dan alternatif pembelajaran sastra di sekolah. Selain memperkenalkan sebaran cerita rakyat di Flores Lembata, langkah ini bertujuan untuk menanamkan sikap, dedikasi, dan loyalitas peserta didik terhadap lokalitas setempat. Tentu termasuk menanamkan budi pekerti dan akhlak.

Nilai-nilai lain, seperti pengorbanan, gotong royang, setia kawan, solidaritas, dan keberanian yang menjadi ciri khas masyarakat kita dicuatkan kembali kepada generasi muda. Setidak-tidaknya nilai-nilai tersebut dibaca sebagai modal sosial kolektif sekaligus modal kultural untuk perlu dihidupi secara bersama-sama dalm komunitas dan guyub etnik tertentu. Drama Teka Iku, misalnya menorah jejak historis yang bergayut dengan kehidupan hari ini. Bahwa tokoh Teka Iku adalah representasi keberanian pada umumnya masyarakat kita menghadapi imperealisme penjajah. Drama Teka Iku mengisahkan tentang rakyat kecil yang dijajah, diperas, dipaksa, dan diwajibkan membayar pajak kelapa tiap pohon empat buah tiap tiga bulan. Selama satu tahun 16 buah dan harus dihantar ke pesisir untuk ditanam, dirawat, demi kepentingan Ratu Negeri Belanda dan para raja/ratu tawa tana. Teka Iku muak atas perbuatan dan tingkah laku penjajah yang dijuluki Ata Bura Pikut Saan bersama para penjilat yang juga dikatakan anjing belang penjilat (ahu kela lea tai)

Di titik ini, kita berharap para siswa yang adalah generasi muda perlu menghayati, terutama menginternalisasi sikap dan nilai-nilai kepahlawanan tokoh Teka Iku, juga tokoh-tokoh sejarah lainnya di daerah ini dalam merajut dan membangun masyarakat agar sejahtera. Lota adalah produk pikiran komunitas etnik Ende yang digunakan sebagai wahana, wadah, atau sarana menyampaikan dan menerima maksud orang lain. Tentu dalam interaksi menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Lota dipilih sebagai nama Bulanan LOTA PBSI sekali lagi untuk mempertegas jati diri keetnikan kita. Ini cuma salah satu contoh untuk menegaskan bahwa setiap etnik yang ada dan hidup di Flores Lembata punya kekhasan identitas yang perlu digali untuk memperkaya jagat kebudayaan kita sekaligus memaknai keberagaman Indonesia. (*),

 


Senin, 13 Maret 2023

Metode Berbicara di Depan Umum

 


Berbicara di depan umum (public speaking) menghendaki penguasaan bahasa yang runtut, sistematis, dan lancar. Selain itu, persyaratan lain yang  perlu diperhatikan, misalnya keberanian, ketenangan sikap, pandangan menyeluruh ke pesertagerak-gerik yang luwes dan tidak kaku dan cemas, serta urutan penyampaian gagasan yang teratur.

Sebenarnya, persiapan yang dilakukan antara penyajian lisan dan penyajian tulis memiliki banyak kesamaan. Perbedaan mendasar keduanya dalam hal ini, yaitu (1) penyajian lisan mengutamakan gerak-gerik, sikap, hubungan langsung dengan hadirin, sedangkan komposisi tertulis tidak demikian, dan (2) penyajian lisan tidak ada kebebasan bagi pendengar untuk memilih bahan mana yang harus didahulukan dan bahan mana yang dapat diabaikan. Pendengar harus mendengar seluruh sajian dari pembicara, dan dalam penyajian tulis pembaca bebas memilih mana yang dianggap menarik, dan bagian lain ditunda atau diabaikan (Keraf, 2004: 359).

Metode Berbicara di Depan Umum

Jenis-jenis public speaking atau penyajian lisan, di antaranya pidato, ceramah, orasi, presentasi, menjadi pemateri diskusi, mengajar di kelas, memberikan briefing, memandu acara: Master of Ceremony/Pembawa Acara/Host), dan memimpin rapat atau berbicara dalam rapat. Dari segi metode atau cara penyajian lisan, dikenal empat metode public speaking (Keraf,  2004: 359–361) sebagai berikut.

1)      Ad Libitum/Impromptu, yakni public speaking secara mendadak, tanpa persiapan. Dalam dunia siaran, Ad Libitum artinya berbicara tanpa naskah (script).

2)      Manuscript/Reading Complete Text, yakni public speaking dengan cara membaca naskah pidato yang sudah disiapkan. Biasanya dilakukan pejabat negara atau mereka yang memberi sambutan di acara remi/formal.

3)      Memoriter/Memorizing, yakni public speaking dengan menyampaikan hafalan naskah pidato.

4)      Ekstempore/Using Note, yakni public speaking dengan bantuan catatan, pointer, garis besar materi (outline), atau slide materi yang ditayangkan di layar melalui infocus atau LCD Projector.

Cara public speaking "Using Note" dipandang sebagai cara public speaking terbaik karena bebas berimprovisasi, menjaga kontak mata, lebih komunikatif, dan pembicaraan "terkendali" dengan sistematika materi yang dibuat dalam catatan/makalah/slide. (*)

Jumat, 10 Maret 2023

Bhinneka Tunggal Ika: Estetika Keindahan Berbangsa

 


Bhinneka Tunggal Ika merupakan simbol kemajemukan atau keragaman bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Kemajemukan ini perlu diapresiasi sebagai kekayaan dalam memperkuat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita bangun bersama ini. Fakta kemajemukan Bhinneka Tunggal Ika, semboyan bangsa yang terwaris sejak Kerajaan Majapahit pada abad XV dalam Sutasoma, diakui sebagai Adicita (ideology) perekat bangsa Indonesia yang multietnik. Menurut kami, simbol-simbol kebangsaan ini juga adalah sebuah estetika keindahan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Disadari atau tidak, bangsa dengan aneka kekayaannya, termasuk soal budaya harus dimanfaatkan sebagai sumber daya, energi, dan modal sosial-kultural pembangunan bangsa. Tidak sekadar ergon, sebuah hasil perbuatan, melainkan juga sebagai energia, kekuatan, tenaga, yang aktif dan dinamis. Dalam konteks ini, kebhinekaan menjadi energia histories, motivasi yang telah menghantar manusia bangsa ini mengalami proses peradaban yang lebih modern. Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang multietnik dan multilingual, anggota masyarakatnya mesti hadir sebagai “rawi” sekaligus “ragi”. Sebagai “rawi” penggembur ladang Indonesia yang luas dan lapang. Merawi peradaban budaya dengan lurus dan ikhlas. Sebagai “ragi” merekat relasi-relasi kemanusiaan secara adil, berimbang, serasi, dan merata antaretnik dan guyub kultur.

Proses penguatan ini perlu direkat kuat-kuat pada masa yang akandatang ketika kecenderungan diperhadapkan pada krisis-krisis dan tantangan-tantangan terhadap bangsa, sesama, dan alam raya. Proses peradaban ini perlu diusahakan terus-menerus sehingga secara kolektivitas anggota-anggota masyarakat perajut kebudayaan semakin manusiawi dalam struktur masyarakat dan negara untuk saling menghormati, harkat dan martabat sebagai manusia yang bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Sebuah rentang dan ruang waktu peradaban yang humanis untuk teguh berdiri dan berjalan di atas nilai-nilai kemanusiaan yang majemuk. Toynbee melukiskan rentang dan ruang peradaban ini sebagai rise and fall (Sutrisno, 2005:61). Ruang dan rentang jatuh-bangun manusia sebagai pewaris kebudayaan yang terus berusaha menentukan peradaban atas kebudayaannya sendiri secara baik.

Sebagai anggota masyarakat budaya kita bertanggung jawab membangun pribadi keinsanan individu, dan memupuk kehalusan adab dan budi agar menjadi masyarakat yang berperadaban dan berperilaku luhur sebagai anggota komunitas. Agar nilai-nilai kristalisasi bangsa ini dapat berfaedah demi menempah hati yang keras menjadi halus, tidak sopan menjadi sopan, tidak menghargai menjadi menghargai, buruk menjadi baik, lembut dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Memiliki perasaan, kepekaan dan sensitivitas kemanusiaan yang tinggi, sehingga terhindar dari tindakan-tindakan yang destruktif, sempit, kerdil dan picik. Mari mempertebal rasa kebangsaan, dan menghindari erosi kebangsaan melalui jalan budaya.

Bangsa Indonesia yang satu hanya bisa menatap masa depan yang cerah dan beradab kalau ia dengan rendah hati berdamai dengan kekelaman masa lampau sambil berdoa kepada Tuhan Sumber Kehidupan. Manusia Indonesia perlu mengembangkan humanitas diri pada setiap individu (Endraswara, 2017:1). Humanitas yang dimaksudakan di sini berkenaan dengan sesuatu yang inheren, melekat pada setiap individu. Ibarat cinta, manusia Indonesia secara terus-menerus merawat dan memupuk cinta akan bangsa tercinta ini. Jalan pendidikan menjadi salah satu jalan yang paling relevan untuk pembibitan dan internalisasi nilai-nilai kehidupan bagi generasi masa depan. Ini berarti untuk merawat persatuan dan kesatuan negara ini setiap warga mulai dari pejabat sampai rakyat kecil atau akar rumput wajib saling mendengarkan, menghindarkan diri dari kebohongan lewat media sosial, lalu saling mengampuni setelah bertobat dari dosa dan kesalahan yang dilakukan. Tindakan ini dilakukan bukan saja oleh mereka yang masih hidup, bahkan mereka yang sudah matipun turut terlibat di dalamnya.

Ini berarti, fakta perbedaan yang ada dalam ruang besar bangsa Indonesia, jangan dijadikan sebagai penghalang dan penghambat dalam upaya mencapai kesejahteraan dan kemaslahatan seluruh masyarakat Indonesia. Jika, generasi muda, mahasiswa, dan kaum milenial betul-betul meresapi dan menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan yang termaktum dalam pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (Sekretariat Jenderal MPR RI: 2012), maka perbedaan-perbedaan yang ada menjadi pilar penyanggah dalam merayakan keragaman entitas yang ada dalam bangsa yang sama-sama kita cintai ini. (*)

Kamis, 09 Maret 2023

Trend Pembelajaran: Dari Behaviorisme ke Konstruktivisme

 
Tren atau gaya mutakhir (KBBI, 2003) mempersyaratkan bahwa guru sebagai instrumental input, bahkan sutradara kelas harus ‘selalu’ mengorkestrasi kelas mengikuti gaya mutakhir pembelajaran. Syarat ini merupakan prioritas agar dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pembelajaran di kelas guru lebih siap dan matang dalam hal merancang persiapan, pemilihan bahan, metode, maupun parameter evaluasi untuk mengukur derajat keberhasilan (ketuntasan: KTSP) siswa dalam belajar. Untuk itu, demi sepadannya pemberian tunjangan yang cukup memadai di atas, adapun tuntutan yang diberikan kepada guru, yakni dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban: merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran, sebagaimana diamanatkan Pasal 20. 
Sharing dan transaksi informasi pembelajaran ini akan saya gunakan sebaik mungkin untuk membagikan kepada Bapak/Ibu, sedikit tentang tren pembelajaran itu. Tren pembelajaran yang saya sharingkan pada kesempatan ini berkecenderungan pada tren pembelajaran kontekstual
1.        `Kecenderungan Pemikiran Tentang Belajar
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.

1)        Proses Belajar

o    Belajar tidak sekedar menghafal, namun mengkonstruksi pengetahuan.

o    Anak belajar dari mengalami, bukan diberi begitu saja oleh guru.
o    Pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman tentang sesuatu persoalan (subject matter).
o    Pengetahuan tidak dapat dipisahkan menjadi fakta-fakta, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan, sehingga siswa dibiasakan memecahkan masalah.
o    Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Untuk itu, strategi belajar yang salah dan terus dipajankan akan mempengaruhi struktur otak, dan cara seseorang berperilaku.

2)        Transfer Belajar

o    Anak belajar dari mengalami, sendiri bukan pemberian orang lain.

o    Keterampilan dan pengetahuan diperluas dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit (sedikit-sedikit jadi bukit).
o    Penting bagi siswa tahu, untuk apa dia belajar, dan bagaimana dia menggunakan pengetahuan dan keterampilan tersebut.

3)        Siswa sebagai Pembelajar

o    Seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru. Jadi, Strategi belajar sangat penting.

o    Peran guru (orang dewasa) mengubungkan antara yang baru dengan yang sudah diketahui, sehingga tugas guru adalah memfasilitasi, agar informasi baru bermakna, guru sebagai sutradara.

4)        Pentingnya Lingkungan Belajar

o    Belajar efektif dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa: dari guru akting ke siswa akting.

o    Umpan balik penting bagi siswa, yang berasal dari penilaian yang benar.
o    Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok.
 2.        Kecenderungan Belajar yang Konstruktivistik
Menurut Zahorik (dalam Nurhadi,2009: 7) mengemukakan lima elemen belajar yang konstrutivistik. Lima elemen ini hendaknya diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual.
(1)     Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge ).
(2)     Pemerolehan pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara saksama keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya (acquiring knowledge).
(3) Pemahaman pengetahuan dengan cara menyusun hipotesis, melakukan sharing agar mendapat tanggapan (validasi), dan revisi konsep dan dikembangkan (understanding knowledge ).
(4)     Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
(5) Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut (reflecting knowledge).

3.        Kecenderungan Dengan Pembelajaran Kontekstual

Pertama, Konstruktivisme (constructivism)

Siswa dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi, bukan menerima pengetahuan. Pandangan konstruktivis, “strategi” memperoleh lebih diutamakan, dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan; (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka dalam belajar.

Kedua, Menemukan (Inquiry)

Inquiry merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang akan diajarkannya. Siklus inkuiri adalah:  (1) observasi (observation); (2) bertanya (questioning; (3) mengajukan dugaan (hiphotesis; (4) pengumpulan data (data gathering); dan penyimpulan (conclusion).

(1)     Merumuskan masalah.
Merumuskan masalah dapat dilakukan melalui mengamati atau melakukan observasi dengan: (a) membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi; dan (b) mengamati dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati
(2)     Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.
Bertujuan untuk mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiens dengan cara: (a) bertanya jawab dengan teman; (b) memunculkan ide-ide baru; (c) melakukan refleksi; dan (d) menempelkan karya di dinding kelas, majalah sekolah, dsb.
Ketiga, Bertanya (questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya. Bertanya (questioning) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Kegiatan bertanya dipandang sebagai kegiatan untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Questioning dapat diterapkan di kelas antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dsb.

 Keempat, Masyarakat Belajar (Learning Community)

Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Dua orang anak dapat membentuk learning community. Hasil belajar dapat diperoleh melalui sharing, antara teman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Di mana saja: di ruang ini, di kelas ini, di sekolah ini, di sekitar ini, atau orang-orang yang ada di luar sana, semuanya adalah anggota masyarakat belajar.

Masyarakat-belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah. Seorang guru yang mengajari siswanya, bukan contoh masyarakat belajar, karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yakni informasi hanya datang dari guru ke siswa. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat pembelajaran saling belajar. Saling belajar terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, melainkan semua pihak saling mendengarkan.

Kelima, Pemodelan (Modelling)

Modelling maksudnya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model ini bisa berupa cara mengoperasikan komputer, cara menendang bola, cara malafalkan bahasa Inggris, cara menulis karya ilmiah, dan sebagainya. Secara sederhana, ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Perlu diingat bahwa dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Di sini, siswa dikatakan sebagai model, namun, model juga bisa didatangkan dari luar.

Keenam, Refleksi (Reflection)

Reflection merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

Ketujuh, Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai  data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Data yang demikian disebut data autentik.

Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya salah satunya. Itulah hakikat penilaian yang sebenarnya. Namun, perlu dibedakan bahwa, penilaian (assessment) merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian dan kemajuan belajar siswa, baik perseorangan maupun. Penilaian (evaluasi) merupakan kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan suatu sistem pendidikan nasional (PBK, 2002: 3). (*)







Langkah-langkah kegiatan menemukan (inquiry) sebagai berikut.

Rabu, 08 Maret 2023

Kiat Menyediakan Pangan di NTT secara Berkesinambungan



Kondisi pertanian lahan kering di NTT sangat menjanjikan. Jika diolah secara terintegrasi, maka akan menjadi lumbung penyedia pangan lokal yang berkesinambungan. Model pengelolaan lahan secara integratif juga menjamin ketersediaan tanaman-tanaman obat dan tanaman-tanaman lokal lainnya yang menjadi kekhasan etnik. Dengan demikian, masyarakat dapat menangkal krisis pangan dan ancaman wabah atau penyakit dengan ketersediaan pangan dan ketercukupan tanaman obat tradisional yang mengandung nutrizi, nilai-nilai sosial kemasyarakatan, dan kekebalan tubuh.

Berdasarkan pengantar tema yang saya tuliskan di atas, berikut ini saya kemukakan tiga usul saran.

1.    Memasuki musim tanam tahun ini, gerakan menanam tanaman, tidak hanya tanaman pangan, tetapi juga berbagai tanaman obat tradisional, seperti tanaman jenis eukaliptus yang pernah direkomendasikan pemerintah semenjak Covid-19. Perlu diikuti dengan sosialisasi dan pendampingan yang menyeluruh melibatkan berbagai unsur masyarakat, seperti kepala desa, unsur RT, RW, pelajar, mahasiswa, pemuda mesjid, OMK, karang taruna, PKK, guru, dan berbagai jenis organisasi lainnya di masyarakat. Untuk di kota dihidupkan kembali program pekarangan apotik di halaman rumah atau lingkungan RT. Dengan begitu, masyarakat tidak menggantungkan diri pada jenis obat kimia, namun kembali ke alam. Ada proteksi diri dari mayarakat terhadap serangan penyakit dari luar. Jika ketersediaan pangan memadai, maka mobilisasi orang ke luar daerah pun akan semakin kecil.

2.    Perilaku hidup sehat dilaksanakan dengan cara saling mengingatkan di antara warga untuk bahu-membahu, gotong royong melalui kerja bakti membersihkan selokan, lorong, membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan pekarangan. Modal-modal sosial kultural ini, akhir-akhir ini telah “tergerus” karena ketergantungan masyarakat terhadap berbagai bantuan sosial, termasuk kepedulian instansi atau lembaga-lembaga pemerintahan, swasta, maupun lembaga pendidikan membersihkan tempat-tempat umum.

Literasi berbagai kebijakan pemerintah tentang pola tanam terintegrasi dan perilaku hidup sehat, bahkan penanganan wabah atau penyakit, termasuk Covid-19 disampaikan dalam bahasa yang ringkas, padat, dengan menggunakan bahasa daerah setempat. Karena bahasa daerah dianggap lebih “bertenaga” dan lebih cepat dipahami oleh kelompok atau komunitas-komunitas tertentu. Pemerintah bertugas memantau dan mengevaluasi secara berkala melalui pemerintah desa atau kelurahan. (*)

Pronomina Persona Jamak dalam Bahasa Indonesia dan Hubungannya dengan Nasionalisme Berbangsa

 


Bahasa Indonesia mengenal beberapa macam pronomina persona jamak. Ada dua macam pronomina persona jamak orang pertama, yakni kita dan kami. Bahasa-bahasa fleksi pada umumnya hanya satu macam. Misalnya, we (bahasa Inggris), nos-nobis (bahasa Latin). Kami bersifat eksklusif, artinya pronomina itu mencakup pembicara/penulis atau pendengar atau pembaca di pihaknya, tetapi tidak mencakupi orang lain di pihak pendengar atau pembacanya. Sebaliknya, kita bersifat inklusif, artinya pronomina itu mencakup tidak saja pembicara atau penulis tetapi juga pendengar atau pembaca, dan mungkin juga pihak lain (Alwi, 2003: 249).

Masyarakat Indonesia memiliki banyak variasi pemakaian kata kamu. Berdasarkan umur, orang lebih muda usianya akan menunjukkan rasa hormat kepada mereka yang lebih tua. Penyapa yang berusia muda akan menggunakan kata Bapak atau Ibu terhadap yang lebih tua. Sedangkan, yang lebih tua akan menyapa yang muda dengan kata kamu. Demikian pula yang terjadi dalam strata sosial. Seorang pegawai tak akan menyapa atasannya dengan kata kamu; sebaliknya atasannya akan menyapa bawahannya dengan kata kamu. Kadang-kadang dalam situasi akrab, kata kamu dipakai bersamaan antara dua orang sahabat meskipun keduanya berbeda strata sosialnnya. Akan tetapi, dalam situasi formal, akan terjadi seperti di atas. Misalnya, antara guru dan siswanya.

Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. Pada umumnya kata mereka hanya dipakai untuk insan. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain. Misalnya, dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. Namun, dalam cerita fiksi atau narasi lain, kata mereka kadang-kadang dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Kata mereka dipakai untuk menyebut orang-orang di luar saya, kita, kami, dan kamu.

Agar lebih jelas, jika pernyataan atau uraian di atas diungkapkan dalam kalimat-kalimat supaya kita mudah melihat implikasinya.

(1)   Kami akan bergabung dengan kamu apabila tujuan perjuangan tersebut bermakna bagi kami.

(2)   Kita semua, masing-masing berbeda etnik, budaya, agama, dan bahasa tetapi apabila kita mau merdeka dan lepas dari penjajahan, kita perlu memiliki satu tanah air, kita harus berbangsa satu, dan memiliki bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia.

(3)   Kamu adalah orang-orang yang harus mengikuti kami, karena kami pemilik tanah ini.

(4)   Mereka adalah kelompok pinggiran sehingga tak perlu diperhatikan tuntutannya.

Implikasi kalimat-kalimat di atas cukup jelas bagi kita yang menyimaknya. Dalam masyarakat pluralistik akan mudah terjadi konflik jika komitmen untuk saling menerima tergeser oleh emosi-emosi sesaat dalam pernyataan-pernyataan yang menyesatkan.

Fokus penulisan ini ditujukan kepada sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia sejak praperjuangan, masa perebutan kemerdekaan sampai pascaproklamasi hingga sekarang.

Sementara itu bagaimana kita, kami, kamu, dan mereka, yakni masyarakat ‘akar rumput’ terlibat dan melibatkan diri dalam berinteraksi memperjuangkan kemerdekaan tersebut. Rakyat yang dalam keadaan buta huruf, tidak mengetahui tentang tujuan dan arah perjuangan, pola pandangannya dibatasi oleh kepentingan kelompok saja, dan mereka akan bersikap tidak mau tahu dengan perkembangan di luar dirinya. Oleh sebab itu, interaksi sosial yang diarahkan untuk melawan kaum imperialis hanya dilakukan oleh kita, kami, dan mereka golongan menengah saja. Hal ini dapat dibaca dalam buku Pramudya Ananta Tur, Roman Tetralogi Buru. Secara sngkat perjuangan tersebut baru berawal dan bermakna mulai dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Inilah dua pilar perjuangan yang menentukan nasionalisme kita bangsa Indonesia. Sementara menapaki dan melakoni hasil perjuangan tersebut untuk memberi makna kepada kemerdekaan yang sejati, para founding father merasa terganggu dengan munculnya berbagai silang pendapat antara para pemimpin tentang arah dan tujuan pembentukan Negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Kekitaan kolektif mulai terganggu dengan kekamian eksklusif. Dengan demikian, masalah yang dicermati dalam penulisan ini adalah apakah politik identitas atau kekamian eksklusif mengganggu kestabilan hasil perjuangan kekitaan kolektif yang dicanangkan sejak Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan 1945. 

Manfaat yang dapat disimak dari tulisan ini adalah sebagai masukan bagi kita sebagai bangsa yang merdeka, terutama generasi muda agar menghayati dan secara sadar mengamalkan nilai-nilai perjuangan generasi sebelumnya khususnya para founding fathers yang telah menggagas nasionalisme bagi bangsa Indonesia yang pluralistik. (*)